Ricky
memasukkan obat gatal dari Dokter ke dalam saku. Tatapan matanya tetap menatap
Dokter yang masih menulis sesuatu di secarik kertas. Sambil menunggu, Ricky
menggaruk-garuk lehernya yang terasa gatal, kemudian berpindah ke lengan, dan
bagian tubuh lainnya.
“Jangan
digaruk! Nanti malah tambah gatal!” bentak Dokter kembali mengingatkan.
Ricky
agak kaget, dia langsung mengeratkan kedua tangannya. Dokter menyodorkan kertas
yang tadi ditulisnya.
“Ingat.
Obatnya diminum sebelum tidur, jangan lupa untuk rajin olahraga supaya tubuh
kamu mengeluarkan keringat. Sama ini, saya sudah menulis beberapa jenis makanan
yang tak boleh kamu makan.”
Ricky
menerima kertas itu dengan tangan gemetar, merasakan gatal yang kini menjalar
ke jemarinya. “Terima kasih, Dok ... saya permisi dulu.” Ricky bangkit dari
duduknya sembari mengangguk hormat kepada Dokter, kemudian berjalan keluar
ruangan.
Rasa
gatal ini sungguh menyakitkan. Setiap kali Ricky harus menggaruk bagian
tubuhnya yang terasa begitu gatal. Sudah hampir seminggu dia mengalami hal
seperti ini. Semua dimulai ketika dia dicampakkan oleh kekasihnya. Sebuah
kenangan pahit yang harus dirasakannya saat usianya masih terbilang cukup muda.
Ricky
telah menjalin hubungan dengan Tiara sejak SMP dulu, hingga saat SMA pun mereka
masih tetap bersama. Namun, saat mereka mulai memasuki dunia perkuliahan, sikap
Tiara mulai berubah. Gadis itu jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan
teman-teman sefakultasnya, bahkan dia terlihat sering jalan berdua dengan cowok
lain. Walaupun dia sudah tertangkap basah oleh Ricky, tapi gadis itu tak merasa
takut sedikit pun, dia malah dengan entengnya memutuskan Ricky di hadapan
teman-temannya.
Kenangan-kenangan
manis yang telah Ricky jalani bersama Tiara tentu tak bisa dia lupakan begitu
saja. Apalagi waktu enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalin
hubungan, oleh karena itu Ricky merasa sangat terpukul setelah kehilangan
Tiara.
Sejak
saat itu dia lebih sering menyendiri di kamar, sehari-hari dia hanya asyik bermain
laptop tanpa berinteraksi dengan dunia luar. Dia jadi jarang mandi, bahkan
tidak mengganti pakaian, dia pun memiliki rekor baru dalam hidupnya, dia telah
lima hari terjaga tanpa tidur sedikit pun! Yah–mungkin dia masih belum bisa,
dan terlalu berat untuk melupakan Tiara.
Ruam-ruam
kecil pada kulitnya pun sedikit demi sedikit mulai tampak. Awalnya dia hanya
menganggap itu sebagai bintik biasa, sampai akhirnya ruam itu mulai bertambah
banyak dan menjalar ke seluruh tubuh menyebabkan rasa gatal yang teramat
sangat. Ricky jelas panik dengan apa yang terjadi pada tubuhnya, dia yang
memang sama sekali tak tahu dengan urusan medis, hanya mengoleskan bedak ke
ruam-ruam itu. Namun, tetap saja gatalnya tidak hilang, dan ruamnya tetap tak
berkurang.
Dengan
saran kakaknya, akhirnya Ricky berobat ke rumah sakit, walau sebenarnya dia
benci datang ke tempat seperti ini, karena baginya tak perlu meminum tablet
hanya untuk menyembuhkan penyakit. Tapi karena rasa gatal yang tak bisa dia
tahan lagi, akhirnya dia menurut juga untuk berobat.
Kesan
pertama yang dia tangkap di rumah sakit ini begitu spesial, ternyata rumah
sakit tak seperti yang dia bayangkan, yang di dalamnya hanya ada kejenuhan
menunggu pasien. Di sini, Ricky menemukan sesuatu yang begitu mengubah pandangan
hidupnya setelah pisah dengan Tiara. Disini, Ricky bertemu dengan seorang
suster yang sangat perhatian kepadanya.
Namanya
Suster Maya, dia seorang wanita yang cukup cantik, dengan memakai topi khas
perawat, dia menjadi semakin terlihat memesona. Apalagi usianya yang terbilang
cukup muda, 27 tahun, hanya terpaut tujuh tahun dari usia Ricky, jadi obrolan
mereka pun bisa agak nyambung, karena Suster Maya juga cukup ahli dalam masalah
percintaan. Ricky pun kerap menceritakan kisah asmaranya yang kandas bersama
Tiara.
“Ricky!”
Suster Maya memanggil ketika melihat Ricky yang keluar dari ruangan, dia
langsung menghampiri pemuda itu dengan mengapit beberapa dokumen di dadanya.
“Kamu mau pulang sekarang?” tanyanya setelah berada di depan Ricky. Ricky
mengangguk menatap Suster Maya. “Mending ngebakso dulu yuk temenin aku? Capek
banget hari ini, banyak pasien. Jadinya laper berat.”
Tanpa
menunggu persetujuan Ricky, Suster Maya langsung melangkah pergi. Ricky hanya
menghela napas melihat tingkah suster yang semaunya, tetapi akhirnya dia
menurut. Karena tak mungkin baginya untuk menolak ajakan dari wanita secantik
Suster Maya.
