Aku
melangkah gontai di taman kota. Menikmati malam terakhir di Bandung, kota
kelahiran yang segera akan kutinggalkan. Memulai hidup baru di Sumedang, tanpa
ada lagi gangguan dari Papa dan Mama, yang selalu mengusik hidupku. Aku
memutuskan untuk tinggal bersama Nenek, serta melanjutkan sekolah di sana.
“Mah,
Pah. Reza mohon jangan ganggu hidup Reza lagi,” lirihku getir seraya
mendongakkan kepala menatap langit.
“Kamu
tidak bisa apa-apa kalau hidup tanpa orang tua, Reza!”
Aku
hanya menganggap sepi perkataan Mama kala itu, meski membekas di hati sampai
sekarang, tetapi aku coba melupakannya. Kulihat langit malam yang dipenuhi
bintang kecil, kerlipan indah dari benda angkasa itu sangat menarik kupandang. Aku
semakin menikmati malam di taman kota, meski udara dingin mulai membuat tubuh
menggigil.
Tiba-tiba,
salah satu bintang itu bergerak dari tempatnya dan menciptakan goresan indah di
angkasa. Gegas aku membuat harap kala bintang itu terjatuh, karena kata orang,
saat bintang jatuh itu harapan kita akan terwujud.
“Bintang,
semoga aku bisa lepas dari Mama dan Papa ....”
***
Sebulan
sudah berlalu sejak kepindahanku ke Sumedang. Banyak hal yang berubah sejak
saat itu, aku pun merasa lebih baik berada di kota ini. Meski untuk beberapa
saat, Mama dan Papa selalu menghantui pikiranku. Entah, mereka berdua
sepertinya tak bisa lepas sedikit saja untuk mengusik hidupku meski telah
berada di kota lain.
“Jang,
inget kalau pulang jangan malam-malam.” Nenek kembali memberi nasihat saat aku
akan berangkat sekolah. “Kalau lewat maghrib mah jangan pulang weh.
Mending nginep di rumah temen.”
Di
kampung tempat tinggalku sekarang, ada jalan yang terkenal sangat angker.
Namanya Jalan Pajaratan. Konon, banyak kejadian yang tak masuk akal di sana dan
banyak warga sering melihat juga diganggu makhluk halus saat melewati jalan
itu. Hampir tak ada yang berani melewati Jalan Pajaratan selepas maghrib,
karena keangkerannya.
Bahkan,
akhir-akhir ini Jalan Pajaratan kembali memakan korban jiwa. Tercatat empat
belas orang meninggal dalam satu bulan ini. Anehnya, semua korban terbaring
tanpa nyawa dengan secarik kertas di sampingnya. Isi dari kertas itu pun
seperti harapan dari korban sebelum kematiannya. Kasus ini sangat heboh
diperbincangkan, sampai kepolisian pun turun tangan demi terdapat dugaan adanya
pembunuhan berantai.
“Nek,
Reza berangkat.”
“Inget
nya, Jang. Kalau lewat maghrib
mending nginep weh! Omat!” Nenek kembali mewanti-wanti.
Aku
hanya tersenyum sembari mengangguk. Rupanya Nenek sama saja seperti Mama yang
selalu mengaturku. Aku kurang suka bila diperlakukan seperti ini. Rasanya aku
sudah mengerti tanpa terus-terusan diingatkan hal yang sama. Namun, tetap saja keluargaku
selalu menganggapku seperti anak kecil yang sangat harus diperhatikan.
***
Sesampainya
di kelas, aku langsung menghampiri Niki dan Egi, sahabat baruku di Sumedang.
Tatapan mereka begitu fokus pada koran yang tengah dibacanya. Sedikit mengintip,
aku coba melihat apa yang sedang mereka baca.
“Jalan
Pajaratan sekarang udah bahaya banget, ya.” Niki memberi komentar setelah
membaca koran itu. “Empat belas orang meninggal dalam satu bulan? Gila!”
Aku
memang sudah membaca banyak tentang sejarah jalan itu. Sejak dulu, Jalan
Pajaratan memang terkenal sangat angker, tak ada yang berani melewati jalan itu
sendirian. Karena banyak kejadian yang mengerikan di sana dan sering memakan
korban jiwa. Walau dulu tidak separah sekarang.
“Gi,
rumah kamu kan deket Jalan Pajaratan. Kamu nggak ngerasa ada sesuatu gitu?”
