CERPEN - Air Mata Shintia







“Apa nggak capek nangis terus?” Aku menghempaskan tubuh ke ranjang sembari menatap Shintia yang tengah menangis.

“Tapi ...”

“Kamu tinggalkan saja cowok berengsek itu!” saranku bercampur emosi ketika Shintia masih saja ingin bertahan dengan kekasihnya yang sudah jelas tertangkap basah selingkuh. “Lagipula masih banyak cowok. Bukan cuman dia seorang!”

Shintia menyeka air matanya lalu menatapku dengan air yang masih menggenang di matanya. “Santi, aku nangis juga karena punya alasan--”

“Cuman karena cowok brengsek!” potongku tajam.

“Aku nggak mau ninggalin Adrian, Santi,” putusnya lirih, dia lalu mendekatiku.

“Dia terus membuat air matamu mengalir, Shin.”

“Aku kan sudah bilang, kalau ini caraku bersyukur memiliki dua mata. Dengan menangis aku bisa membuat mataku mengeluarkan permatanya, perasaanku juga jadi tenang.”

“Itu bukan permata, tapi limbah yang ditinggalkan, Adrian!” tanggapku ketus. “Tapi kamu juga punya kelopak mata, Shin. Tugasnya menopang air matamu, apa kamu tega terus membebaninya dengan tangisanmu?”

Shintia bergeming, hanya isaknya yang masih terdengar sendu. Aku dengannya sudah bersama sejak kecil, banyak yang bilang kalau kami ini kembar, karena perawakan yang hampir mirip. Kami juga selalu memakai baju dengan model yang sama. Kami pun selalu bersama, ke mana ada dia, di sana pasti ada aku. Apalagi nama kami juga hampir mirip, Santi-Shintia, orang-orang jadi sering memanggil kami si anak kembar.

Satu hal yang tak kusuka darinya adalah, gadis itu selalu menangis. Tak peduli masalah sekecil apa pun, dia selalu meneteskan air mata. Namun, dia selalu berdalih dengan mengatakan bahwa itu tanda dia ‘bersyukur’ telah diberi sepasang mata. Sejak kecil, Shintia memang selalu menangis. Mulai dari dia selalu dikerjain teman cowok di kelas, boneka barbie-nya yang hilang, sampai hanya gara-gara kepleset juga bisa membuatnya menangis.

Memasuki usia puber, Shintia makin sering menumpahkan kesedihannya. Terlebih saat dia kehilangan cinta pertamanya, gadis itu sampai menginap tiga hari di rumahku, dan tentu tak terlewatkan memberiku wadah untuk mendengarkan curhatannya. Aku sering tak habis pikir, kenapa begitu gampangnya dia menangis? Mungkin jika air di lautan ini habis, bisa langsung digantikan oleh air mata Shintia, saking banyaknya intan-intan kecil yang keluar dari mata indahnya.

***

“Kali ini apa lagi?” Besoknya Shintia kembali datang. Aku hanya terus melanjutkan menjahit pakaian di kamar sambil mendengarkan penuturan Shintia.

“Aku putus dengan Adrian.” Suara Shintia terdengar begitu parau dibarengi isak tangis yang kembali terdengar menyayat hati.

Tubuhku agak terdorong begitu Shintia tiba-tiba memeluk dari belakang, wajahnya dia telungkupkan pada punggungku, dan sesenggrukan di sana.

“Santi ... kenapa hal buruk selalu terjadi padaku? Kenapa? Apa aku tak bisa merasa bahagia sebentar saja? Aku capek, Santi. Capek!” tuturnya dengan air mata yang mulai mengucur deras. “Kamu tahu dia bilang apa pas mutusin aku? Katanya aku nggak perhatian, katanya aku egois, mau menang sendiri. Tapi kenyataannya? Justru aku yang harusnya bilang gitu sama Adrian.”

Aku terus melanjutkan menjahit tanpa menyahut penuturan Shintia, tetapi sebagai teman dekat, aku bisa merasakan kesedihan yang dirasakannya. Aku hanya bisa membatin mencoba mencerna setiap perkataannya. Karena jika sekarang aku menasihati, gadis itu tak akan menurut, dia pasti malah ngambek. Maka aku membiarkan dia terus asyik dengan ocehannya.

“Kamu harus jujur sama aku Santi!” Nada suara Shintia tiba-tiba meninggi.

“Apa?”

“Menurut kamu aku cantik nggak?”

“Cantik,” kataku mantap dengan tersenyum penuh keyakinan. “Tapi kalo aku lagi nggak ada.”

