1. KAU LEBIH PANTAS
“Sorry, Jo. Gue nggak maksud nyakitin lo!
Tapi gue juga nggak bisa bohongin perasaan gue, kalo gue suka sama Della,” ucap
Ervan tertunduk. “Dan gue mau nikah sama Della setelah dia lulus.”
Perkataan
Ervan masih terngiang di kepalaku. Entah kenapa meski dia telah mengakui
hubungannya dengan Della beberapa bulan yang lalu, dan besok adalah acara
pernikahannya, tapi aku masih tak bisa melupakan perkataannya yang begitu
menusuk perasaanku.
Memang
kesalahanku sendiri yang tak bisa mengungkapkan perasaan kepada Della, hingga
akhirnya dia bertemu dengan pria idamannya. Tapi setidaknya, jika Della memang
bukan jodohku, kenapa harus Ervan yang menjadi suratan takdirnya? Sahabat
dekatku, yang juga mengetahui kalau aku memendam rasa kepada gadis itu. Tapi
dia dengan entengnya mengatakan bahwa dia akan menikah dengan Della.
Di sekolah
penuh kenangan ini, aku tersenyum sendiri mengenang masa-masa yang telah
kulalui bersama Della. Aku memang menyukai Della sejak masih sekolah dasar,
hingga saat kami mulai menjajaki kehidupan yang sebenarnya pun aku masih
menyukainya. Hanya satu hal yang tak kuketahui kalau ternyata Ervan juga memiliki
perasaan yang sama.
Namun
aku berusaha untuk menerimanya, bagaimana pun Della lebih pantas menjadi milik
Ervan, ketimbang aku, yang mengungkapkan perasaan saja tak berani. Seperti kata
orang, level tertinggi mencintai adalah merelakan dia menjadi milik orang lain,
apalagi jika orang itu sahabat sendiri. Aku pun berusaha menerima kenyataan
dengan lapang dada.
Aku
melihat sisi lain lapangan, kulihat Della yang juga berada di sekolah. Dengan
takut-takut aku mencoba berani mendekatinya. Melihat kedatanganku, dia
tersenyum dengan manisnya. Senyumannya kembali menggetarkan hatiku, mungkin aku
masih tak rela jika harus membiarkan dia menjadi milik orang lain.
Entah
sesuatu apa yang merasukiku, kupeluk gadis itu erat. Debaran jantungnya seolah
terasa olehku, dan seirama dengan debaran jantungku. Aku tahu perbuatanku ini
salah, tapi aku benar-benar ingin memeluk gadis yang kucintai ini untuk yang
pertama dan terakhir, sebagai salam perpisahan.
Aku
melepaskan pelukanku. Kulihat gadis itu dengan tatapan nanar. Tapi begitu
terkejutnya diriku ketika melihat matanya yang berlinang. Segera kuseka air
matanya dengan lembut.
“Maaf,
Del. Bukan maksud aku ngerusak momenmu besok. Tapi izinkan aku untuk bersikap
egois kali ini saja .... Aku bener-bener cinta dan sayang sama kamu, Del.
Terima kasih telah menjadi penyemangat hari-hariku di sekolah. Terima kasih
telah menjadi orang yang aku harapkan. Tapi ternyata kita memang tak
ditakdirkan untuk bersama ... semoga kamu bahagia sama Ervan.”
Della
menyeka air matanya, lalu menatapku sambil tersenyum dengan mata terpejam.
“Makasih, Jo.”
Aku
tersenyum balas tersenyum, menatap wanita yang begitu kucintai itu dengan penuh
arti, lalu pergi meninggalkan Della di sekolah penuh kenangan ini. Aku
melambaikan tangan padanya.
“Selamat
menempuh hidup baru, Della.”
***
2. KAU
YANG PERNAH DEKAT DENGANKU
Hai,
kamu yang dulu dekat denganku. Sudah berapa lama, ya, kita tidak bertemu? Ah,
tak penting diingat juga, karena mungkin kamu sudah melupakannya.
Tapi
tahukah kamu? Hingga saat ini, hingga detik ini, aku masih selalu mengingat
semua tentangmu. Kau yang dulu duduk di depanku, kau yang selalu tertawa
bersamaku, juga penyemangatku di sekolah. Aku masih mengingat setiap momen yang
kulalui bersamamu.
Walau
kau pernah meninggalkan goresan di hati yang membuatku cukup terluka. Tapi
setidaknya, aku memiliki cerita saat kau menolakku waktu itu. Kau mengajarkanku
arti penderitaan yang sesungguhnya dalam mengejar cinta.
Ya,
namamu akan selalu kukenang, sebagai sosok yang telah memberiku kenikmatan yang
teramat sangat saat aku patah hati. Kau bagaikan pahlawan yang mengajarkanku
ketabahan saat menderita luka dalam hati.
Sekarang,
ketika aku menemukanmu, itu pun di sosial media. Aku memberanikan diri mengirim
pesan kepadamu.
