CERPEN - Pembunuhan di Malam Bintang Jatuh



Aku melangkah gontai di taman kota. Menikmati malam terakhir di Bandung, kota kelahiran yang segera akan kutinggalkan. Memulai hidup baru di Sumedang, tanpa ada lagi gangguan dari Papa dan Mama, yang selalu mengusik hidupku. Aku memutuskan untuk tinggal bersama Nenek, serta melanjutkan sekolah di sana.

“Mah, Pah. Reza mohon jangan ganggu hidup Reza lagi,” lirihku getir seraya mendongakkan kepala menatap langit.

“Kamu tidak bisa apa-apa kalau hidup tanpa orang tua, Reza!”

Aku hanya menganggap sepi perkataan Mama kala itu, meski membekas di hati sampai sekarang, tetapi aku coba melupakannya. Kulihat langit malam yang dipenuhi bintang kecil, kerlipan indah dari benda angkasa itu sangat menarik kupandang. Aku semakin menikmati malam di taman kota, meski udara dingin mulai membuat tubuh menggigil.

Tiba-tiba, salah satu bintang itu bergerak dari tempatnya dan menciptakan goresan indah di angkasa. Gegas aku membuat harap kala bintang itu terjatuh, karena kata orang, saat bintang jatuh itu harapan kita akan terwujud.

“Bintang, semoga aku bisa lepas dari Mama dan Papa ....”

***

Sebulan sudah berlalu sejak kepindahanku ke Sumedang. Banyak hal yang berubah sejak saat itu, aku pun merasa lebih baik berada di kota ini. Meski untuk beberapa saat, Mama dan Papa selalu menghantui pikiranku. Entah, mereka berdua sepertinya tak bisa lepas sedikit saja untuk mengusik hidupku meski telah berada di kota lain.

“Jang, inget kalau pulang jangan malam-malam.” Nenek kembali memberi nasihat saat aku akan berangkat sekolah. “Kalau lewat maghrib mah jangan pulang weh. Mending nginep di rumah temen.”

Di kampung tempat tinggalku sekarang, ada jalan yang terkenal sangat angker. Namanya Jalan Pajaratan. Konon, banyak kejadian yang tak masuk akal di sana dan banyak warga sering melihat juga diganggu makhluk halus saat melewati jalan itu. Hampir tak ada yang berani melewati Jalan Pajaratan selepas maghrib, karena keangkerannya.

Bahkan, akhir-akhir ini Jalan Pajaratan kembali memakan korban jiwa. Tercatat empat belas orang meninggal dalam satu bulan ini. Anehnya, semua korban terbaring tanpa nyawa dengan secarik kertas di sampingnya. Isi dari kertas itu pun seperti harapan dari korban sebelum kematiannya. Kasus ini sangat heboh diperbincangkan, sampai kepolisian pun turun tangan demi terdapat dugaan adanya pembunuhan berantai.

“Nek, Reza berangkat.”

“Inget nya, Jang. Kalau lewat maghrib mending nginep weh! Omat!” Nenek kembali mewanti-wanti.

Aku hanya tersenyum sembari mengangguk. Rupanya Nenek sama saja seperti Mama yang selalu mengaturku. Aku kurang suka bila diperlakukan seperti ini. Rasanya aku sudah mengerti tanpa terus-terusan diingatkan hal yang sama. Namun, tetap saja keluargaku selalu menganggapku seperti anak kecil yang sangat harus diperhatikan.

***

Sesampainya di kelas, aku langsung menghampiri Niki dan Egi, sahabat baruku di Sumedang. Tatapan mereka begitu fokus pada koran yang tengah dibacanya. Sedikit mengintip, aku coba melihat apa yang sedang mereka baca.

“Jalan Pajaratan sekarang udah bahaya banget, ya.” Niki memberi komentar setelah membaca koran itu. “Empat belas orang meninggal dalam satu bulan? Gila!”

Aku memang sudah membaca banyak tentang sejarah jalan itu. Sejak dulu, Jalan Pajaratan memang terkenal sangat angker, tak ada yang berani melewati jalan itu sendirian. Karena banyak kejadian yang mengerikan di sana dan sering memakan korban jiwa. Walau dulu tidak separah sekarang.

