Kenalin,
nama gue Ipank. Gue masih duduk di kelas dua SMA. Di sekolah gue ada penjaga
yang ngeselin banget. Saking ngeselinnya, Mbak Tukang Jamu ganjen yang latah
masuk ke sekolah jadi segen, kapok digoda mulu. Namanya Sunarto, tapi
temen-temen gue sering manggil si Cimol. Entah karena dia jualan cimol atau
apa, tapi rupanya julukan itu telah melekat pada diri sang penjaga ini.
Yang
membuat gue kesel sama si Cimol bukan karena tampangnya yang jelek. Karena
kalau soal tampang mah gue juga nyadar diri. Coba bayangin, kalau misal lo lagi
PDKT sama cewek yang lo suka, terus ada yang ganggu, pasti kesel, ‘kan? Si
Cimol ini hobi banget ganggu aktivis dunia pacaran di sekolah.
Dia
kerap muncul saat momen yang mendebarkan. Seperti sedang pegangan tangan,
pernyataan cinta, mojok berduaan, atau ... sepertinya tak sopan untuk gue
katakan. Dan si Cimol sering bangga dengan tindakannya itu, karena menurutnya,
dia telah menyelamatkan citra sekolah.
“Pokoknya
yang ketahuan mojok, bakal gue cipok satu-satu!” ancamnya yang membuat bulu
kuduk anak-anak bergidik. Mending dicipok kunti deh ketimbang si Cimol.
Oke,
itu bagus tapi, please deh, Mol. Gue
kan belum pacaran. Gue cuman berusaha ingin lebih dekat dengan Gigi--cewek yang
udah gue incer dari zaman purba--karena gue udah ngerasa lama banget ngegebet
Gigi, tapi tuh cewek adem ayem aja pas gue deketin.
Balik
lagi ke masalah si Cimol. Dalam melaksanakan operasinya, ngeganggu yang lagi pacaran.
Ada makhluk lain yang senantiasa membantu si Cimol--atau bahasa kerennya
partner. Seperti Batman dan Robin, Upin dan Ipin, juga Aku dan Kamu, walau
kenyataannya kita belum menjadi partner. Si Cimol juga punya partner yang sama
ngeselinnya.
“Ayam
sialan!” maki gue ketika mendapati partner si Cimol yang dengan cueknya
nangkring di kepala. Gue langsung tampol tuh ayam sampai menggelepar di lantai.
Ya--partner
si Cimol ini bukan sejenis alien atau mimi peri yang belakangan ini femes. Melainkan ayam kampung. Si Cimol
seneng banget miara ayam, dan kandang ayamnya tepat di sebelah kelas gue. Jadi
kebayang dong ributnya gimana?
Si
Cimol memang tinggal di sekolah. Dia diberi lahan khusus oleh kepsek untuk
menjadi tempat tinggalnya, serta agar terus mengabdi pada sekolah ini hingga
akhir hayat. Dan si Cimol semakin jumawa karena diperbolehkan ngurus ayam di
sekolah, karena untuk mengurus bini, si Cimol nggak ahli. Ribet katanya.
Setiap
pagi, si Cimol rajin ngebersihin kandang ayamnya. Mulai dari ngasih makan,
mandiin, kasih pewangi, sampe buang eeknya ke kelas gue. Cuek aja sama murid
yang datang terlambat, yang penting kesehatan ayamnya terjaga. Dan moto yang
paling diutamakan si Cimol di sekolah ini adalah ‘DILARANG MOJOK’ duile,
anak-anak jadi keki. Kalo gue sama sebagian orang yang senasib sih biasa aja,
cuman yang gue kesel, kenapa dia suka ganggu gue pas lagi deketin Gigi?!
“Apaan
lo nampol ayam gue?” Si Cimol berjalan cepat sambil memegang arit yang ada
stiker ayamnya. Lengkap dengan setelan khasnya, pake kaos abu, celana hitam
longgar, kepala diblengker, plus
jenggotnya yang panjang aduhai. “Mau gue tampol balik lo?”
“Santai,
Mol! Ayam lo yang seenaknya nangkring di kepala gue!” Gue coba memberi
pembelaan.
Si
Cimol bukannya minta maaf, dia malah memasang wajah garang. “Lo belum liat
peraturan baru sekolah?!”
“Peraturan
apaan?”
Plokk!