“Nih
bakso kamu.” Suster Maya menyodorkan mangkok bakso kepada Ricky. “Tapi jangan
pake sambel dulu, ya, takut nanti kamu tambah gatal.”
Ricky
menarik kursi lalu duduk bersebelahan dengan Suster Maya. “Lho? Emang kalo pake
sambel bisa tambah gatal? Bukannya makanan seafood
yang jadi pantangan?”
Suster
menggeleng sambil tersenyum. “Nggak, tapi lebih baik jangan makan yang pedas
dulu,” saran Suster Maya, “kalau kita makan yang pedas kan kulit kita suka ikut
bereaksi, bisa saja bikin kamu ingin menggaruk.”
Ricky
manggut-manggut, kemudian menyantap baksonya yang tidak memakai sambal. Padahal
Ricky tak biasa memakan makanan tanpa rasa pedas, kurang pas! Tapi demi
mendengar saran dari Suster Maya, mau tak mau dia harus mencicipi bakso yang
terasa hambar itu.
Udara
di taman kota sore ini cukup sejuk, walau angkasa terlihat gelap, tapi
sepertinya belum terlihat tanda-tanda akan turun hujan. Hanya semilir angin
sejuk yang terasa mendinginkan raga. Namun, dengan semangkok bakso panas, tentu
bisa membuat badan terasa hangat kembali.
“Gimana,
Rick? Apa kamu sudah bisa move on
dari dia?”
Perkataan
Suster Maya sukses membuat Ricky tersedak, apalagi bakso kecil yang bulat
sempurna telah meluncur deras memasukki kerongkongannya, tanpa dia kunyah
terlebih dahulu. Ricky kontan terbatuk-batuk, dia lalu meminum air putih di
hadapannya.
“Biasa
aja dong, Rick, jangan kaget gitu kalo keinget mantan,” sindir Suster Maya yang
masih asyik menyantap baksonya.
“Habis
suster, sih! Udah tahu aku lagi makan, malah ngomongin dia ...” Mulut Ricky
mengatup seketika, teringat masa-masa yang telah dia lalui bersama Tiara.
Mungkin lebih mudah memulai suatu hubungan,
daripada meninggalkan hubungan yang telah kita jalani, apalagi harus berusaha
melupakan seseorang yang kita cinta. Karena melupakan orang yang sangat spesial
di hati memang sulit, bahkan mustahil. Seperti kata lagunya Taylor Swift:
“Forgetting him is like try to know somebody
you never met”.
“Aku
paham kok, Rick,” ucap Suster Maya disela-sela lamunan Ricky, “aku juga pernah
ngalamin seperti yang kamu alami sekarang.”
Ricky
kembali tersedak, dia mulai terbatuk-batuk mengulangi kejadian yang baru saja
dia alami. Suster Maya hanya tersenyum geli. Pemuda itu lalu menatap Suster
Maya tak percaya, “Suster serius?” tanyanya tak percaya, Suster Maya mengangguk
pasti. “Terus perasaan Suster waktu itu gimana? Apa sama seperti aku? Kalau
memang seperti itu, Suster mengerti ‘kan bagaimana sulitnya melupakan orang
yang kita sayang?”
“Memang
sulit,” ucapnya pelan sambil melepaskan pegangan sendoknya. Suster Maya
mendongak melihat langit senja yang tampak temaram tertutup awan gelap.
Pikirannya seperti melayang mengingat sesuatu yang melukai hatinya, “tapi ...
kamu nggak boleh terus-terusan bersedih seperti ini, kehilangan seseorang
memang menyakitkan, tapi menyakiti diri sendiri jauh lebih membuat kita
menderita!”
Suster
Maya menatap Ricky lekat-lekat tak berkedip sedikit pun. “Lagipula, kamu tak
sepenuhnya kehilangan Tiara, Rick ... kamu masih memiliki kenangan saat
bersamanya,” tuturnya lembut, “memang saat mengingat momen ketika bersama dia,
akan kembali terasa sakit di hati. Tapi setidaknya, kamu memiliki cerita saat
masa indah bersama dirinya. Kamu tahu? Mengingat masa lalu adalah anugerah
sangat indah yang datang kepada kita.”
Ricky
tertegun mendengar perkataan Suster Maya. Dilihatnya wajah suster yang cerah
berseri-seri. Entah kenapa saat dia menatap Suster Maya seperti ini, ada
sesuatu yang lain yang datang kepadanya.
Sesuatu
yang membuatnya nyaman, juga bisa menenangkan perasaannya, tapi bukan cinta.
Dia tahu ini perasaan yang lebih dari cinta, tapi apa? Ricky masih belum
memahaminya, namun yang jelas, dia begitu bahagia bila bersama dengan Suster
Maya.
“Terus
cara suster bisa lupain dia gimana?”
“Bukan
melupakan, tapi mencari penggantinya. Tidak baik jika kita melupakan seseorang,
Rick.” Suster Maya meneguk habis kuah baksonya, lalu bicara lagi. “Itu yang aku
lakukan untuk mengisi hati yang kosong ini, Rick. Aku mencari lelaki lain,
karena aku yakin Tuhan telah menyiapkan seseorang yang lebih baik untukku.”
“Tapi,
Sus. Melupakan seseorang ...”