“Gi, rumah kamu kan deket Jalan Pajaratan. Kamu nggak ngerasa ada sesuatu gitu?” Niki mengalihkan pandangnya pada Egi.

“Kalo ngeliat hantu sih udah sering.” Egi berkata santai, seakan terbiasa akan hal itu. “Tapi baru kali ini aku nemuin kasus banyak orang yang meninggal di jalan itu,” sambungnya lagi seraya menutup koran yang dibacanya. “Sampai sekarang, aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.”

“Tapi, Gi. Apa kamu nggak pernah nemuin sesuatu gitu pas malem-malem?” Niki kembali bertanya.

Egi tak menjawab, hanya pandangannya menunduk seperti memikirkan sesuatu. Misteri yang terjadi di Jalan Pajaratan saat ini memang sedang menjadi topik perbincangan masyarakat. Membuat semua kalangan beramai-ramai membicarakannya. Membuat warga sekitar semakin takut akan hal yang menggegerkan ini.

“Yang anehnya, kenapa selalu ada kertas berisi tulisan di samping korban itu?” Aku duduk di kursi seraya menatap mereka berdua. “Apa wajar semua yang dibunuh melakukan itu?” selidikku lagi dengan memasang wajah serius. “Selain itu, isi dari kertas tulisannya seperti harapan-harapan korban sebelum meninggal.”

“Biasanya itu yang dilakukan orang bunuh diri,” tanggap Niki memberi komentar.

“Nggak mungkin.” Egi membuka suara. “Polisi mengatakan tidak ada tanda-tanda bunuh diri. Semua korban ditusuk oleh benda tajam dari belakang. Lagipula, terlalu aneh kalau mereka semua bunuh diri di tempat yang sama dan melakukan hal serupa,” lanjutnya lagi seraya menggigit-gigit jempolnya. “Mungkin ada maksud tersendiri tulisan dari ketas itu yang mungkin bisa jadi petunjuk dari si pelaku ...”

“Jadi kamu nganggep ini kasus pembunuhan?” Niki memotong.

“Itu yang paling mungkin.” Egi melanjutkan perkataannya. “Tidak mungkin setiap korban itu bunuh diri di sana terus meninggalkan secarik kertas berisi tulisan. Kecuali ...”

“Kecuali?” Aku jadi penasaran.

“Ada seseorang yang melakukan pembunuhan dan memberi petunjuk lewat tulisan itu.”

Kami bertiga terdiam setelah Egi mengatakan itu. Entah kenapa aku jadi penasaran dan tertarik pada kasus Jalan Pajaratan ini. Namun, tidak mungkin bagiku untuk menyelidikinya. Bagaimana pun aku cukup penakut bila berhadapan dengan hal seperti ini.

“Jadi kertas peninggalan korban itu yang bisa jadi pertunjuk, ya,” kataku lagi melanjutkan percakapan.

“Lebih tepatnya, kertas yang ditinggalkan si pelaku.” Egi berkata mantap.

“Kamu kok bisa tahu gitu, Gi?” Niki mengernyit heran.

“Aku cuman membuat hipotesis sendiri,” ujar Egi sembari menghela napas pelan. “Kalau kamu tinggal di sana pasti tahu yang aku maksud.” Egi tersenyum dengan mata terpejam. “Lagipula, kertas itu bukan ditulis tangan, melainkan lewat ketikan komputer. Jadi belum pasti kalau korban yang meninggalkan kertas itu.”

“Lalu di mana kertas itu sekarang?” Aku semakin penasaran.

“Semua hal yang ditemukan di tempat kejadian sudah diamankan polisi.”

Percakapan kami pun terhenti ketika Bu Beti telah masuk kelas dan memulai pelajaran. Demi mendengar penuturan Egi tadi, entah kenapa semakin membuatku tertarik akan kasus ini. Selain itu, rumah Egi yang terletak tepat di ujung Jalan Pajaratan mungkin dapat sedikit menguak misteri ini.

***

“Ayo berangkat.” Setelah mengunci rumah, Niki segera naik ke motor. Malam ini dia akan menginap di rumahku. “Ati-ati, banyak kejadian aneh di jalan itu,” sambungnya lagi dengan tersenyum menggoda.

“Hush! Jangan sompral kamu!”

