“Yud, yakin mau lewat jalan Pajaratan? Udah malem nih.”
Alvin memandang Yuda dengan tatapan serius. “Gue takut terjadi apa-apa, gelap
lagi.”
Alvin dan Yuda baru selesai ikut rapat di kelurahan
menyambut hari kemerdekaan. Seusai rapat, mereka tak langsung pulang, tettapi
malah asyik nongkrong di warung dekat kantor nonton bareng pertandingan bola.
Sampai tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.
Kini, mereka
bingung akan mengambil jalan mana untuk pulang ke rumah. Karena jika mengambil
jalan biasa, agak memakan waktu cukup lama. Ada jalan lain yang sebenarnya bisa
mereka lewati. Namun, jalan itu menyimpan misteri yang membuat banyak orang
enggan melewatinya tengah malam begini.
“Saran gue nih, ya. Mending kita lewat jalan biasa aja.
Gue nggak berani lewat jalan itu! Lo udah tahu kan?” Alvin kembali
memperingatkan Yuda untuk mengurungkan niatnya.
Tapi sepertinya Yuda keukeuh
ingin lewat jalan Pajaratan meski sudah banyak rumor yang beredar.
“Vin, gue tahu jalan itu emang angker. Tapi gue cuman
denger apa kata orang, belum liat langsung! Kalo gue udah liat dengan mata
kepala sendiri, baru gue percaya!” tantang Yuda seraya memakai helmnya. Dia
lalu menyuruh Alvin untuk segera menghidupkan motor. “Lagian kita berdua ini,
nggak ada yang perlu ditakutin.”
Alvin sebenarnya agak ragu, tetapi karena Yuda terus
memaksa akhirnya dia nurut juga. Walau perasaannya kini begitu berdebar-debar,
karena dia sudah cukup banyak mendengar hal yang tak mengenakan tentang jalan
itu.
Memang sudah bukan rahasia umum, jalan Pajaratan
terkenal angker di Sumedang. Tepatnya di perbatasan Dusun Genteng Pacing dan
Cirangkong. Banyak warga sekitar yang mengaku sudah melihat penampakan di jalan
itu. Mulai dari pocong, kuntilanak, aden-aden, bahkan jurig dempak, hantu
berwajah rata. Semua cerita itu membuat banyak orang takut dan enggan
melewatinya, apalagi malam hari.
Dulu, pernah ada rombongan sepeda santai yang bebarengan
menyusuri daerah sekitar kampung Alvin. Awalnya, tidak ada hal aneh terjadi,
para pesepeda itu menikmati perjalanannya. Hingga akhirnya ketika rombongan itu
sampai di jalan Pajaratan. Tiba-tiba ada salah seorang pesepeda hilang
keseimbangan dan mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Suatu kecelakaan
tragis yang masih teringat sampai sekarang, di mana mata si pesepeda itu
tertancap pada batu yang runcing.
Akibat kejadian itu, jalan Pajaratan semakin diyakini
ada penunggunya. Apalagi jalanan itu tampak begitu temaram, pohon bambu yang
berjejer di pinggir jalan, daun-daun yang berserakan. Bahkan, terdapat banyak
kuburan di samping jalan itu, tentu membuat orang yang melewatinya semakin bergidik
ngeri.
***
“Yud, perasaan gue jadi makin nggak enak nih,” rengek
Alvin sembari memelankan laju motornya. “Kita puter balik aja yuk?”
“Yaelah, Vin, udah nanggung! Kira-kira dong kalo mau
puter balik!” tolak Yuda dengan mengadahkan wajahnya.
Alvin sebenarnya segen untuk menuruti perkataan Yuda, tetapi
mau bagaimana lagi? Memang sudah kepalang tanggung, lagipula desa mereka
tinggal sebentar lagi sampai. Namun, ketika mendekati jalan Pajaratan,
ketakutan Alvin semakin menjadi-jadi. Sugesti mulai menguasai, bayangan aneh pun
mulai merasuki pikirannya. Sampai ketika mereka memasuki jalan Pajaratan,
ketegangan pun semakin terasa.
“Vin.” Yuda memegang erat pundak Alvin dari belakang.
“Kayaknya mending puter balik aja deh.”