“Bukan
melupakan, Ricky!” potong Suster Maya dengan meninggikan suaranya. “Aku kan
sudah bilang jangan melupakan! Tapi mencari pengganti ... kamu tak akan pernah
bisa untuk melupakan dia. Maka dari itu kamu harus mencari orang lain untuk
mengisi kekosongan hatimu ....”
Ricky
kembali tertegun. Dia memang mengerti harus mencari pengganti Tiara, tapi apa
semudah itu membiarkan orang lain menempati hatinya yang selama ini khusus
tersimpan nama Tiara? Bahkan kenangan saat bersama Tiara telah dibingkai indah,
dan terpajang manis di relung hatinya yang paling dalam.
“Memang
kedengarannya mustahil, tapi seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa mencari
pengganti itu.” Suster Maya kembali menatap Ricky penuh arti. “Aku juga sama,
pernah ngalamin. Sampai akhirnya, Tuhan mempertemukanku dengan seorang lelaki
yang luar biasa.”
“Maksud,
Suster?” ujar Ricky pelan. “Suster sudah menemukan pengganti?”
Suster
Maya tak segera menyahut, hanya senyuman manis yang tersungging di bibir
mungilnya. Wajahnya begitu berseri-seri menggambarkan perasaannya yang bahagia.
Sesekali Suster Maya menatap Ricky sambil melebarkan senyumnya, Ricky jadi
salah tingkah, dia lalu memalingkan pandangan. Perempuan itu hanya tersenyum
geli.
“Iya.”
Akhirnya Suster Maya membuka suara. “Dia laki-laki yang bisa membuat aku
nyaman, juga bisa menyembuhkan luka dalam hatiku ini, Rick.”
Ricky
sedikit kaget mendengar pengakuan Suster Maya. Entah kenapa seperti ada sesuatu
yang menusuk hatinya, suatu hal yang lebih pedih dibandingkan saat dia
kehilangan Tiara. Apa mungkin dia kecewa dengan apa yang telah dikatakan Suster
Maya? Tak Mungkin! Bagaimanapun juga Ricky paham dengan statusnya bersama
Suster Maya, dia hanyalah teman curhat biasa, atau seorang pasien dengan
susternya, tak lebih. Tapi kenapa dia seperti merasakan sesuatu yang lain saat
bersama Suster Maya?
Ricky
meletakkan mangkok baksonya yang telah habis di pinggir gerobak, kemudian
kembali duduk di bangku bersama Suster Maya. Perasaannya masih bergejolak
tentang apa yang tengah dirasakannya.
“Ng
... ngomong-ngomong, siapa sih lelaki itu, Sus?” tanya Ricky.
Suster
Maya melihat sekilas ke Ricky, lalu menatap angkasa yang tertutup awan hitam,
“Pokoknya dia orang spesial bagi aku, nanti juga kamu tahu.”
Ricky
hanya tersenyum gamang mendengarnya, kenapa dia malah seperti merasa cemburu
ketika Suster Maya berbicara tentang lelaki yang dicintainya. Apa Ricky
memiliki rasa kepada Suster Maya yang baru dikenalnya beberapa hari? Semudah
itukah dia jatuh hati kepada Suster Maya? Tapi Ricky terus bersikeras menolak
gejolak perasaan yang semakin bergebu-gebu.
***
Malamnya,
Ricky tak bisa lepas dari percakapannya bersama Suster Maya tadi sore. Batinnya
benar-benar tak kuasa untuk berhenti bersenandung tentang perasaannya yang
terus mengagumi sosoknya. Ricky tak bisa berbohong kalau dia memiliki perasaan
kepada Suster Maya, tapi bukan cinta, dia sangat yakin kalau perasaannya kepada
Suster Maya itu bukan cinta. Tapi apa? Ricky masih belum memahami dengan apa
yang dirasakannya.
Lagipula,
Ricky tak mungkin menjalin hubungan asmara dengan Suster Maya. Selain usia yang
terpaut cukup jauh, Ricky juga paham kalau dia berada di dunia yang berbeda
dengannya. Ruang lingkup dirinya dengan suster jelas berbeda, dia tak mungkin
bisa merajut hubungan dengannya. Apalagi kedekatannya dengan Suster Maya juga
karena pada awalnya dia tak sengaja menceritakan hubungannya dengan Tiara yang
kandas, tetapi ternyata Suster Maya tertarik dan menjadi teman curhatnya.
Bayang-bayang
Suster Maya tak bisa lepas dari pikiran Ricky. Keesokan harinya, saat dia lari
pagi di alun-alun bareng temannya. Dia tetap tak bisa menghilangkan gambaran
suster dalam pikirannya. Memang saat dia berbincang dengan temannya dia agak
bisa melenyapkan bayang suster, namun saat percakapannya terhenti, wajah manis
Suster Maya kembali terngiang di kepalanya. Ricky jadi benar-benar bingung.
“Ngomong-ngomong,
Rick. Gimana Suster itu? Masih sering ketemu sama dia?” ucap Dhika yang membuat
Ricky terkaget.
Ricky
menoleh sebal ke Dhika. Sedari tadi dia berusaha membuang pikirannya tentang
Suster Maya, sekarang si kampret ini malah memilih topik pembicaraan yang
mengarah kepada apa yang ingin dia lupakan. Ricky tak menyahut, terus
melanjutkan lari paginya.
