CERPEN - Bintang Jangan Kembali



Apa yang terlintas saat melihat bintang jatuh? Membuat harapan? Teringat akan masa lalu? Atau merindukan pujaan hati? Bintang memang menyimpan segalanya, gemerlap indah dari kilauan kecilnya mampu membuat banyak orang takjub. Semua bisa terjadi kala bintang bersinar. Kebahagiaan, keinginan, keraguan, juga kematian.

Bagi kebanyakan orang, bintang jatuh adalah hal yang paling dinanti. Apalagi bila menikmatinya dengan orang tersayang, tentu menjadikannya sebagai nuansa terindah. Namun, bagi Renny--bintang jatuh adalah sesuatu yang sangat tidak dia inginkan kehadirannya. Setiap hari, dia selalu berdoa agar bintang tetap di tempatnya. Walau dia sendiri sadar, untuk apa manusia seperti dirinya berdoa?

Di kamarnya, Renny selalu menempel kertas yang berisi harapannya agar bintang tidak jatuh lagi. Dibalut sedemikian indah dalam ruang kosong yang baginya bisa menenangkan diri. Berharap Tuhan setidaknya bisa mengabulkan keinginannya--agar bintang tidak kembali jatuh. Renny sudah tak sanggup menghadapinya.

“Ren-ny, Mama sayang sama kamu.” Gadis itu menitikkan air mata, ketika dia melihat tulisan dalam harapannya. “Mama tahu ini bukan kamu, Nak.” Wanita tua itu mencoba bertahan meski darah terus mengucur deras dari perutnya, mencoba tetap tersenyum pada buah hatinya. “Mama sayang sama Renny, jaga Fian, ya ....”

Renny meremas dadanya perlahan, hatinya begitu tersayat ketika membaca kalimat dari orang yang dia sayang. Entah kenapa, dia malah menuliskan kata-kata dari orang yang berharga baginya pada harapannya yang justru membuatnya semakin terluka.

Satu per satu Renny baca kata-kata yang terlampir pada harapannya. Namun, seperti yang sudah bisa ditebak, gadis itu kembali teringat pada hal yang memilukan. Sebuah tindakan keji dari gadis berusia 19 tahun--pembunuhan saat bintang jatuh.

“Kak Renny, Fian percaya kalau Kakak bisa seperti dulu, jangan merasa bersalah, Kak!”

Kali ini Renny tak bisa membendung kesedihannya. Tangisnya membuncah seketika teringat pada adik kecil kesayangannya. Namun, bintang jatuh telah membuatnya berpisah dengan malaikat kecil itu. Hanya karena suatu penyesalan dari kematian Ayah saat bintang jatuh, Renny harus mengakui ada yang lain pada dirinya. 

“Sudah sembilan belas kertas yang aku tempel, akankah ini berhenti?” gumamnya sembari menempelkan harapan barunya di dinding. “Renny sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Tuhan ... tolong jadikan ini yang terakhir. Renny mohon, bintang jangan jatuh lagi ....”

***

Bintang jatuh memang indah, kemilaunya mampu membuat orang-orang ingin melihatnya bersama orang yang dicinta. Namun, bagi Renny itu sesuatu yang tidak mungkin. Dia ingin seperti orang lain, bisa memandang gemerlapnya bintang di angkasa dengan tenang, tapi tak bisa. Renny tidak mungkin melakukannya, kecuali dia rela harus kehilangan orang yang dia sayang lagi.

Renny tersenyum getir ketika melihat dinding kamarnya yang sudah penuh dengan tempelan kertas. Sudah terkumpul 19 kertas yang dia tulis dengan penuh luka, 19 nyawa, dan 19 tragedi memilukan di dalamnya--pada usianya yang ke-19 tahun. Hatinya semakin rapuh, ingin rasanya mengakhiri hidup. Namun, kata-kata dari orang yang dia sayang, membuat Renny enggan melaksanakan niatnya.

“Ren, apa kabar?”

Renny terkejut ketika mendengar sapaan dari orang yang dikenalnya. Wajah gadis itu seperti tak suka, dia menyesal keluar kamar bila harus bersitatap dengan orang lain. Renny tak mau kejadian yang sudah-sudah terulang kembali. Alhasil, dia hanya menganggap sepi dan berlalu tanpa menoleh sedikitpun pada Yogga.

“Ren!” Yogga tiba-tiba menahan Renny dengan menggenggam tangannya begitu erat. “Boleh aku nanya sesuatu sama kamu?” Tatapan pemuda itu begitu penuh arti memandang Renny. “Ibu ke mana?”

Renny menundukkan pandangan, tak berani bersitatap dengan Yogga. Apalagi, bila ada yang bertanya tentang keluarganya, dia tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Gadis itu menyembunyikan suatu hal yang tak ingin terkuak keberadaannya. Mau bagaimana lagi? Renny juga tak ingin seperti itu, semua itu karena awal dari bintang jatuh.