Aku langsung melajukan motor. Di perjalanan, terlintas keinginan untuk mengikuti saran Nenek yang menyuruh untuk menginap di rumah teman apabila pulang lewat maghrib. Karena sekarang memang sudah jam enam lewat. Di sisi lain, aku berasumsi akan baik-baik saja, karena sekarang pulang bareng Niki, tidak sendirian. Oleh karena itu dengan menguatkan diri. Aku memberanikan pulang melewati Jalan Pajaratan.

Memasuki Jalan Pajaratan, pikiranku mulai merasakan hal yang aneh. Jalan ini begitu gelap dengan banyak pohon besar di sekeliling, bebatuan yang cukup rusak, serta suara hewan malam yang semakin membuat bulu romaku berdiri. Kucoba buat pikiranku memikirkan hal lain. Namun, sekeras apa pun aku mencoba mengalihkan pikiran, tetap saja sugesti kembali menguasai. Ketika tiba di jalanan menanjak. Aku dikejutkan dengan suara benda jatuh cukup keras dibarengi suara aneh yang terdengar.

“Itu suara apaan, Nik?”

Niki tak menjawab, dia hanya meremas bajuku erat. Dengan perasaan yang kalut, aku coba terus melajukan motor. Secara spontan aku menghentikan kendaraan demi melihat sesuatu yang belum pernah kutemui secara langsung. Aku tidak dapat berkata apa-apa, mulutku mengatup, hanya terdengar embusan napasku memburu tak karuan.

“Nik, kamu liat apa yang aku liat?” Aku memandang lurus ke depan.

“Apa? Kamu liat apaan, Za?”

Aku tak menjawab, tubuhku mendadak lemas seketika. Aku tak pernah menyangka akan melihat secara langsung makhluk yang biasa kulihat di dalam film. Sosok perempuan berambut panjang kusut duduk di tengah jalan dengan menundukkan kepalanya. Dibarengi bau aneh yang tercium, semakin membuat bulu kudukku berdiri.

Krosak!

Pohon bambu yang berada di dekat kami tiba-tiba bergerak sendiri, padahal tak ada angin yang menggerakkannya. kami begitu terkesiap. Tanpa memikirkan Jalan Pajaratan yang sudah rusak, aku melajukan motor sekencang mungkin. Walau sempat oleng karena mengenai jalan yang terjal, tetapi aku berhasil menguasai dan keluar dari Jalan Pajaratan.

***

“Reza, tadi malam ada yang meninggal lagi di Jalan Pajaratan,” kata Nenek sambil tangannya sibuk menjahit baju. “Sama seperti korban yang lain, ditusuk dari belakang menggunakan sesuatu yang tajam.”

Aku dan Niki saling pandang, teringat kembali akan sosok yang kulihat kemarin malam. Masih untung aku bisa selamat. Sontak aku terpaku serta tubuhku mendadak lemas seketika. Betisku seperti tak berasa, membuatku tidak bisa berdiri.

Niki gegas menolong dan mendudukanku di kursi seraya menyodorkan air putih. Aku meminum air itu dengan mengembuskan napas berulang-ulang.

“Nik, maaf. Aku nggak masuk sekolah hari ini.” Jujur, aku merasa tak sanggup untuk beraktivitas sekarang. “Kamu ke sekolah naik ojeg aja, ya.”

“Yaudah, Za, kalo gitu.” Niki mengangguk paham. “Kamu istirahat aja tenangin diri, jangan terlalu panik.”

Setelah mengatakan itu, Niki pamit berangkat sekolah. Aku masih memikirkan kejadian tadi malam. Apa yang sebenarnya kulihat itu? Kuntilanak? Kata Nenek, di Jalan Pajaratan memang banyak yang sudah melihat kuntilanak, pocong, jurig dempak, dan hantu lainnya. Yang membuat suasana horor Jalan Pajaratan semakin kental.

“Jangan sekali-kali lagi kamu ngebangkang perintah Nenek!” Emosi Nenek mulai dia perlihatkan padaku setelah kepergian Niki. “Nenek kan sudah bilang kalau maghrib jangan lewat sana! Mending nginep aja!”

“Iya, Nek. Reza minta maaf.”