“Biar
gue tebak,” sambung Dhika lagi sambil mengikuti langkah kaki Ricky yang berlari
agak cepat, “lo pasti ngerasa ada yang lain sama dia, ya? Lo pasti kepikiran
dia terus, ‘kan?”
Ricky
menghentikan langkahnya. Dia hanya mematung membiarkan orang lain melewatinya.
Dhika jadi heran, dia lalu berjalan ke arah Ricky dan mengguncang-guncang
pundaknya.
“Jangan
dipegang, Kuya! Jadi gatel, nih!” Ricky menepis tangan Dhika galak.
Dhika
agak kaget mendapati reaksi Ricky yang begitu sentimen. Tapi sesaat kemudian
dia malah tersenyum menggoda, “Hayoo? Pasti gue bener, ‘kan?”
Ricky
mendengus, “Iya, lo bener! Gue emang ngerasa ada sesuatu yang lain sama Suster
Maya ... tapi gue masih nggak tahu itu apa ....”
Ricky
berjalan santai, merasakan sejuknya udara pagi di taman kota. Sejak menderita
penyakit gatal, Ricky memang disarankan untuk rajin berolahraga agar tubuhnya
bisa sehat kembali, selain itu dia bisa mulai berinteraksi lagi dengan dunia
luar. Karena dia lebih banyak mengurung diri di kamar setelah kehilangan Tiara.
“Itu
pasti cinta, Rick!” Dhika kembali berceloteh. “Lo terus-terusan mikirin dia
nggak bisa berenti, lo juga nyadar ngerasain sesuatu sama dia, jadi apalagi
namanya kalau bukan cinta?!” tegasnya lagi dengan meninggikan suaranya.
Ricky
jelas kaget campur malu dengan perkataan sobatnya, orang-orang yang
berlalu-lalang sontak menatap pada mereka berdua. Dengan kesal Ricky menyeret
Dhika menjauh dari alun-alun, mereka kini di lapak tukang bubur ayam yang
mangkal dekat alun-alun.
“Penyakit
norak lo nggak sembuh-sembuh ya, Ka? Malu tahu di depan orang-orang ngomongin
cinta.” Ricky memulai ocehannya.
“Lebih
malu mana kalau ngomongin nilai?” Dhika balik nanya.
Ricky
mendengus, “Iya deh iya,” sahutnya kesal seraya menghela napas, “tapi, Ka ...
kalau yang gue rasain ini cinta apa nggak aneh?” sambungnya lagi dengan topik
pembicaraan mengarah ke hal yang serius. “Usia gue sama suster cukup jauh.”
“Rick,”
ucap Dhika pelan sambil memegang bahu Ricky, “usia bukan patokan dalam
mencintai seseorang. Yang penting lo sama Suster Maya sama-sama mencintai, itu
sudah cukup.”
“Udah,
Ka. Lo bukan Suster Maya, jangan bicara terlalu mellow,” tanggap Ricky sedikit tersenyum mendengar perkataan
sobatnya.
“Gue
bener, kok. Lo udah nonton First Kiss
belom? Film Thailand, tuh film nyeritain murid SMA yang naksir sama guru,
usianya terpaut cukup jauh, sama kayak lo dan Suster Maya. Tapi lo tahu ending-nya gimana? Mereka hidup bahagia,
mannnn!”
Ricky
hanya tersenyum melihat tingkah sobatnya yang terus berceloteh. Namun
sebenarnya dia juga merasa senang dengan sikap Dhika yang selalu mendukungnya,
walau dia sendiri masih belum yakin dengan apa kata hatinya. Tapi setidaknya
dengan perkataan Dhika itu, dia mulai bisa untuk lebih membuka hatinya lagi
yang telah tertutup rapat sepeninggal Tiara.
Meski
begitu, tetap saja Ricky merasa tak pantas untuk bisa bersanding dengan Suster
Maya. Ricky memang harus membuka lembaran baru untuk meneruskan hidupnya,
mencari wanita lain yang bisa menyembuhkan sakit hatinya dari Tiara. Namun,
seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Ricky menyadari bahwa ruang lingkup
antara dirinya dan Suster Maya benar-benar berbeda.
***
Bulan
selanjutnya, Ricky kembali berobat ke Dokter. Ricky memang diharuskan memeriksa
keadaannya satu bulan sekali, demi melihat perkembangan penyakit gatalnya. Dan
sepertinya sekarang Ricky sudah agak mendingan, karena telah mengikuti saran
dari Dokter untuk rutin berolahraga dan minum obat secara teratur.
Yang
membuat Ricky gelisah sekarang bukan lagi tentang masalah penyakitnya, tapi ada
hal yang jauh lebih membuatnya gundah, yaitu bertemu dengan Suster Maya. Lho?
Kenapa Ricky takut bertemu dengan suster? Bukannya dia senang jika bersama
Suster Maya?
Ini
semua karena Dhika, teman kampretnya itu. Bayangin saja, setiap hari Dhika
selalu mencecar Ricky dengan topik bahasan tentang Suster Maya, seperti:
“Udah
lo nyatain aja ke dia! ntar keburu direbut orang lho ....”
“Kayaknya
Suster Maya juga ada rasa sama elo, Rick. Buktinya dia mau dengerin curhatan
lo, terus kata lo dia suka senyum sama elo, ‘kan? Apa lagi kalau bukan dia
naksir elo?”