Dulu, Renny begitu dekat dengan sosok Ayah--lelaki yang begitu dia banggakan. Beliau mengajarkan tentang arti kehidupan yang sebenarnya, jangan hanya melihat dari satu sisi, tapi juga pahami apa yang orang lain rasakan. Namun, hanya karena sebuah tragedi saat bintang jatuh, Renny terjerumus pada lubang yang salah.

“Lihat bintang itu, Ren.” Ayah menunjuk bintang kecil yang berkerlip indah kala duduk bersama Renny di taman kota. “Setiap bintang menyimpan harapannya sendiri, kemilaunya bagaikan harapan kita yang masih tetap tersimpan dalam hati ... karena itu Ayah nggak suka bintang jatuh. Rasanya seperti kehilangan harapan Ayah.” Ayah masih asyik bercerita tentang bintang yang bertaburan di angkasa. “Tapi, setiap orang memiliki banyak harapan. Saat bintang jatuh, itu artinya harapan akan terkabul, dan akan muncul harapan baru yang mulai bersinar.”

Renny tercenung mendengar penuturan Ayah, sampai membuat gadis itu menatap angkasa lekat, menikmati panorama malam. Sangat indah taman langit itu, tanpa Renny sadari sesuatu yang akan sangat mengguncang hatinya akan terjadi.

“Ayah pengen tahu, harapan Renny apa?”

“Renny pengen terus sama Ayah.” Renny menyunggingkan senyum penuh ketulusan.

“Beneran?” goda Ayah. “Nggak mau sama Yogga nantinya?”

“Ih, apaan.”

Renny menutupi wajah menahan malu. Ayah hanya tersenyum geli melihat tingkah puteri kesayangannya. Suasana taman kota malam itu begitu sepi, hanya ada Ayah dan Renny, juga beberapa kalangan pemuda yang asyik di penjuru taman.

Sampai akhirnya, tanpa diduga, dua orang lelaki berbadan besar menghampiri mereka dengan memakai topeng yang menutupi wajah. Renny jelas kaget dibuatnya, melihat dua orang asing dengan senjata tajam di tangan. Ayah langsung berdiri, bersiap melindungi Renny.

Kedua orang itu meminta Ayah memberikan seluruh benda berharga yang dibawanya. Uang, handphone, arloji, juga kalung pemberian Nenek yang selalu dia jaga. Renny tak kuasa melihatnya. Namun, perompak itu sepertinya masih belum puas.

“Kau masih belum menyerahkan satu benda berhargamu.” Salah seorang perampok itu menodongkan celuritnya tepat pada wajah Renny. “Aku juga akan membawa wanita ini.”

Buukk!

Ayah langsung memukul topeng perampok yang menodongkan senjatanya, sampai membuat topeng itu retak pada bagian bawah dan mengeluarkan darah. Namun, imbasnya dia diserang oleh kawan perampok tadi hingga dia terkapar tak berdaya. Perompak itu lalu menendang dagu Ayah dengan keras, hingga membuat dia menyemburkan darah.

Renny menjerit, tak kuasa melihat Ayah dianiaya sangat keji oleh perompak itu. Tubuhnya lunglai seketika, tidak mampu berdiri. Hingga membuat salah satu perompak memegang tangannya hendak membawanya pergi. Namun, Ayah tetap gigih melindungi puteri kesayangannya, beliau menggigit kaki perompak itu dengan sisa tenaganya.

“Anakku bukan barang! Sialan!”

Salah seorang perompak itu memegang kepala Ayah, lalu rekannya menusuk-nusuk mata Ayah dengan celuritnya. Sontak, Ayah meronta-ronta merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Wajahnya seperti sudah tak terasa lagi, bau darah yang tercium semakin melengkapi suasana malam itu yang tiba-tiba menjadi tragedi.

Renny sudah tak sanggup melihat penyiksaan terhadap ayahnya. Renny ambruk, tatapan matanya melihat jauh ke dalam langit. Terlintas bintang jatuh yang melukiskan goresan indah di angkasa. Namun, Renny hanya memandangnya nanar tanpa senyum yang terulas pada bibirnya.

“Ayah benar. Sekarang bintang telah jatuh, harapanku sudah lenyap ....”

***

Dalam malam kelam yang hanya ditemani gulita, Renny duduk sendiri di kamar sambil memeluk lutut. Meratapi hal-hal yang telah dilaluinya semenjak kematian Ayah. Renny merasa ada sesuatu yang lain pada dirinya--sesuatu yang dia sendiri tak tahu apa itu. Namun, Renny yakin ada yang salah dengan dirinya.