Niki mengalihkan pandangnya pada Egi.
“Kalo
ngeliat hantu sih udah sering.” Egi berkata santai, seakan terbiasa akan hal
itu. “Tapi baru kali ini aku nemuin kasus banyak orang yang meninggal di jalan
itu,” sambungnya lagi seraya menutup koran yang dibacanya. “Sampai sekarang,
aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.”
“Tapi,
Gi. Apa kamu nggak pernah nemuin sesuatu gitu pas malem-malem?” Niki kembali
bertanya.
Egi
tak menjawab, hanya pandangannya menunduk seperti memikirkan sesuatu. Misteri
yang terjadi di Jalan Pajaratan saat ini memang sedang menjadi topik
perbincangan masyarakat. Membuat semua kalangan beramai-ramai membicarakannya. Membuat
warga sekitar semakin takut akan hal yang menggegerkan ini.
“Yang
anehnya, kenapa selalu ada kertas berisi tulisan di samping korban itu?” Aku
duduk di kursi seraya menatap mereka berdua. “Apa wajar semua yang dibunuh
melakukan itu?” selidikku lagi dengan memasang wajah serius. “Selain itu, isi
dari kertas tulisannya seperti harapan-harapan korban sebelum meninggal.”
“Biasanya
itu yang dilakukan orang bunuh diri,” tanggap Niki memberi komentar.
“Nggak
mungkin.” Egi membuka suara. “Polisi mengatakan tidak ada tanda-tanda bunuh
diri. Semua korban ditusuk oleh benda tajam dari belakang. Lagipula, terlalu
aneh kalau mereka semua bunuh diri di tempat yang sama dan melakukan hal
serupa,” lanjutnya lagi seraya menggigit-gigit jempolnya. “Mungkin ada maksud
tersendiri tulisan dari ketas itu yang mungkin bisa jadi petunjuk dari si
pelaku ...”
“Jadi
kamu nganggep ini kasus pembunuhan?” Niki memotong.
“Itu
yang paling mungkin.” Egi melanjutkan perkataannya. “Tidak mungkin setiap
korban itu bunuh diri di sana terus meninggalkan secarik kertas berisi tulisan.
Kecuali ...”
“Kecuali?”
Aku jadi penasaran.
“Ada
seseorang yang melakukan pembunuhan dan memberi petunjuk lewat tulisan itu.”
Kami
bertiga terdiam setelah Egi mengatakan itu. Entah kenapa aku jadi penasaran dan
tertarik pada kasus Jalan Pajaratan ini. Namun, tidak mungkin bagiku untuk
menyelidikinya. Bagaimana pun aku cukup penakut bila berhadapan dengan hal
seperti ini.
“Jadi
kertas peninggalan korban itu yang bisa jadi pertunjuk, ya,” kataku lagi
melanjutkan percakapan.
“Lebih
tepatnya, kertas yang ditinggalkan si pelaku.” Egi berkata mantap.
“Kamu
kok bisa tahu gitu, Gi?” Niki mengernyit heran.
“Aku
cuman membuat hipotesis sendiri,” ujar Egi sembari menghela napas pelan. “Kalau
kamu tinggal di sana pasti tahu yang aku maksud.” Egi tersenyum dengan mata
terpejam. “Lagipula, kertas itu bukan ditulis tangan, melainkan lewat ketikan
komputer. Jadi belum pasti kalau korban yang meninggalkan kertas itu.”
“Lalu
di mana kertas itu sekarang?” Aku semakin penasaran.
“Semua
hal yang ditemukan di tempat kejadian sudah diamankan polisi.”
Percakapan
kami pun terhenti ketika Bu Beti telah masuk kelas dan memulai pelajaran. Demi
mendengar penuturan Egi tadi, entah kenapa semakin membuatku tertarik akan
kasus ini. Selain itu, rumah Egi yang terletak tepat di ujung Jalan Pajaratan
mungkin dapat sedikit menguak misteri ini.
***
“Ayo
berangkat.” Setelah mengunci rumah, Niki segera naik ke motor. Malam ini dia
akan menginap di rumahku. “Ati-ati, banyak kejadian aneh di jalan itu,”
sambungnya lagi dengan tersenyum menggoda.
“Hush!
Jangan sompral kamu!”