Memang
perkataan Dhika itu terkesan melebih-lebihkan. Namun, entah kenapa Ricky sangat
terpengaruh dengan omongan sobatnya, bahkan sampai dibawa perasaan. Sekarang
Ricky benar-benar tak bisa menahan gejolak perasaannya kepada Suster Maya.
Walaupun dia sudah menyimpulkan kalau apa yang dia rasakan itu bukan cinta,
tapi karena Dhika yang terus memborbardirnya, akhirnya pendiriannya goyah juga.
Saat
dia keluar dari ruangan Dokter pun jantung Ricky masih berdegup cepat
membayangkan dirinya ketika bertemu dengan Suster Maya. Dan ketakutannya
akhirnya terjadi, baru beberapa langkah dia keluar, dia mendapati Suster Maya
sedang ngobrol dengan temannya.
Dengan
malu-malu Ricky mendekatinya, dengan kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku
jaket.
“Hai,
Rick. Udah selesai?” sambut Suster Maya ketika Ricky sudah berada di depannya.
Ricky
mengangguk seraya sekuat meungkin menahan gejolak perasaannya yang kembali
memuncak saat berhadapan dengan Suster Maya.
“Rick,
maaf ya, hari ini aku nggak bisa nemenin kamu seperti biasa.” Suster Maya
menulis sesuatu di kertas, kemudian memberikan kepada temannya.
Mendengar
perkataannya, Ricky sedikit kecewa. Jika sekarang dia tak bisa berbincang
dengan Suster Maya, maka dia harus menunggu satu bulan untuk bertemu lagi
dengannya.
“Jangan
kecewa gitu dong, Rick,” tembak Suster Maya seolah memahami gelagat Ricky,
“nanti juga kita bisa ngobrol lebih lama lagi.”
Ricky
hanya tersenyum garing. Dilihatnya wajah Suster Maya yang begitu ayu, senyuman
seakan tak pernah hilang dari bibir manisnya, ditambah pipi chubi tembem yang
dimiliki Suster Maya yang menggemaskan. Wajah Ricky sampai memerah melihatnya.
Hatinya
pun semakin merasa tak menentu, dia memang menyadari kalau dia mungkin menyukai
Suster Maya. Tapi sekuat mungkin dia menahan pikirannya untuk tak memikirkan
hal yang lebih jauh terhadap Suster Maya.
“Kamu
kok ngeliatin aku terus, Rick? Ada yang aneh, ya, di wajahku?” Suster Maya
meraba-raba mukanya.
Ricky
gelagapan, “Ah ... nggak apa-apa, Sus.”
Suster
Maya kembali tersenyum dengan mata terpejam. Senyumannya benar-benar indah,
gemerlap bintang di malam hari pun kalah dengan senyuman Suster Maya. Hal ini
terntu semakin membuat perasaan Ricky tak karuan.
Saat
itu Ricky menyadari seperti ada sesuatu yang lain dengan Suster Maya. Wajahnya
begitu memancarkan rona kebahagiaan yang teramat sangat.
“Suster
lagi bahagia, ya?” tanya Ricky. Suster Maya mengangguk pasti. “Bahagia kenapa,
Sus?” kejar Ricky penasaran.
Suster
Maya terdiam sejenak, menatap Ricky lekat-lekat, Ricky jelas jadi kikuk. Pemuda
itu langsung memalingkan wajah, Suster Maya jadi tersenyum geli.
“Nanti
kamu juga tahu, Rick. Kamu pasti jadi orang pertama yang aku kasih tahu,”
ungkap Suster Maya sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Apa
sih, Sus? Aku jadi penasaran, nih!”
Suster
Maya melirik arloji di pergelangan tangannya, “Maaf, Rick. Aku pergi dulu, ada
urusan,” kata Suster Maya, tangannya mengambil tas yang tersimpan di kursi, “Semoga
kamu cepat sembuh, ya ...” Suster Maya pun pergi.
Ricky
hanya bisa diam terpaku menatap kepergian Suster Maya, entah kenapa perasaannya
mendadak aneh seketika. Dia seperti merasa tak akan bertemu lagi dengan Suster
Maya seperti biasa, ini benar-benar mengganggunya.
Sebenarnya
Ricky ingin mengejar Suster Maya, tapi seakan ada sesuatu yang membuat dia tak
bergerak dari tempatnya. Dia hanya bisa mematung dan melihat Suster Maya yang
berjalan menjauh.
***
Hari-hari
berikutnya, Ricky tak bisa lepas memikirkan tentang percakapan terakhirnya
bersama Suster Maya. Satu hal yang dia tangkap ketika itu, dia tahu bahwa
Suster Maya tengah berbahagia, tapi karena apa? Melihat dari wajahnya,
sepertinya Suster Maya menemukan hal yang paling bahagia dalam hidupnya.
Malam
minggu itu pun Ricky hanya asyik duduk santai di teras depan rumahnya,
menikmati langit malam yang penuh dengan kumparan bintang. Suatu panorama yang
sangat indah di malam hari. Ricky tak henti memandang takjub langit itu, hingga
akhirnya pikirannya teralihkan kembali pada Suster Maya.
Suster
Maya memang telah menjadi orang spesial di hatinya, meski dia baru mengenalnya
beberapa bulan terakhir, tapi Ricky tanpa sadar telah mengagumi sosok Suster
Maya. Apalagi dengan bantuannya, dia akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang
Tiara.