Si
Cimol langsung menempelkan selembar kertas ke muka gue dengan keras, momen
seperti terhenti sesaat ketika itu. Walau terhalang kertas, tapi bau tangan si
Cimol begitu terasa menyengat, abis nebas pohon jengkol sekolah kali, ya? Dengan
kesal gue menampik tangan si Cimol, lalu membaca isi kertas itu.
Peraturan baru sekolah: Dengan segala hormat
bagi setiap murid yang sebenarnya tidak perlu saya hormati. Demi terjaganya
kualitas ayam di kota ini, mulai sekarang jangan ada yang berani mengganggu
ayamnya Pak Sunarto. Bila ada yang melanggar tentu ada dendanya. Untuk berapa
besar denda yang akan diberikan kepada si pelanggar, tergantung ngambek
nggaknya tuh ayam!
“Kepsek
gila! Ngapain coba bikin peraturan ginian?” Gue mengucek-ngucek kertas itu
sampe kusut, lalu melemparnya ke sembarang arah.
“Gue cuman
ngasih tahu peraturan baru.” Si Cimol menanggap enteng. “Dan peraturan ini
bakal berlaku mulai senin!” tandasnya.
“Jadi
kalo gue potong ayam lo sekarang boleh?”
Si
Cimol mengambil kertas yang gue buang lalu membenarkannya. Pak Tua itu langsung
membentangkan kertas tadi tepat di depan mata gue. “Baca lagi yang bawahnya!”
semburnya dengan nada penuh penekanan.
Jika sebelum hari senin ada yang membunuh
ayam Pak Sunarto. Maka sang pembunuh harus membayar denda sebesar kerugian yang
dikeluarkan saat acara makan-makan ayamnya Pak Sunarto. Jadi mending bunuh aja
sekarang! Biar kita bisa makan-makan! Buruan!
“Kepsek
kapitalis!” Gue kembali bersungut. Heran. Kok punya kepsek sifatnya kapitalis gini?
Gue lalu memandang si Cimol. “Emang kalo ayamnya dipotong sekarang bakal ada
acara makan-makan?”
“Ada!
Tapi semua biaya ditanggung sang pembunuh!”
“Amit-amit!”
Gue langsung bergidik ngeri. Gue heran. Apa kata pembunuh itu bisa diganti?
Kesannya jadi kayak psikopat.
Tapi
emang enak sih kalo ayam si Cimol dipotong dan ada acara makan-makan. Soalnya
ayamnya hampir selusin lebih, belum lagi anak-anaknya. Kan enak tuh kalo bikin
acara bakar ayam malem-malem. Apalagi gue bisa makan berdua dengan Gigi di sekolah
sambil lihat bintang-bintang kecil. Ahh, tentu indah banget.
Namun
gue langsung menepis pikiran jauh-jauh. Isi dompet gue lagi sekarat untuk bisa
berjuang demi Gigi.
***
Senin
pagi. Matahari mulai berani menyembul dari balik sang mega. Embun pagi sudah
puas berada di bumi dan kembali menguap. Suara syahdu nyanyian burung-burung
kecil semakin membuat ... ah udah! Gua nggak jago bikin kata-kata puitis. Senin
pagi ini, gue udah sama anak-anak lain di lapangan. Biasa, upacara.
Saat
kepsek memulai pidatonya sebagai pembina upacara, entah kenapa sinar di mata
gue seperti menghilang seketika. Redup. Peri-peri di alam mimpi pun kembali
menggoda untuk gue singgah ke alamnya. Gue sempat terbuai dengan menguap mesra.
Ingin rasanya tertidur saat ini. Namun, gue sadar bakal jadi bahan olokan kalo
gue tidur sekarang, sekuat mungkin gue tahan rasa kantuk ini.
Tapi
gagal! Godaan peri cantik memang tak sanggup untuk dihiraukan, maka dari itu
gue coba merengsek ke barisan depan, melihat peri yang sebenarnya. Gigi. Demi menghilangkan
rasa kantuk.
“Ngapain
lo di sini?” Tigor yang merasa terusik dengan kehadiran gue berusaha mendorong
gue untuk kembali.
“Sorry, Gor. Gue ngantuk. Mungkin gue
kalo liat Gigi bakal seger lagi.”
Gue
langsung beringsut mendekati Gigi, kebetulan dia berada di barisan paling
belakang anak-anak cewek. Gue pun telah berada tepat di belakang Gigi, tapi gue
tetap menjaga jarak, takut menyentuh bagian terlarangnya. Hidung gue sontak
kembang-kempis keenakan menghirup aroma alami tubuh Gigi.