Aku
langsung melajukan motor. Di perjalanan, terlintas keinginan untuk mengikuti
saran Nenek yang menyuruh untuk menginap di rumah teman apabila pulang lewat
maghrib. Karena sekarang memang sudah jam enam lewat. Di sisi lain, aku
berasumsi akan baik-baik saja, karena sekarang pulang bareng Niki, tidak
sendirian. Oleh karena itu dengan menguatkan diri. Aku memberanikan pulang
melewati Jalan Pajaratan.
Memasuki
Jalan Pajaratan, pikiranku mulai merasakan hal yang aneh. Jalan ini begitu
gelap dengan banyak pohon besar di sekeliling, bebatuan yang cukup rusak, serta
suara hewan malam yang semakin membuat bulu romaku berdiri. Kucoba buat
pikiranku memikirkan hal lain. Namun, sekeras apa pun aku mencoba
mengalihkan pikiran, tetap saja sugesti kembali menguasai. Ketika tiba di
jalanan menanjak. Aku dikejutkan dengan suara benda jatuh cukup keras dibarengi
suara aneh yang terdengar.
“Itu suara apaan, Nik?”
Niki
tak menjawab, dia hanya meremas bajuku erat. Dengan
perasaan yang kalut, aku coba terus melajukan motor. Secara
spontan aku menghentikan kendaraan demi melihat sesuatu yang belum pernah kutemui
secara langsung. Aku tidak dapat berkata apa-apa, mulutku mengatup, hanya
terdengar embusan napasku memburu tak karuan.
“Nik, kamu liat apa yang aku liat?” Aku memandang lurus
ke depan.
“Apa? Kamu liat apaan, Za?”
Aku tak menjawab, tubuhku mendadak lemas seketika. Aku
tak pernah menyangka akan melihat secara langsung makhluk yang biasa kulihat di
dalam film. Sosok perempuan berambut panjang kusut duduk di tengah jalan dengan
menundukkan kepalanya. Dibarengi bau aneh yang tercium, semakin membuat bulu
kudukku berdiri.
Krosak!
Pohon bambu yang berada di dekat kami tiba-tiba bergerak
sendiri, padahal tak ada angin yang menggerakkannya. kami begitu terkesiap.
Tanpa memikirkan Jalan Pajaratan yang sudah rusak, aku melajukan motor
sekencang mungkin. Walau sempat oleng karena mengenai jalan yang terjal, tetapi
aku berhasil menguasai dan keluar dari Jalan Pajaratan.
***
“Reza,
tadi malam ada yang meninggal lagi di Jalan Pajaratan,” kata Nenek sambil
tangannya sibuk menjahit baju. “Sama seperti korban yang lain, ditusuk dari
belakang menggunakan sesuatu yang tajam.”
Aku
dan Niki saling pandang, teringat kembali akan sosok yang kulihat kemarin
malam. Masih untung aku bisa selamat. Sontak aku terpaku serta tubuhku mendadak
lemas seketika. Betisku seperti tak berasa, membuatku tidak bisa berdiri.
Niki
gegas menolong dan mendudukanku di kursi seraya menyodorkan air putih. Aku
meminum air itu dengan mengembuskan napas berulang-ulang.
“Nik,
maaf. Aku nggak masuk sekolah hari ini.” Jujur, aku merasa tak sanggup untuk
beraktivitas sekarang. “Kamu ke sekolah naik ojeg aja, ya.”
“Yaudah,
Za, kalo gitu.” Niki mengangguk paham. “Kamu istirahat aja tenangin diri,
jangan terlalu panik.”
Setelah
mengatakan itu, Niki pamit berangkat sekolah. Aku masih memikirkan kejadian
tadi malam. Apa yang sebenarnya kulihat itu? Kuntilanak? Kata Nenek, di Jalan
Pajaratan memang banyak yang sudah melihat kuntilanak, pocong, jurig dempak,
dan hantu lainnya. Yang membuat suasana horor Jalan Pajaratan semakin kental.
“Jangan
sekali-kali lagi kamu ngebangkang perintah Nenek!” Emosi Nenek mulai dia
perlihatkan padaku setelah kepergian Niki. “Nenek kan sudah bilang kalau
maghrib jangan lewat sana! Mending nginep aja!”
“Iya,
Nek. Reza minta maaf.”
Aku
hanya menunduk, sadar akan kesalahan yang telah kuperbuat. Namun, misteri Jalan
Pajaratan yang telah banyak memakan korban jiwa ini seakan membuatku penasaran.