Shintia langsung menoloyor kepalaku. “Dasar!”

“Lagian, Adrian itu nggak cocok sama kamu.”

“Aku bener-bener cinta sama dia, San ... kamu tahu kan cara dia nembak aku gimana? Kamu mau bilang kalau dia nggak tulus sama ...”

“Dia cocoknya sama selingkuhannya itu,” potongku tanpa menghiraukan perkataan Shintia.

“Maksud kamu?” Shintia menyeka air matanya, lalu menatapku tajam. Mungkin dia geram dengan perkataanku barusan.

Aku berhenti menjahit, kuhela napas panjang sejenak, dan mengembuskannya perlahan-lahan. Aku memandang Shintia dengan tatapan super serius.

“Jangan salah paham dulu. Maksud aku ... dia nggak cocok dengan gadis secantik dan sebaik kamu, Shin. dia cocoknya sama selingkuhannya itu, mereka sama-sama berengsek! Terutama Adrian! Dia bukan laki-laki! Dia itu pecundang yang hanya bisa membuat seorang wanita menangis ....” Aku menyeka air mata Shintia yang masih tertinggal di matanya dengan lembut. Kulihat mata Shintia berbinar-binar, aku sedikit lega. “Sudah tak seharusnya kamu menangisi cowok macam dia, Shin ... mending kamu nggak usah pikirin pacar dulu kayak aku, sama-sama jomblo.”

Shintia tiba-tiba memelukku, erat sekali. Aku membalas pelukannya dengan hangat.

“Makasih, Santi, makasih! Kamu udah bisa sabar ngadepin aku, kamu selalu buat hatiku tenteram. Aku benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti kamu, Santi.”

“Lebih dari itu, kita ini saudari kembar.” Aku mengedipkan sebelah mata, Shintia tertawa.

“Oh, ya, Shin. Tadi ulangan kamu dapat berapa?”

Shintia terdiam. Lalu menatapku kaku, aku jadi kikuk. Perlahan namun pasti air matanya kembali mengalir deras. Aku sontak melongo melihatnya.

“Aku dapat tiga, gimana reaksi ibuku nanti?” jawabnya sedih sambil menatapku dengan tatapan masygul.

Sial! Aku salah lagi, kendati Shintia sudah mulai tenang, aku malah membuat keadaan kembali runyam, batinku. “Nggak usah nangis! Dasar cengeng! Yang penting kan dapet nilai.”

“Ada satu hal lagi.”

“Ada lagi?!” mataku melotot mendengarnya.

“Aku baru sadar kalo novelmu yang aku pinjam hilang.”

Kini aku tak tahu harus berkata apa.

***

Sebulan telah berlalu semenjak Shintia di-PHK (Putus Hubungan Kekasih) oleh Adrian, dia kini sudah bisa move on dari lelaki itu, walau kebiasaan menangisnya belum hilang. Shintia masih sering mengadu padaku sambil menangis menceritakan permasalahannya, dan aku seperti biasa hanya medengarkan sambil sesekali memberikan nasihat.

Siang itu saat aku berkunjung ke kamar Shintia, aku mendapati dia sedang tersenyum memandangi ponselnya. Tapi tunggu, kenapa matanya malah menangis?

“Kamu kenapa lagi, Shin?”

“Aku udah dapet pengganti Adrian!” ungkapnya dengan mata berbinar, tetapi dibarengi dengan air matanya.

“Terus kenapa nangis?” 

“Ini air mata bahagia tahu. Aku yakin kalo kali ini aku nggak bakal kecewa.”

“Tapi kenapa, sih, harus pacaran lagi? Aku kan udah bilang, jangan. Nggak kapok-kapok, ya, kamu?”

“Bukan gitu, San. Tapi aku nggak mau orang lain nangis karena aku.”

“Lho? Bukannya menangis itu tanda syukur ya?” sindirku.

Shintia menatapku tajam. “Tapi aku nggak mau kesedihannya itu berasal dari aku,” kilahnya, lalu dia kembali asyik dengan ponselnya. “Lagipula dia sudah janji bakal setia terus sama aku.”

Aku hanya menghela napas kesal. “Tapi itu cuman sebatas janji!” tukasku sengit. Aku memang tak ingin melihat Shintia kembali dikecewakan oleh cowok. “Cowok itu cuman manis di bibir, tapi hatinya busuk!”