Aku hanya menunduk, sadar akan kesalahan yang telah kuperbuat. Namun, misteri Jalan Pajaratan yang telah banyak memakan korban jiwa ini seakan membuatku penasaran. Siapa pelaku yang telah melakukannya? Apa manusia? Atau sesuatu yang tak bisa dijelaskan secara logika?

***

Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu. Kini semuanya telah kembali normal, walau misteri Jalan Pajaratan itu masih belum terkuak. Namun, aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa setelah pertemuan dengan makhluk yang tak bisa kujelaskan itu.

“Nanti kita kerja kelompok di rumah Egi, yuk?” ajak Niki seraya merangkul pundak kami berdua saat berjalan ke kantin.

“Tumben kamu mau ngerjain tugas, Nik.” Aku menoleh pada Niki heran. “Kesambet angin apa nih?”

“Sekalian nginep,” sahutnya enteng.

“Jangan di rumahku deh, di rumah Reza aja.” Egi spontan menolak. “Kalian nggak tahu seremnya kampungku kalo malem.”

“Aku pernah kok lewat jalan itu selepas maghrib bareng Reza.” Niki masih ngeyel dengan keinginannya. “Emang sih ada yang serem. Tapi itu nggak buat aku takut.”

Egi tak menjawab, hanya wajahnya terlihat begitu murung seakan tak ingin bila aku dan Niki berkunjung ke rumahnya. Aku bisa memahami, mungkin dia tak mau membuat kami ketakutan sepanjang malam karena situasi di sana yang begitu mencekam. Namun, seperti halnya Niki. Aku juga sangat penasaran untuk bisa merasakan suasana di sana secara langsung saat malam tiba.

“Jadi gimana?” kejar Niki lagi.

Egi mengangguk pasrah. Terlihat raut kekhawatiran di wajahnya saat dia menyetujui hal itu. Sedikit memelankan langkahnya, Egi mendekatkan kepalanya pada telingaku seraya membisikkan sesuatu.

“Za, nanti di sana kamu awasin terus Niki, ya.”

Aku menoleh ke Egi dengan tatapan kosong, tak mengerti akan apa maksud dari cowok itu.

“Udah, kamu nurut aja!”

***

Kami sampai di rumah Egi pukul lima sore. Lingkungan Cirangkong, tempat Egi tinggal sudah tampak gelap. Karena kampung ini tertutupi oleh pohon-pohon besar yang berjejer di setiap mata memandang. Aku meletakkan tas kemudian duduk di teras depan melihat sang mentari yang sebentar lagi akan menghilang.

Sampai akhirnya malam tiba, aku dan Niki duduk di ruang depan sembari mengerjakan tugas sekolah. Sejak tadi, ada hal yang begitu mengganggu pikiranku. Di mana orang tua Egi? Dari kedatanganku ke sini sampai sekarang, aku tidak melihat keberadaan mereka. Apa Egi tinggal seorang diri?

“Nik, Egi ke mana?”

“Tadi bilangnya mau ke warung.”

Secara tak sengaja, mataku melihat pintu kamar Egi terbuka. Entah timbul keinginan dari mana, lantas aku melangkah masuk ke kamar itu dan menyalakan lampu. Jantungku berdegup kencang seketika demi melihat buku yang berada di kasur. Segera kuraih buku itu dan menatapnya lekat.

“Perjanjian dengan setan,” ucapku pelan dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Ada apa, Za?” Niki berjalan menghampiriku, kemudian dia merebut buku yang sedang kupegang. “Buku apa ini? Perjanjian dengan setan?” Cowok itu mulai membuka buku yang digenggamnya.

“Jangan dibuka, Nik!” Lantas kuhalangi maksud cowok itu. “Buku ini bisa berbahaya.” Aku berhati-hati demi melihat sampul bukunya yang sudah usang, segera kukembalikan buku itu pada tempatnya.

“Kamu berlebihan, itu paling buku biasa.”

“Lalu, kenapa Egi membaca buku seperti ini?”

Niki tak menjawab, hanya tatapan matanya menatapku tajam. Aku melangkah menuju meja belajar, kulihat laci meja itu terbuka dan terdapat buku yang menyimpan banyak catatan-catatan kecil. Lantas, kuambil buku itu dan membukanya.

“Nik, coba lihat ini.”