Siapa pelaku yang telah melakukannya? Apa manusia? Atau sesuatu yang tak bisa
dijelaskan secara logika?
***
Seminggu
telah berlalu sejak kejadian itu. Kini semuanya telah kembali normal, walau
misteri Jalan Pajaratan itu masih belum terkuak. Namun, aku sudah bisa
beraktivitas seperti biasa setelah pertemuan dengan makhluk yang tak bisa
kujelaskan itu.
“Nanti
kita kerja kelompok di rumah Egi, yuk?” ajak Niki seraya merangkul pundak kami
berdua saat berjalan ke kantin.
“Tumben
kamu mau ngerjain tugas, Nik.” Aku menoleh pada Niki heran. “Kesambet angin apa
nih?”
“Sekalian
nginep,” sahutnya enteng.
“Jangan
di rumahku deh, di rumah Reza aja.” Egi spontan menolak. “Kalian nggak tahu
seremnya kampungku kalo malem.”
“Aku
pernah kok lewat jalan itu selepas maghrib bareng Reza.” Niki masih ngeyel
dengan keinginannya. “Emang sih ada yang serem. Tapi itu nggak buat aku takut.”
Egi
tak menjawab, hanya wajahnya terlihat begitu murung seakan tak ingin bila aku
dan Niki berkunjung ke rumahnya. Aku bisa memahami, mungkin dia tak mau membuat
kami ketakutan sepanjang malam karena situasi di sana yang begitu mencekam.
Namun, seperti halnya Niki. Aku juga sangat penasaran untuk bisa merasakan
suasana di sana secara langsung saat malam tiba.
“Jadi
gimana?” kejar Niki lagi.
Egi
mengangguk pasrah. Terlihat raut kekhawatiran di wajahnya saat dia menyetujui
hal itu. Sedikit memelankan langkahnya, Egi mendekatkan kepalanya pada
telingaku seraya membisikkan sesuatu.
“Za,
nanti di sana kamu awasin terus Niki, ya.”
Aku
menoleh ke Egi dengan tatapan kosong, tak mengerti akan apa maksud dari cowok
itu.
“Udah,
kamu nurut aja!”
***
Kami
sampai di rumah Egi pukul lima sore. Lingkungan Cirangkong, tempat Egi tinggal
sudah tampak gelap. Karena kampung ini tertutupi oleh pohon-pohon besar yang
berjejer di setiap mata memandang. Aku meletakkan tas kemudian duduk di teras
depan melihat sang mentari yang sebentar lagi akan menghilang.
Sampai
akhirnya malam tiba, aku dan Niki duduk di ruang depan sembari mengerjakan
tugas sekolah. Sejak tadi, ada hal yang begitu mengganggu pikiranku. Di mana
orang tua Egi? Dari kedatanganku ke sini sampai sekarang, aku tidak melihat
keberadaan mereka. Apa Egi tinggal seorang diri?
“Nik,
Egi ke mana?”
“Tadi
bilangnya mau ke warung.”
Secara
tak sengaja, mataku melihat pintu kamar Egi terbuka. Entah timbul keinginan dari
mana, lantas aku melangkah masuk ke kamar itu dan menyalakan lampu. Jantungku
berdegup kencang seketika demi melihat buku yang berada di kasur. Segera kuraih
buku itu dan menatapnya lekat.
“Perjanjian
dengan setan,” ucapku pelan dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Ada
apa, Za?” Niki berjalan menghampiriku, kemudian dia merebut buku yang sedang
kupegang. “Buku apa ini? Perjanjian dengan setan?” Cowok itu mulai membuka buku
yang digenggamnya.
“Jangan
dibuka, Nik!” Lantas kuhalangi maksud cowok itu. “Buku ini bisa berbahaya.” Aku
berhati-hati demi melihat sampul bukunya yang sudah usang, segera kukembalikan
buku itu pada tempatnya.
“Kamu
berlebihan, itu paling buku biasa.”
“Lalu,
kenapa Egi membaca buku seperti ini?”
Niki
tak menjawab, hanya tatapan matanya menatapku tajam. Aku melangkah menuju meja
belajar, kulihat laci meja itu terbuka dan terdapat buku yang menyimpan banyak
catatan-catatan kecil. Lantas, kuambil buku itu dan membukanya.
“Nik,
coba lihat ini.”