Renny melihat dinding kamar, entah kenapa di sana berjejer rapi kertas putih yang dipenuhi coretan. Gadis itu heran, sejak kapan dinding kamarnya dipenuhi kertas? Lalu, apa isi kertas itu? Renny mendekat lalu membaca isi kertas itu satu per satu. Seketika, sekelebat bayangan merasuki pikirannya. Gadis itu langsung ambruk begitu menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

“Kenapa? Kenapa aku melakukannya?”

Gadis itu mengusap wajahnya perlahan. Merasa aneh pada dirinya sendiri setelah kejadian itu. Renny menyadari telah melakukan dosa yang tak bisa diampuni. Bahkan bila Ayah hidup lagi, beliau akan tetap mengharap bintang tetap di tempatnya.

“Ren, anter Mama beli bakso yuk?”

Jantung Renny berdegup kencang seketika kala Mama mengajaknya pergi ke luar. Malam hari adalah waktu yang ingin dia lewati secepatnya. Renny sudah tak peduli dengan taman langit yang disukainya, dia hanya ingin malam cepat berlalu. Terganti fajar yang terasa enggan kembali.

“Renny nggak mau pergi!”

“Biasanya kamu paling semangat kalau diajak keluar malem. Udah yuk, mumpung malam ini cerah.”

Iya, Renny memang suka melihat langit malam. Baginya, berada di bawah taman angkasa itu sesuatu yang membahagiakan, tapi itu dulu. Sebelum sesuatu yang mengguncang hatinya terjadi.

Renny terpaksa menuruti ajakan Mama, meski sedari tadi perasaannya berdebar-debar tak karuan. Takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Namun, Renny tak tahu harus bagaimana menolak ajakan Mama, hingga akhirnya dia kembali berjalan di bawah langit malam dengan perasaan yang kalut.

Renny mendongak menatap langit, takut sesuatu yang dikhawatirkannya terjadi. Namun, betapa terkejutnya dia ketika kilauan kecil di angkasa melintas indah memberikan guncangan hebat pada dirinya. Gadis itu terdiam di tempatnya. Menundukkan pandangan seakan melihat suatu kengerian.

Isak tangis darinya tak tertahankan, sekuncup rindu yang kembali terngiang dalam ingatan membuatnya tak kuasa menahan diri. Namun, saat itu juga dirinya yang lain mulai menampakkan diri. Mama yang heran melihat buah hatinya tiba-tiba menangis langsung menghampiri.

“Renny, kenapa kamu nangis, Sayang?” Mata perempuan tua itu membelalak ketika merasakan sesuatu yang menancap pada perutnya. “Renny ... k-kamu?”

Mama semakin tak kuasa menahan pedihnya, ketika pisau tajam itu mengoyak perutnya sampai mengeluarkan bagiannya berceceran di tanah. Renny tetap menangis dengan tangan yang penuh darah.

“Bintang, kenapa kau membuatku seperti ini?”

***

“Renny!”

Renny tersentak kaget ketika Yogga membuyarkan lamunannya. Bayangannya akan masa lalu memang kerap muncul. Perasaan bersalah, menyesal, penderitaan sudah menjadi bagian darinya kini. Gadis itu tak mau berlama-lama bersama orang lain, dia hanya ingin sendiri--bersama keheningan yang setia menemani.

“Tunggu.” Yogga kembali menarik tangan Renny. “Kamu belum jawab pertanyaan aku ... Ibu ke mana?”

“Bukan urusanmu.”

Yogga menghela napas perlahan, lalu memegang bahu Renny. “Tentu itu urusanku, dia salah seorang yang aku hormati.”

“Kenapa?”

“Karena aku suka sama kamu. Aku akan menganggap ibumu seperti ibuku sendiri, Ren ....”

Desiran air sungai yang terdengar semakin membuat Renny merasakan sesak yang tiba-tiba bersemayam di dada. Renny berharap Yogga tak berkata lebih jauh lagi, dia tak ingin sesuatu yang lama terulang kembali. Namun, beberapa saat kemudian perasaannya tak bisa dikendalikannya lagi, suatu hal lain memaksa dirinya berbuat hal yang keji.

“Kamu mau jadi orang yang aku sayang?”

Yogga mengangguk mantap. “Tentu.”

Renny tersenyum manis, sepertinya itu senyum termanis yang pernah dia berikan setelah kematian Ayah. Gadis itu seperti sudah memutuskan sesuatu, perlahan tapi pasti dia mendekat pada Yoga masih dengan seulas senyumnya.

“Kalau begitu.” Renny memeluk tubuh Yogga erat, lalu kakinya mendorong kuat dari belakang hingga membuat Yogga hilang keseimbangan. Membuat mereka jatuh ke jurang. “Ikutlah mati bersamaku.”

Dilengkapi dengan kilauan indah dari bintang jatuh yang seperti tanda harapan Renny akhirnya terkabul. Bahwa setelah ini, dia tak akan lagi kehilangan orang yang dia sayang.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Bintang Jangan Kembali"

Post a Comment