Niki menghampiriku dan membaca catatan yang terdapat pada buku itu. “Ini kata-kata sama persis dengan tulisan yang ditinggalkan korban,” ucap Niki begitu dia membacanya. “Kenapa Egi bisa punya, ya?”

“Tahu dari mana kamu?”

“Aku pernah liat waktu itu.”

Aku semakin tak mengerti. Kenapa Egi menyimpan hal seperti ini? Buku perjanjian dengan setan, catatan korban, Jalan Pajaratan. Itu semua sangat berhubungan. Terlebih dengan sikap Egi di sekolah yang seakan mengerti misteri ini juga reaksinya saat Niki mengajak menginap di rumah. Aku memiliki kesimpulan kalau Egi kemungkinan besar pelaku di balik semua ini.

“Nik, kita cari Egi seka ... rang ...”

Kepalaku seperti dipukul benda yang cukup keras hingga membuatku pening seketika. Penglihatanku mulai memudar dengan tubuh yang mulai tidak terasa. Saat itu juga, aku tidak tahu apa-apa lagi.

***

“Reza! Reza! Bangun!”

Aku membuka mata perlahan, kurasakan bagian belakang kepalaku yang masih agak nyeri. Aku melihat sekeliling. Aku seperti berada di tengah hutan, banyak pohon besar yang berjejer di setiap sudut tempat itu. Kulihat Egi berada di sampingku, sontak aku langsung menjaga jarak darinya.

“Egi?!”

Aku tersentak kaget demi melihat cowok itu. Masih teringat jelas buku yang kutemukan di kamar itu serta catatan yang isinya mirip dengan tulisan yang ditinggalkan korban. Aku masih menyangka kalau Egi adalah orang di balik semua ini.

“Kamu kenapa, Za? Tenang ini aku.” Egi berusaha menenangkan. “Niki mana?”

Mataku menyapu area sekitar, mencari keberadaan Niki. Namun, setelah beberapa saat kami mencari, cowok itu belum terlihat juga. Aku tetap menjaga jarak dari Egi, takut apa yang menjadi dugaanku ternyata benar.

“Kita harus pergi dari sini sekarang, Za.”

Demi melihat keadaan sekitar yang begitu mencekam, aku menuruti apa yang dikatakannya. Kami berlari menelusuri hutan dalam gelapnya malam. Dengan ketakutan yang semakin menguasai, kucoba menguatkan diri untuk terus berlari mengikuti jejak Egi.

“Sekarang kita di mana?”

“Hutan dekat Jalan Pajaratan.” Egi menjawab sambil terus berlari. “Kenapa kamu bisa ada di sini?”

“Lebih baik kamu jujur.” Aku mulai bertanya tentang keanehan yang kutemukan. “Kamu dalang di balik semua ini?” tuduhku tanpa pikir panjang.

“Apa katamu? Jangan ngawur!” Egi langsung memprotes.

“Aku sudah tahu semuanya, Gi. Kamu ngapain nyimpen buku perjanjian dengan setan juga catatan yang ditinggalkan korban itu?”

Egi berhenti berlari, kemudian dia menatapku tajam. Sontak aku terkejut seketika, takut apa yang kukhawatirkan terjadi. Dia lalu mendekat sembari menyimpan kedua tangannya di bahuku.

“Kamu salah.” Egi memejamkan mata dengan mulutnya yang sedikit meringis. “Niki yang melakukan semua ini.”

“Niki?!”

“Dengerin dulu, ini baru dugaanku saja.” Egi melanjutkan perkataannya. “Setelah aku cari tahu lebih lanjut, dulu orang tua Niki bunuh diri di Jalan Pajaratan.”

Jantungku berdegup kencang seketika, seketika itu aku tersungkur jatuh demi mendengar perkataan Egi. Niki yang melakukan ini? Aku masih tidak percaya. Lalu saat dia menginap di rumah? Apa dia menyelinap keluar dan melakukan pembunuhan?

“Buku perjanjian dengan setan itu bukunya Niki! Aku ambil dari tasnya.” Egi menjelaskan. “Di sana tertulis berbagai ritual untuk bersekutu dengan setan, bahkan bisa memperbudaknya. Aku sama sekali nggak tahu!”