Niki
menghampiriku dan membaca catatan yang terdapat pada buku itu. “Ini kata-kata
sama persis dengan tulisan yang ditinggalkan korban,” ucap Niki begitu dia
membacanya. “Kenapa Egi bisa punya, ya?”
“Tahu
dari mana kamu?”
“Aku
pernah liat waktu itu.”
Aku
semakin tak mengerti. Kenapa Egi menyimpan hal seperti ini? Buku perjanjian
dengan setan, catatan korban, Jalan Pajaratan. Itu semua sangat berhubungan.
Terlebih dengan sikap Egi di sekolah yang seakan mengerti misteri ini juga
reaksinya saat Niki mengajak menginap di rumah. Aku memiliki kesimpulan kalau
Egi kemungkinan besar pelaku di balik semua ini.
“Nik,
kita cari Egi seka ... rang ...”
Kepalaku
seperti dipukul benda yang cukup keras hingga membuatku pening seketika.
Penglihatanku mulai memudar dengan tubuh yang mulai tidak terasa. Saat itu
juga, aku tidak tahu apa-apa lagi.
***
“Reza!
Reza! Bangun!”
Aku
membuka mata perlahan, kurasakan bagian belakang kepalaku yang masih agak
nyeri. Aku melihat sekeliling. Aku seperti berada di tengah hutan, banyak pohon
besar yang berjejer di setiap sudut tempat itu. Kulihat Egi berada di
sampingku, sontak aku langsung menjaga jarak darinya.
“Egi?!”
Aku
tersentak kaget demi melihat cowok itu. Masih teringat jelas buku yang
kutemukan di kamar itu serta catatan yang isinya mirip dengan tulisan yang
ditinggalkan korban. Aku masih menyangka kalau Egi adalah orang di balik semua
ini.
“Kamu
kenapa, Za? Tenang ini aku.” Egi berusaha menenangkan. “Niki mana?”
Mataku
menyapu area sekitar, mencari keberadaan Niki. Namun, setelah beberapa saat
kami mencari, cowok itu belum terlihat juga. Aku tetap menjaga jarak dari Egi,
takut apa yang menjadi dugaanku ternyata benar.
“Kita
harus pergi dari sini sekarang, Za.”
Demi
melihat keadaan sekitar yang begitu mencekam, aku menuruti apa yang
dikatakannya. Kami berlari menelusuri hutan dalam gelapnya malam. Dengan
ketakutan yang semakin menguasai, kucoba menguatkan diri untuk terus berlari
mengikuti jejak Egi.
“Sekarang
kita di mana?”
“Hutan
dekat Jalan Pajaratan.” Egi menjawab sambil terus berlari. “Kenapa kamu bisa
ada di sini?”
“Lebih
baik kamu jujur.” Aku mulai bertanya tentang keanehan yang kutemukan. “Kamu
dalang di balik semua ini?” tuduhku tanpa pikir panjang.
“Apa
katamu? Jangan ngawur!” Egi langsung memprotes.
“Aku
sudah tahu semuanya, Gi. Kamu ngapain nyimpen buku perjanjian dengan setan juga
catatan yang ditinggalkan korban itu?”
Egi
berhenti berlari, kemudian dia menatapku tajam. Sontak aku terkejut seketika,
takut apa yang kukhawatirkan terjadi. Dia lalu mendekat sembari menyimpan kedua
tangannya di bahuku.
“Kamu
salah.” Egi memejamkan mata dengan mulutnya yang sedikit meringis. “Niki yang
melakukan semua ini.”
“Niki?!”
“Dengerin
dulu, ini baru dugaanku saja.” Egi melanjutkan perkataannya. “Setelah aku cari
tahu lebih lanjut, dulu orang tua Niki bunuh diri di Jalan Pajaratan.”
Jantungku
berdegup kencang seketika, seketika itu aku tersungkur jatuh demi mendengar
perkataan Egi. Niki yang melakukan ini? Aku masih tidak percaya. Lalu saat dia
menginap di rumah? Apa dia menyelinap keluar dan melakukan pembunuhan?
“Buku
perjanjian dengan setan itu bukunya Niki! Aku ambil dari tasnya.” Egi
menjelaskan. “Di sana tertulis berbagai ritual untuk bersekutu dengan setan,
bahkan bisa memperbudaknya. Aku sama sekali nggak tahu!”
Egi
menggaruk-garuk kepalanya kasar, terlihat kepanikan dalam raut wajahnya.
Tiba-tiba wajah cowok itu begitu ketakutan saat menatap ke arahku.