Alvin jelas kesel. Kenapa nggak dari tadi? Masalahnya,
mereka sedang berada di tengah-tengah jalan Pajaratan, perkataan Yuda barusan
tentu membuat Alvin semakin takut. Apalagi suasana begitu mencekam. Di dalam
kegelapan malam dengan pohon bambu menghalangi cahaya bulan, suara hewan malam
membuat kengerian bertambah, serta semilir angin malam seperti tanda akan
hadirnya sosok lain di tempat itu.
“Vin buruan!!!” Yuda semakin kencang mengguncang-guncang
pundak Alvin.
“Mending sekarang lo diem dulu, Yud, gue lagi nyetir.”
Bukannya Alvin sok berani dan tidak takut, tetapi dia
mencoba membuat pikirannya tak memikirkan hal aneh.
Namun, sekeras apa pun Alvin mencoba mengalihkan
pikirannya, tetap saja sugesti kembali menguasai. Ketika tiba di jalanan
menanjak. Mereka berdua begitu terkejut dengan suara benda jatuh begitu keras,
dibarengi suara aneh yang terdengar. Alvin sontak memperlambat laju motornya
seraya berdoa dalam hati.
“Itu suara apaan, Vin?” Yuda mendekatkan kepalanya
sembari berbisik kepada Alvin. “Kok tiba-tiba perasaan gue makin nggak enak,
ya?”
“Gue nggak tahu, Yud. Sama nggak pengen tahu.”
Alvin memandang lurus ke depan berharap ada orang lain
melewati jalan ini. Namun, sepertinya tidak akan ada orang berani melewati jalan
Pajaratan tengah malam begini. Dengan perasaan yang kalut, Alvin terus berusaha
memajukan motornya.
Tiba-tiba, Alvin memberhentikan motornya demi melihat
sesuatu yang belum pernah dia lihat secara langsung tepat di depan matanya.
Pemuda itu tak dapat berkata apa-apa, mulutnya mengatup hanya terdengar embusan
napasnya memburu tak karuan.
“Yud, lo liat apa yang gue liat?” ucap Alvin akhirnya
setelah beberapa saat terdiam.
“Apa? Lo liat apaan, Vin?” respons Yuda dengan wajah
tegang.
Alvin tak menjawab, tubuhnya mendadak lemas seketika.
Pemuda itu tak pernah menyangka akan melihat secara langsung makhluk yang
biasanya dia lihat di dalam film. Sosok perempuan berambut panjang kusut tengah
duduk di tengah jalan dengan menundukkan kepalanya. Dibarengi dengan bau aneh
yang tercium, semakin membuat bulu kuduk Alvin berdiri.
“Tenang, Vin.” Yuda meremas pundak Alvin kuat-kuat
mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya. “Sekarang, coba lo putar balik
motornya, kita keluar dari jalan ini sekarang.”
Alvin mengangguk pelan. Namun, debaran jantungnya kian
menjadi-jadi. Sama halnya dengan Alvin, terlihat raut wajah Yuda yang begitu
pucat merasakan kengerian di depannya. Setelah kejadian ini, Yuda tidak akan
pernah melewati jalan Pajaratan malam hari lagi. Dia benar-benar nyesel telah
ngeyel tadi.
Krosak!
Pohon bambu yang berada di dekat mereka tiba-tiba
bergerak sendiri, padahal tak ada angin yang menggerakkannya. Alvin dan Yuda
begitu terkesiap. Bulu romanya semakin berdiri. Tanpa memikirkan jalan Pajaratan
yang sudah rusak, Alvin memajukan motornya sekencang mungkin. Walau sempat motornya
oleng karena mengenai jalan yang terjal, tetapi Alvin berhasil menguasai dan
keluar dari jalan Pajaratan.
“Yud ... sekarang kita jangan lagi ke jalan itu kalo
malem,” saran Alvin dengan tangannya yang agak gemetar.
Yuda mengangguk mantap, sekarang dia percaya dengan hal
mistis di jalan Pajaratan seperti yang selalu diceritakan orang-orang. Walau
dia tidak tahu makhluk apa yang dilihatnya tadi. Namun, jangan harap Yuda berani
kembali ke jalan itu.
Jalan Pajaratan memang menyimpan misteri. Sudah dari
dulu banyak cerita dari mulut ke mulut tentang keangkeran jalan itu, tapi baru
sekarang Alvin dan Yuda melihat sosok yang membuat mereka bergidik ngeri. Dan
mungkin, akan selalu terngiang dalam benak mereka untuk hari-hari yang akan
mereka lewati.

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Misteri Jalan Pajaratan"
Post a Comment