Egi menggaruk-garuk kepalanya kasar, terlihat kepanikan dalam raut wajahnya. Tiba-tiba wajah cowok itu begitu ketakutan saat menatap ke arahku.

“Reza ....”

Egi tiba-tiba terjatuh, dia perlahan mundur dari tempatnya dengan mulutnya menganga lebar. Aku sendiri mulai merasa bulu romaku berdiri, kusentuh bagian belakang leher dan betapa terkejutnya aku ketika menyentuh sesuatu yang sangat kasar. Kuberanikan diri untuk menoleh ke belakang, sontak debaran jantungku semakin berdegup kencang.

Kulihat sosok wanita berpakaian putih dengan rambut yang sangat panjang kusut. Sosok itu tiba-tiba menatapku tajam dengan tawa yang mulai keluar darinya membuat telingaku sakit. Aku menyadari makhluk yang berada di hadapanku ini kuntilanak, ingin rasanya untuk beranjak dari tempat. Namun, kakiku seperti mati rasa.

“Lari, Reza!”

Egi menarik tubuhku, membuatku secara refleks ikut berlari mengikutinya. Kami berdua berlari tak tentu arah, aku hanya mengikuti jejak lari Egi tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Akhirnya kami tiba di Jalan Pajaratan.

“Kita harus segera melaporkan hal ini sama ayahku,” kata Egi dengan napasnya terengah-engah.

“Ayah?”

“Iya. Ayahku kapolres di kota ini,” lanjutnya lagi.

Aku mulai mengerti kenapa Egi bisa memiliki catatan yang tulisannya mirip dengan apa yang ditulis korban. Mungkin dia menyelinap saat ikut ayahnya lalu menulis semua pesan itu pada catatannya.

“Akh!”

Egi meringis kesakitan dengan mulutnya yang mulai mengeluarkan darah. Aku memalingkan pandangku ke samping demi melihat suatu benda runcing menembus bagian perut Egi. Kulihat Niki telah berada di belakang Egi sambil menusukkan golok tajam pada punggung sahabatnya.

“Niki ... jadi itu bener kamu.” Aku masih tak percaya. “K-kenapa?” Aku menutup mulut menahan mual melihat perut Egi terkoyak.

Niki tak menjawab, hanya tersenyum sambil menjulurkan lidahnya. Sementara tangannya bergerak mengoyak-oyak isi perut Egi, hingga akhirnya organ tubuh bagian dalam cowok itu berceceran di tanah. Aku muntah seketika, tak bisa menahan saat melihat hal itu.

“Lari, Re ... Za ...” Egi masih bisa berkata di akhir-akhir hidupnya.

Aku tak kuasa menahan tangis melihat Egi yang sudah sekarat, dengan organ bagian dalamnya terkoyak. Sementara Niki mencabut golok itu sembari menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Cowok itu menjilat darah Egi yang terdapat pada golok itu yang membuatku semakin mual.

Meski kakiku masih gemetar, kucoba melarikan diri dari tempat ini. Namun, baru beberapa langkah aku berjalan tertatih, tiba-tiba sesuatu yang panjang melilit leherku dan membuatku tak bisa bergerak. Kulihat sosok kuntilanak itu sudah berada di belakangku dengan tatapannya yang sangat mengerikan.

“Reza, apa kamu ingin membuat harapan sendiri? Aku spesial menyiapkan kertas untukmu.” Niki menghampiriku seraya menyodorkan secarik kertas beserta pulpen.

Dengan napas yang terengah-engah aku coba berbicara. “K-kenapa kamu melakukan ini?”

Saat itu juga, Niki menancapkan goloknya pada perutku. Membuatku memuntahkan darah seketika, air mata terus mengucur deras dibarengi dengan suara rintihanku yang semakin jelas.

Aku mendongakkan kepala melihat langit, terlihat goresan indah di angkasa yang menandakan adanya bintang jatuh. Aku tersenyum getir seketika, teringat sehari sebelum aku pindah ke kota ini. Saat itu, aku berharap untuk bisa lepas dari Papa dan Mama yang masih menghantui pikiranku meski mereka telah meninggal.

Namun, Tuhan sepertinya tak mengabulkan itu dan membuatku harus kembali menemui Papa dan Mama di akhirat sana.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Pembunuhan di Malam Bintang Jatuh"

Post a Comment