“Reza
....”
Egi
tiba-tiba terjatuh, dia perlahan mundur dari tempatnya dengan mulutnya menganga
lebar. Aku sendiri mulai merasa bulu romaku berdiri, kusentuh bagian belakang
leher dan betapa terkejutnya aku ketika menyentuh sesuatu yang sangat kasar.
Kuberanikan diri untuk menoleh ke belakang, sontak debaran jantungku semakin
berdegup kencang.
Kulihat
sosok wanita berpakaian putih dengan rambut yang sangat panjang kusut. Sosok
itu tiba-tiba menatapku tajam dengan tawa yang mulai keluar darinya membuat
telingaku sakit. Aku menyadari makhluk yang berada di hadapanku ini kuntilanak,
ingin rasanya untuk beranjak dari tempat. Namun, kakiku seperti mati rasa.
“Lari,
Reza!”
Egi
menarik tubuhku, membuatku secara refleks ikut berlari mengikutinya. Kami
berdua berlari tak tentu arah, aku hanya mengikuti jejak lari Egi tanpa
mempedulikan keadaan sekitar. Akhirnya kami tiba di Jalan Pajaratan.
“Kita
harus segera melaporkan hal ini sama ayahku,” kata Egi dengan napasnya
terengah-engah.
“Ayah?”
“Iya.
Ayahku kapolres di kota ini,” lanjutnya lagi.
Aku
mulai mengerti kenapa Egi bisa memiliki catatan yang tulisannya mirip dengan
apa yang ditulis korban. Mungkin dia menyelinap saat ikut ayahnya lalu menulis
semua pesan itu pada catatannya.
“Akh!”
Egi
meringis kesakitan dengan mulutnya yang mulai mengeluarkan darah. Aku
memalingkan pandangku ke samping demi melihat suatu benda runcing menembus
bagian perut Egi. Kulihat Niki telah berada di belakang Egi sambil menusukkan
golok tajam pada punggung sahabatnya.
“Niki
... jadi itu bener kamu.” Aku masih tak percaya. “K-kenapa?” Aku menutup mulut
menahan mual melihat perut Egi terkoyak.
Niki
tak menjawab, hanya tersenyum sambil menjulurkan lidahnya. Sementara tangannya bergerak
mengoyak-oyak isi perut Egi, hingga akhirnya organ tubuh bagian dalam cowok itu
berceceran di tanah. Aku muntah seketika, tak bisa menahan saat melihat hal
itu.
“Lari,
Re ... Za ...” Egi masih bisa berkata di akhir-akhir hidupnya.
Aku
tak kuasa menahan tangis melihat Egi yang sudah sekarat, dengan organ bagian
dalamnya terkoyak. Sementara Niki mencabut golok itu sembari menatapku dengan
tatapan yang sulit diartikan. Cowok itu menjilat darah Egi yang terdapat pada
golok itu yang membuatku semakin mual.
Meski
kakiku masih gemetar, kucoba melarikan diri dari tempat ini. Namun, baru
beberapa langkah aku berjalan tertatih, tiba-tiba sesuatu yang panjang melilit
leherku dan membuatku tak bisa bergerak. Kulihat sosok kuntilanak itu sudah
berada di belakangku dengan tatapannya yang sangat mengerikan.
“Reza,
apa kamu ingin membuat harapan sendiri? Aku spesial menyiapkan kertas untukmu.”
Niki menghampiriku seraya menyodorkan secarik kertas beserta pulpen.
Dengan
napas yang terengah-engah aku coba berbicara. “K-kenapa kamu melakukan ini?”
Saat
itu juga, Niki menancapkan goloknya pada perutku. Membuatku memuntahkan darah
seketika, air mata terus mengucur deras dibarengi dengan suara rintihanku yang
semakin jelas.
Aku
mendongakkan kepala melihat langit, terlihat goresan indah di angkasa yang
menandakan adanya bintang jatuh. Aku tersenyum getir seketika, teringat sehari
sebelum aku pindah ke kota ini. Saat itu, aku berharap untuk bisa lepas dari
Papa dan Mama yang masih menghantui pikiranku meski mereka telah meninggal.
Namun,
Tuhan sepertinya tak mengabulkan itu dan membuatku harus kembali menemui Papa
dan Mama di akhirat sana.

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Pembunuhan di Malam Bintang Jatuh"
Post a Comment