“Santi,” ujarnya pelan. “Nggak semua cowok seperti yang kamu kira. Kamu hanya menekankan pada cinta pertamamu itu yang kandas. Kamu nggak berani untuk membuka hatimu lagi, kamu nggak--”

“Udah, Shin. Jangan bahas itu lagi.” Aku mengeraskan suaraku. Shintia terdiam, hanya tatapan matanya yang menatapku penuh arti.

Sama halnya seperti Shintia. Aku juga pernah dikecewakan oleh lelaki. Dia adalah cinta pertamaku. Aku menjalin hubungan dengannya dua tahun lebih, saat itu aku benar-benar merasa dicintai, aku tergila-gila olehnya, bahkan aku sampai merelakan ciuman pertamaku direngut olehnya. Sampai akhirnya laki-laki itu, dengan entengnya mencampakanku hanya demi seorang perempuan yang menurutnya lebih baik dariku.

Berbeda dengan Shintia yang meski telah berkali-kali dikecewakan oleh cowok dia tetap menerimanya dengan tenang, walau haru berulang kali meneteskan air mata. Namun, aku tak bisa sepertinya, aku telah menutup pintu hati untuk para lelaki. Aku benar-benar terluka, dan tak semudah itu untuk kembali menerima belaian kasih dari laki-laki yang telah mengirim suratan cinta padaku.

Tapi hatiku sedikit luluh ketika melihat Shintia yang begitu sabar menjalani kisah cintanya. Gadis itu tak sedikit pun menyalahkan cowok-cowok yang telah menyakitinya. Dia hanya menganggap semua yang terjadi kepadanya itu adalah takdir yang diberikan Tuhan.

Memang setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lihat saja Shintia. Dia memang cengeng, bahkan terlalu berlebihan dalam menghadapi situasi, hingga selalu menangis. Namun, dia bisa menjalaninya dengan tabah. Dia bahkan menganggap tangisannya itu sebagai tanda dia bersyukur. Selain itu juga dia tak membenci cowok lain, yang tak ada hubungannya dengan dia. Berbeda denganku, yang kini membenci semua cowok.

Tapi ketika melihat Shintia yang menjalin hubungan manis dengan kekasih barunya itu, aku perlahan-lahan membuka hati. Mungkin benar kata Shintia, tak semua cowok itu berengsek, aku saja yang terlalu skeptis pada hal ini. Sudah lebih dari tiga bulan hubungan Shintia baik-baik saja. Aku pun turut senang dengan hal itu.

Namun suatu hari, Shintia kembali mendatangiku sambil menangis tersedu-sedu.

“Ternyata kamu bener, Shin ... cowok memang berengsek!” tutur Shintia sambil menangis di pelukanku.

Perkataannya itu sukses membuatku tersedak. Aku yang saat itu masih mengunyah cemilan, kontan terbatuk-batuk. Baru kali ini aku mendapati dia berkata seperti itu. Biasanya Shintia selalu bersikap tenang dan berusaha menerimanya walau tetap meneteskan air mata. Tapi kali ini aku melihat Shintia yang benar-benar marah.

“Dia telah melecehkan aku, San,” ungkapnya lirih.

Aku melotot. “Jadi ... kamu udah ... nggak gadis lagi?”

Dengan wajah merah padam akibat tangis dan malu, Shintia menjitak keras kepalaku. Aku sontak memekik kesakitan. Aku memegang kepala yang tiba-tiba seperti muncul benjolan segede telor puyuh.

“Jangan ngeres!” Shintia memejamkan mata sejenak. Air matanya masih mengalir deras membanjiri wajahnya. “Aku malu cerita sama kamu, San. Tapi dia udah berbuat nggak senonoh sama aku.” Isak tangis Shintia makin keras terdengar. “Yang membuat aku tambah malu. Dia mempermalukan aku di hadapan teman-temannya, San. Dia kayak seneng gitu mainin bagian tubuhku. Dasar cowok berengsek!” Shintia menempelkan kedua tangan pada matanya seraya menangis sesenggrukan.

Aku langsung memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang, tanganku pun bergerak perlahan mengusap kepalanya, mencoba menenangkan.

“Iya, aku paham. Cowok memang suka semaunya.”

“Tapi aku masih gadis.” Shintia kembali menegaskan.

Aku tertawa mendengarnya. “Iya, udah. Kamu tenang dulu. Shintia yang aku kenal, walau cengeng dia nggak pernah emosi. Kalau kamu emosi gini, kamu jadi terasa nggak bersyukur dengan tangisanmu itu.”