Tapi
sekarang Ricky malah merasakan sesuatu yang lain pada Suster Maya, walau dia
belum yakin apa yang dirasakannya itu cinta. Namun, dia tak bisa berbohong
kalau dia selalu ingin bersama dengan Suster Maya. Dan saat dia mengetahui
bahwa Suster Maya menyembunyikan sesuatu darinya, dia tentu merasa gelisah.
Ricky
pun bermaksud untuk mencurahkan isi hatinya kepada Dhika, sobat kentalnya.
Ricky mengirim pesan kepada Dhika. Namun cowok itu malah menjawab santai.
“Yaelah,
Rick. Orang bahagia biasa kali ... lo terlalu terbawa perasaan ....”
“Kalo
emang lo ngerasain itu, mending lo nyatain perasaan lo ke Suster Maya, daripada
lo pendem terus ... nggak enak, maannnn!”
Ricky
hanya tersenyum memandang pesan Dhika. Apa mungkin dirinya bisa memberitahu
suster tentang perasaannya? Ricky menyadari kalau itu adalah sesuatu yang
sulit. Terlebih, bagaimana jika yang dirasakannya itu bukan cinta? Karena dia
memang masih tak mengerti tentang perasaannya terhadap Suster Maya.
Ricky
mendongakkan kepala, memandang taman langit yang kini bertambah terang disinari
rembulan, dibarengi gemerlap indah dari bintang-bintang kecil. Ricky semakin
menatap jauh ke dalam langit, membiarkan lamunannya menguasainya.
Di
tengah angin malam yang terasa dingin, Ricky bergumam pelan.
“Salahkah
jika aku menyukaimu, Sus?”
***
Akhirnya
Ricky tak tahan lagi, walau saat itu memang belum saatnya dia untuk periksa ke
Dokter, tapi Ricky sudah siap-siap pergi ke rumah sakit, sekedar bertemu dengan
Suster Maya. Sepertinya dia sudah ingin untuk bertatap muka dengan orang yang
telah membantunya melupakan Tiara.
“Rick,
gue ada urusan. Kalo mau keluar, lo bawa kunci, ya?” titah Bagas, kakaknya
Ricky.
Ricky
hanya mengangguk, lalu melanjutkan mengikat simpul tali sepatunya. Dilihatnya
ponsel yang tersimpan manis di sampingnya bergetar, Ricky langsung melihat
pesan yang dikirim Dhika.
“Gue
udah depan rumah lo, cepet keluar!!!”
Ricky
memang mengajak Dhika untuk bertemu dengan Suster Maya, karena sekarang dia
merasa agak canggung jika berdua dengan Suster. Jadinya dia ngajak sobat
ajaibnya itu agar tidak terlalu kaku saat berhadapan dengan Suster Maya nanti.
Sesampainya
di rumah sakit, mereka berdua langsung celingukan mencari Suster Maya. Dhika
yang hanya tahu wajah Suster dari foto jelas tidak begitu ngeuh dengan apa yang
dicarinya, dia hanya mencoba mencocokkan dengan yang dilihatnya di foto.
Tapi
setelah sekian lama mereka mencari, Suster Maya tak kunjung kelihatan juga.
Mereka sedikit kesal karena tak juga mendapati Suster Maya. Mereka berdua lalu
duduk di kursi di koridor rumah sakit, sembari matanya tetap celingukan melihat
setiap para perawat yang lewat.
“Kok
gue juga jadi deg-degan ya, Rick?” Dhika berbisik pelan kepada Ricky.
“Kenapa?
Lo juga naksir sama Suster Maya?”
“Bukan,
tapi takut ada Dokter yang mendeteksi gue penyakitan, terus dia langsung nyeret
gue buat disuntik, hiiyyyy!”
“Lo
terlalu lebay!” Ricky mendengus sebal.
Mereka
pun kembali menunggu, menunggu kehadiran seseorang yang sangat berarti bagi
Ricky. Seseorang yang telah membebaskannya dari neraka yang bernama kepedihan
ditinggal kekasih.
Tapi
Suster Maya tak kunjung terlihat juga, padahal mereka sudah sejam lebih duduk
disana, tapi di antara pegawai rumah sakit yang berlalu-lalang sedari tadi, tak
ada sosok Suster Maya di antara mereka. Dhika yang sudah keriting menunggu,
jadi gahar juga.
“Mana
sih, Rick? Jangan-jangan dia nggak tugas hari ini?”
Ricky
hanya mengangkat bahu, lalu kembali celingukan mencari. Setahunya, Suster Maya
selalu hilir mudik melewati koridor ini, tapi sampai sekarang, entah kenapa
batang hidungnya tak kunjung terlihat juga.
“Ricky?”
Terdengar
suara wanita yang memanggil namanya, Ricky dan Dhika refleks menoleh ke asal
suara itu, berharap kalau yang memanggilnya itu Suster Maya. Namun, ternyata
itu Suster Yanti, temannya Suster Maya, yang juga cukup mengenal Ricky.
“Kamu
ngapain di sini? Bukannya dua minggu lagi kamu periksa, ya?” tanyanya setelah
berada di depan Ricky.
Ricky
bangkit dari duduknya, “Ng, aku mau ketemu sama Suster Maya, Sus,” jelas Ricky,
“tapi kemana dia, ya? Dari tadi aku nyari sampai sekarang belum ketemu.”
Suster
Yanti menatap Ricky heran, “Lho? Emangnya kamu belum tahu?” ucapnya pelan. Dia
lalu mengulum senyumnya. “Oh, aku ngerti sekarang.”