“Masih
inget aku, nggak?”
“Iya.”
Jawabanmu
yang singkat itu sudah cukup membuatku tahu kalau kau masih mengingatku, tanpa
harus bertele-tele.
Untukmu
yang dulu dekat denganku, meski kini kita seperti orang asing. Aku hanya ingin
kau tahu, kalau aku akan selalu mengenangmu sampai akhir menutup mata.
***
3. GAYA
BERLARI
Tak
ada yang unik selain gaya lari darinya yang terbilang aneh. Gadis itu ketika
berlari entah kenapa selalu berbeda dengan gaya lari kebanyakan orang. Sudah
sejak dari masa putih merah dulu, aku memperhatikannya. Dia begitu manis,
hingga membuatku saat itu tertarik kepadanya. Dan ketika aku melihatnya untuk
pertama kali berlari saat pelajaran olahraga, aku semakin senang melihatnya.
Karena selain manis, dia juga lucu.
Berlanjut
saat masa putih biru, beruntung aku kembali sekelas dengannya. Dan kembali aku
dibuat tertawa ketika melihat cara dia berlari, saat pelajaran olahraga. Aku
pun jadi memiliki ‘bahan’ untuk mengolok dirinya, agar aku bisa lebih dekat
dengan dia.
“Dari
SD kok gaya larinya gitu mulu? Mau jadiin ciri khas?” Aku pun langsung mempraktekan
gaya larinya.
Dia
hanya berdecak kesal, lalu memainkan mimik wajahnya dengan lucu. Tak bisa
kujelaskan betapa imutnya dia.
Tapi
sayang, saat masa putih abu, aku tak bisa lagi melihat gaya larinya yang lucu
itu. Karena sekarang kami berbeda kelas, bahkan beda sekolah. Namun, aku yakin
gaya berlarinya masih tetap sama, karena itu sudah melekat pada dirinya.
Sama
seperti dia yang memiliki gaya berlari yang khas. Untuk seseorang yang hanya
bisa memendam rasa sepertiku juga ada ciri khasnya. Dan aku telah merasakannya
sekarang, sesuatu yang sudah ada turun-temurun, bahkan di film juga ada. Bahwa
saat kau memendam rasa terlalu lama, kau akan kalah dengan orang yang berani
menunjukkan perasaannya secara langsung.
Kini,
gadis itu pun telah menemukan pria idamannya, dan memulai kehidupan baru. Mungkin
sekarang, giliranku yang harus berlari. Yak, berlari untuk menjauh dari
harapanku padanya, dan memulai awal yang baru. Biarkan semua itu menjadi sebuah
cerita.
***
4. PELANGI
Dari
sekian banyak hal yang kubenci. Menunggu berada di urutan paling atas. Apalagi
bila menunggu sesuatu yang tak pasti, seperti yang tengah kulakukan kini. Apa
kau tahu? Kau telah membuatku menunggu terlalu lama, walau aku pun masih
bingung. Apa yang sebenarnya aku tunggu dan apa yang kuharapkan?
Mungkin,
momen yang tepat untuk berbicara denganmu yang sebenarnya kutunggu. Namun,
tahukah kau betapa sulitnya aku menemukan saat yang tepat itu? Aku tahu banyak
kesempatan untuk menyatakannya, tapi entah kenapa, aku selalu
menyia-nyiakannya.
Hingga
waktu pun berlalu. Aku masih tetap menunggu, meski telah melewati hujan yang
begitu deras mengguyur, tiupan angin yang kencang, bahkan udara dingin yang
membuat tubuh menggigil. Namun, tetap saja aku masih tak bisa untuk
mengungkapkan apa yang kurasakan kepadamu.
Sampai
suatu ketika--saat kau mulai menunjukkan kembali warnamu yang begitu indah. Aku
hanya bisa memandangmu dari kejauhan, berbeda dengan mega angkasa yang berani
mendekatimu. Dan dalam waktu yang singkat, sang mega berhasil mendapatkan
hatimu. Terlihat dengan kau yang semakin tersenyum cerah, membuat ketujuh
warnamu bersinar terang ditemani cahaya sang mega.
Aku
yang melihatmu dari kejauhan hanya bisa menerima. Walau fakta berbicara aku
menyukaimu lebih dulu--bahkan untuk waktu yang sangat lama. Namun, seseorang
sepertiku yang hanya bisa mencintai dalam diam. Akan kalah dengan seseorang
yang berani memperlihatkan perasaannya, seperti sang mega.
Kini,
sinarmu pun mulai menghilang, warnamu kian memudar bersama sang mega. Hingga
akhirnya, aku kembali merenung sendiri. Terlepas dari itu, mungkin sekarang aku
tidak perlu lagi menunggu. Meski harus kuakui, menunggu dirimu akan menjadi
cerita terindah yang tersimpan jauh di dasar hati.

Belum ada tanggapan untuk "Kumpulan Cerita Mini - 1"
Post a Comment