Tapi
karena gelagat gue yang mungkin terlihat begitu jelas. Gue nggak sadar kalau si
Cimol sudah berdiri tegak menantang di sebelah gue. Tanpa tedeng aling-aling,
si Cimol langsung menjewer telinga gue dan menyeret ke tengah lapangan.
“Nah
anak-anak, ini contoh siswa yang tak menuruti aturan seperti Bapak bilang
tadi.” Suara kepsek begitu menggelegar menghujam hati gue. “Kalau tidak salah,
nama adik ini, Ipank, ‘kan?” tanya beliau dengan intonasi suara dibuat sewibawa
mungkin.
Gue
mengangguk pelan. Asli malu banget berdiri sendiri di depan lapangan, di
hadapan para guru dan murid lagi. Cimol sialan! Gue merutuk habis-habisan si
Cimol dalam hati.
“Anak-anak
sekalian, setelah melihat Dik Ipank ini, Bapak baru ingat kalau ada peraturan
baru di sekolah.” Kepsek mengeluarkan kertas dari sakunya. “Mulai sekarang
jangan ada yang berani lagi mengganggu ayam Pak Sunarto!”
“Kenapa,
Pak?!” Terdengar suara yang begitu membahana dari arah kelas gue.
Gue
udah bisa nebak pasti itu si Tigor. Siapa lagi yang punya suara menggelegar
seperti tronton selain dia?
“Tidak
ada alasan khusus! Hanya peraturan baru sekolah.” Kepsek masih berbicara
sewibawa mungkin. “Kalau ada yang melanggar akan diberi hukuman!” tegasnya.
“Tapi Bapak menyarankan kalian untuk segera melanggar!”
“Hukumannya
apa, Pak?” teriak salah seorang murid lagi.
“Itu
rahasia ... nggak suprise dong kalau
Bapak kasih tahu!”
Anak-anak
pada bersorak riuh, kesel dengan kepala sekolah yang satu ini. Setelah mereka
dilarang bermesraan di sekolah. Sekarang mereka dituntut tidak mengganggu ayam
yang menjadi dalang kekesalan mereka. Mending ayamnya cuman satu, ini bejibun!
Mana tuh ayam kandangnya tepat di sebelah kelas gue lagi. Gue jadi nggak bisa
ngebedain mana kelas gue, dan mana kandang ayam.
Saat
itu, upacara sudah memasuki bagian menyanyikan lagu wajib nasional, dan gue
masih berdiri di depan lapangan seorang diri. Ketika grup paduan suara tengah
khidmat memonyong-monyongkan bibir, melantunkan setiap lirik dari lagu yang
dibawakannya. Tiba-tiba, dari arah koridor muncul gerombolan ayam si Cimol dan
langsung ikut membaur di lapangan.
Sontak
semua yang ada di sana panik seketika. Para penjaga sekolah dan beberapa guru
begitu sibuk menangkap ayam si Cimol yang tampaknya lepas semua. Dan sialnya,
gue juga disuruh membantu nangkap ayam-ayam itu. Dengan bersungut-sungut, gue
akhirnya ikut juga nangkep ayam.
Saat
itu, ayam yang lagi gue incer malah lari menuju barisan kelas gue. Sebenarnya
gue agak malu kalau ngejar ke sana. Pasti bakal diledek sama temen-temen, belum
lagi di sana ada Gigi, harga diri, maannn!
Namun, karena desakan dari si Cimol yang membuat gue gedek, akhirnya terpaksa
gue coba nangkep tuh ayam!
Tapi,
ayam itu malah melenggak-lenggok tepat di sebelah Gigi. Gue jelas bingung harus
gimana, malu atuh kalau berbuat norak
di hadapan Gigi. Namun, gue tak punya pilihan lain, gue harus nangkep tuh ayam!
Gue langsung dengan gesit memburu ayam itu hingga akhirnya berhasil gue
tangkep.
Seketika
dari arah kelas sebelah ada ayam lain yang datang dan langsung menerjang. Gue
bener-bener nggak ngerti maksud nih ayam, mukanya sepa banget, kayak punya
dendam sama gue. Mungkin ayam yang gue tangkep ini bininya kali, ya? Dan karena
terjangan ayam itu yang cukup keras, gue nggak bisa menjaga keseimbangan tubuh.