“Ngerti
apaan, Sus?” tanya Ricky heran.
“Suster
Maya lagi ada urusan, nggak ada di sini,” ungkap Suster Yanti akhirnya, “udah,
ya, Rick ... aku lagi ada kerjaan.” Suster Yanti langsung melenggang pergi.
Ricky
hanya bisa terpaku mendengarnya. Apa maksud Suster Yanti? Apa yang sebenarnya
Ricky belum tahu? Ini benar-benar aneh, Ricky sungguh tak mengerti. Sekarang,
setelah dia menunggu lama, Suster Maya malah sedang tidak ada di rumah sakit.
Dengan
napas berat penuh penyesalan, Ricky akhirnya pergi dari rumah sakit bersama
Dhika. Di jalan, Ricky tak bisa lepas dari perkataan Suster Yanti tadi,
perkataannya begitu membekas dalam pikirannya.
“Kayaknya
Suster Maya nyembunyiin sesuatu dari elo, Rick,” selidik Dhika curiga, “ngeliat
perkataan Suster tadi rasanya aneh.”
“Iya,
gue juga nyangka gitu.”
“Padahal
gue pengen ketemu langsung sama Suster Maya,” aku Dhika tertunduk, “soalnya gue
liat di foto, wajahnya cantik banget.”
Ricky
hanya menggelengkan kepala. “Ayo, ah, balik.”
***
Hari
berlalu dengan cepatnya. Kini sudah saatnya utuk Ricky memeriksakan penyakitnya
kepada Dokter. Sepertinya, ini akan jadi hari terakhirnya ke rumah sakit,
karena penyakit gatal yang dideritanya sudah tak terasa lagi. Kalau begitu,
bisa juga ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Suster Maya.
Ricky
merasa agak sedih, jika membayangkan tak akan bisa bertemu lagi dengan Suster.
Memang bisa saja dia sesekali datang ke rumah sakit, tapi dia takut jika
kedatangannya mengganggu pekerjaan Suster Maya.
“Rick,
nanti kamu habis dari rumah sakit langsung pulang, ya, jangan keluyuran dulu!”
titah mama Ricky.
“Oke,
Mah.” Ricky mengambil tasnya. “Ricky berangkat dulu.”
“Hati-hati.”
Ricky
memandang ruangan tempat dia diperiksa dengan saksama. Menyadari bahwa ini hari
terakhirnya semenjak dia datang kesini beberapa bulan lalu. Tempat awal dimana
dia bertemu dengan seseorang yang mengubah hidupnya, hingga dia bisa
menyembuhkan luka fisik maupun hatinya.
“Baik,
sekarang kamu sudah sembuh,” kata Dokter sambil tangannya menulis sesuatu di
buku, “jaga kesehatanmu, ya, Rick. Jangan terlalu mengurung diri lagi, mulailah
kembali berinteraksi dengan dunia luar.”
Ricky
tersenyum tulus kepada Dokter, “Terima kasih atas usaha Dokter selama ini, saya
janji akan menuruti saran Dokter!” tegas Ricky. Kemudian pemuda itu dan
mengangguk hormat kepada Dokter. “Kalau begitu, saya permisi, Dok, mari.”
“Mari.”
Selepas
dari ruangan Dokter, Ricky bergegas mencari Suster Maya. Dia berjalan
teregesa-gesa mencari Suster di setiap tempat rumah sakit. Dari ruang operasi,
toilet, sampai ke kamar jenazah pun Ricky selidiki untuk mencari Suster Maya.
Dia ingin hari terakhirnya ini, bisa berbincang lama dengan Suster. Namun, dia
tak kunjung mendapati Suster Maya.
Seketika
Ricky teringat dengan perkataan Suster Yanti perihal Suster Maya. Walaupun
waktu itu tidak jelas dengan maksud yang dikatakan Suster Yanti, tapi dia bisa
menerka kalau terjadi sesuatu dengan Suster Maya. Tapi apa? Ricky hanya bisa
termenung membayangkannya.
Di
kursi koridor luar, Ricky duduk sendiri. Sepintas dia seperti melihat dirinya
dan Suster Maya saat dia masih sering mencurahkan isi hatinya. Karena, setiap
Ricky periksa ke Dokter, dia selalu menyempatkan diri untuk curhat kepada
Suster Maya. Namun, satu bulan ini dia tak pernah lagi berbincang dengan
Suster, bertemu juga nggak.
“Ricky!”
teriak Suster Yanti dari kejauhan, wanita itu berjalan tergesa-gesa ke arah
Ricky.
Ricky
beranjak dari duduknya, lalu berjalan mendekati Suster Yanti.
“Aku
kira kamu sudah pergi,” ucapnya setelah mereka berhadapan, “kamu nyari Suster
Maya, ya?”
Ricky
mengangguk. Suster Yanti menatap Ricky dengan serius, tapi dia seperti ragu
untuk mengatakan apa yang ingin dia ucapkan. Setelah beberapa saat mereka
diam-diaman, Suster Yanti akhirnya berbicara juga.
“Suster
Maya sudah resign dari rumah sakit,
Rick!”
Ricky
tersentak kaget, mulutnya sampai menganga lebar. Pemuda itu menatap Suster
Yanti tak percaya. “Maksud Suster?”