Shintia tak berbicara lagi. Dia hanya terus menumpahkan tangisnya di pelukanku.

“Terus sekarang gimana? Kamu masih percaya sama cowok?”

“Tentu, aku nggak mau sepertimu yang menutup hati,” ucap Shintia lembut dengan isaknya yang masih terdengar. “Aku percaya tidak semua cowok seperti itu. Suatu saat aku pasti bisa mendapatkan cowok yang aku mau.”

Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata dia masih Shintia yang kukenal, walau tadi dia sempat emosi, tetapi tetap tak mengubah sikapnya yang lembut itu. Aku pun turut berdoa untuk Shintia agar mendapat apa yang diinginkannya.

***

Kehidupan terus berlanjut, hingga tak terasa aku dan Shintia sudah menginjak usia 23. Dengan usia kami yang sudah dewasa, tak hanya kehidupan yang berubah, tetapi sikap kami pun perlahan-lahan mengarah menjadi sedikit lebih baik. Begitu pun Shintia, dia sekarang sudah bisa lebih tegar menghadapi situasi, walau dia memang masih sering meneteskan intan-intan kecilnya. Karena baginya memang itu cara yang dia lakukan untuk bersyukur telah diberi sepasang mata.

Hingga suatu hari ketika aku selesai mengerjakan desain dari salah satu klien. Sekarang aku mempunyai kerja sampingan sebagai freelance designer. Shintia kembali menemuiku. Namun, kali ini dia begitu berseri-seri tak ada air yang menggenang di matanya.

“Santiiiii.” Gadis itu berlari memburuku dan langsung memelukku dengan erat.

“Ada apa lagi?” kataku heran. “Mmm, ada yang baru, ya?”

Shintia mengangguk berkali-kali. “Yap! Dan benar-benar baru!”

“Kamu jadian sama siapa lagi?”

“Bukan jadian!” sanggahnya cepat, lalu menatapku lekat-lekat sambil menahan senyumnya. “Santi ... aku .... Aku akan menikah!”

Apa? Shintia akan menikah? Serius?

“M-menikah? Sama Luthfi?” tebakku. Shintia mengangguk pasti.

Aku langsung mendekap Shintia dengan erat. Merasa tak percaya gadis ini akan menikah. Betapa cepatnya waktu berlalu, hingga tak terasa Shintia akan memulai hidup yang baru.

“Santi, mulai saat ini mungkin aku tak akan menangis lagi. Tapi izinkan aku untuk menangis sekali lagi di pelukanmu,” pintanya sembari memasang wajah memelas. Tak lama kemudian butir-butir kecil mulai menetes dari kelopak matanya. Shintia mulai menangis.

“Kamu akan menikah, Shin. Jangan nangis!” ujarku seraya menyeka air mata yang juga tiba-tiba mengalir. “Tapi kalau kamu nggak nangis lagi, kamu nggak bersyukur dong?” Aku masih bersikap konyol.

Shintia menggeleng. “Bukan gitu. Aku akan lebih bersyukur kalau diberi buah hati hasil pernikahanku dengan Luthfi nanti,” katanya lembut dengan tatapan penuh arti. “Lagipula aku akan menjadi seorang ibu, Santi ... seorang ibu harus tegar!” sambungnya lagi sambil tersenyum berderai air mata.

Kamu sudah besar Shintia. Sekarang tak akan ada lagi Shintia cengeng yang selalu mengadu padaku. Shintia yang selalu mencurahkan isi hatinya padaku. Saudari kembarku ini sebentar lagi akan menikah. Dia akan memulai hidup baru dengan lelaki yang dicintainya.

“Kamu juga segera cari suami, Santi. Biar nanti kita tetanggaan.”

Aku tertawa mendengarnya. Seketika aku teringat masa-masa yang telah kulalui bersama Shintia. Sudah sejak kecil aku bersama dengannya, melewati masa kecil yang indah, masa sekolah yang penuh kenangan, sampai sekarang saat menapaki kehidupan yang sebenarnya pun aku masih tetap bersama dengannya. Tak sadar air mataku menetes ketika menyadari Shintia yang akan menikah.

Aku memang masih akan tetap bersama Shintia walau semuanya tak lagi sama. Dan sekarang, mungkin terakhir kalinya aku melihat air mata yang sudah begitu kental dengannya. Air mataku pun semakin mengalir deras. Lho? Kenapa sekarang malah aku yang cengeng?

Selamat menempuh hidup baru, Shintia.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Air Mata Shintia"

Post a Comment