“Suster
Maya mengundurkan diri dari rumah sakit,” jelas Suster Yanti. Beliau kemudian
memberi sebuah surat kepada Ricky. “Dia nitip pesen sama aku, ‘berikan surat
ini pada, Ricky’ katanya.”
Ricky
menerima surat itu dengan gemetar. Tangannya seperti mati rasa menerimanya,
mungkinkah ini surat perpisahan dari Suster Maya? Dia yang telah pergi dari
rumah sakit yang telah menjadi tempat kenangan indah bagi Ricky. Tempat yang
begitu membuat nyaman dengan adanya Suster Maya.
Tapi
sekarang, setelah mendengar kabar dari Suster Yanti bahwa Suster Maya telah
mengundurkan diri dari rumah skait ini. Entah kenapa hatinya seperti disayat
pedang tertajam yang pernah ada.
Ricky
melangkah gontai meninggalkan rumah sakit. Dia benar-benar terpukul dengan
kepergian Suster Maya, terlebih dia tak sempat bertemu dengannya untuk yang
terakhir kali. Dan lagi, Ricky belum memahami perasaannya yang sesungguhnya
kepada Suster Maya.
Meskipun
Ricky memang belum benar-benar tahu tentang perasaannya, tapi setidaknya dia
menginginkan satu hal, dia tak ingin Suster Maya pergi. Bagaimana pun, Ricky
merasa nyaman bila bersama dengannya, dia tak ingin berpisah dengan orang
spesial baginya itu.
Ricky
menatap surat perpisahan dari Suster Maya dengan nanar, saat ini dia
benar-benar tak ingin untuk membacanya. Yang ada, Ricky hanya ingin cepat-cepat
kembali ke rumah dan merenung sendirian menatap langit, saat malam nanti.
Akhirnya
Ricky memutuskan untuk pulang ke rumah, karena dia tak tahu lagi harus kemana
disaat suasana hatinya sedang dilanda gundah seperti ini. Menemui Dhika? Sama
saja bohong, cowok iu pasti malah akan menggodanya. Jadinya Ricky lebih memilih
untuk menenangkan perasaannya di rumah.
Tapi
Ricky sedikit heran ketika mendapati suasana rumahnya yang terlihat rame, dari
luar tampak beberapa pasang sendal-sepatu saling berjejer rapih. Dengan
melangkah lebih cepat, Ricky memasuki rumah.
“Kamu
akhirnya pulang juga, Rick,” sambut mama Ricky dengan memasang wajah
berseri-seri.
“Ini
ada apa, ya, Mah? Kok rame bener?” tanya Ricky heran.
Mama
mengajak Ricky ke ruang tengah sambil tetap berbicara, “Kamu udah tahu kan
kalau Kakakmu itu akan menikah?” kata mama Ricky. “Sekarang keluarga calonnya
ada di sini.”
“Kok
Ricky nggak dikasih tahu kalau hari ini pertemuannya?”
“Sengaja,
Rick. Mama ada kejutan buat kamu,” ujar mama Ricky pelan sambil mengedipkan
sebelah matanya, “yuk, kita temui calon Kakak Iparmu.”
Ricky
terus mengikuti langkah Mamanya ke ruang tengah, dia agak penasaran dengan
calon isteri Kakaknya. Namun, alangkah terkejutnya Ricky ketika dia berpapasan
dengan Suster Maya saat dia menuju ruang tengah.
“Suster?”
ucap Ricky kaget.
Tapi
reaksi Suster Maya begitu tenang, tidak kaget seperti Ricky. Wanita itu malah
tersenyum dengan manisnya. Suster Maya seperti sudah tahu bahwa hal ini akan
terjadi, dia malah dengan santai menyapa Ricky.
“Hai,
Rick. Gimana? Udah sembuh?”
“S-suster
kenapa di sini?” Ricky benar-benar heran. “A-apa jangan-jangan?”
Suster
Maya mengangguk pasti seolah mengerti apa yang hendak dikatakan Ricky. Beliau
begitu anggun sampai membuat hati Ricky kembali bergetar, tapi dia sadar kalau
akhirnya apa yang dirasakannya itu bukan cinta, melainkan kasih sayang seorang
Kakak yang begitu perhatian kepadanya.
“Jadi
Suster bakal ... bakal ...” Ricky tertahan, tak mampu melanjutkan perkataannya.
Suster
Maya langsung memeluk Ricky dengan erat, “Ya, aku bakal jadi Kakakmu, Rick,”
kata Suster Maya pelan, “mulai sekarang, kamu boleh cerita permasalahanmu
setiap saat.” Suster Maya melepas pelukannya, lalu menatap Ricky dengan air
yang menggenang di matanya. “Aku tahu dari Yanti, kalau selama ini kamu nyari
aku, ‘kan? Maaf aku menghilang tanpa kabar.”
Ricky
tersenyum membalas tatapan Suster Maya, dilihatnya wajah wanita yang akan
menjadi kakak iparnya ini dengan senyum penuh ketulusan. Walau dia sempat malu
jika mengingat ketika dia dibuat pusing akan perasaannya terhadap Suster. Tapi
setidaknya, sekarang dia sudah yakin kalau apa yang dia rasakan itu rasa sayang
terhadap Kakak.
Kini Ricky begitu bahagia karena orang yang
begitu dia kagumi akan menjadi bagian dari keluarganya.
“Jangan
pergi lagi, Suster.”

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Jangan Pergi Suster"
Post a Comment