Alhasil, gue terpental dan menabrak tubuh Gigi.
“A-aduh.”
Gadis itu meringis tertahan.
Gue
tetap bersandar pada tubuh Gigi, masih belum bisa menstabilkan kembali tubuh
gue. Sesaat, gue seperti merasa ada dua bola yang namplok di punggung gue.
Sekuat mungkin gue tahan pikiran gue untuk nggak mikir yang macem-macem.
“S-sorry, Gi. Nggak sengaja.” Gue lalu
kembali beranjak dari tempat yang menurut gue enak. “Lo nggak apa-apa, ‘kan?”
Gigi
menggeleng. “Nggak ... lo sakit nggak, Pank?” tanya Gigi.
“Nggak,
Gi, empuk malah,” jawab gue sambil mengedipkan sebelah mata. Gigi bengong.
Gue
langsung kembali ke depan lapangan, mengumpulkan semua ayam yang tadi
berbondong-bondong memenuhi isi lapangan. Yang gue bingung, kenapa dengan
kejadian yang sangat mengganggu upacara ini, si Cimol tak mendapat teguran dari
kepsek? Si Cimol malah dengan santainya senyam-senyum dengan kepsek. Gue jadi
ngerasa ada suatu hubungan rahasia antara kepsek dan si Cimol, hiyyyy!
***
Selepas
upacara, gue duduk di bangku melepas lelah menangkap ayam. Kapan penderitaan
ini segera berakhir? Banyak murid yang resah sama ayam si Cimol termasuk gue.
Namun, harus bagaimana lagi? Si Cimol memang diberi kuasa khusus oleh kepsek.
Saat
pikiran sedang melayang, gue melihat Gigi yang duduk tak jauh dari bangku gue.
Senyum gue langsung mekar, apalagi kalau mengingat momen pas upacara tadi, dan
keempukan yang terasa di punggung. Gue jadi senyum-senyum sendiri. Setelah
dipikir-pikir, ternyata nggak sia-sia gue disuruh nangkep ayam.
“Hayo,
lagi mikir yang aneh-aneh, ya?” tuduh Tigor sambil menghentakkan tangan.
Gue
tersentak kaget. “Sialan! Siapa yang lagi mikirin Gigi?”
“Siapa
juga yang lagi ngomongin Gigi?” Tigor tersenyum. “Tapi tadi lo dapet yang enak,
‘kan?” sambungnya lagi dengan senyum merekah.
“Lo
jangan ngiri, ya!” Gue memeletkan lidah.
Pelajaran
pertama berlangsung, pelajaran yang membuat gue harus ekstra lebih memandang
Gigi lekat-lekat agar tidak mengantuk. Soalnya sekarang pelajaran Pak Harapno,
guru Bahasa Indonesia yang ngebosenin, bikin ngantuk. Apalagi volume suaranya
yang lebih rendah dari Limbad, tentu semakin membuat anak-anak mengantuk ria.
Di
tengah pelajaran, tiba-tiba ada satu ayam si Cimol masuk ke kelas diikuti
keempat anaknya. Ayam-ayam itu dengan cueknya melenggang santai di depan kelas,
ada pula yang sampai ke bangku gue yang paling belakang. Namun, entah kenapa
perasaan gue tiba-tiba jadi nggak enak.
“Gue
kok merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpa gue, ya, Gor?” ungkap gue
ngasal.
“Maksud
lo?” Tigor keheranan.
Belum
gue akan menjawab, hal yang gue takutkan akhirnya terjadi.
“Ipank
... kamu tangkap ayam-ayam itu dan kembalikan ke kandang!” suruh Pak Harapno
sambil memperbaiki letak kacamatanya.
“Kenapa
saya, Pak?”
“Karena,”
ucap beliau dengan mimik muka seserius mungkin, “kamu sudah akrab dengan
ayam-ayam itu, jadinya gampang!”
Brengsek!
Sejak kapan gue akrab dengan ayam si Cimol? Gue menolak, nggak ada kerjaan lain
apa selain nangkep ayam? Namun, rupanya keputusan Pak Harapno sudah bulat,
beliau mengketuk-ketuk spidol ke meja. Gue hanya bisa pasrah kembali menangkap
ayam-ayam itu.
Entah
kebetulan atau tidak. Ada satu ayam yang berjalan ke bangkunya Gigi, ini antara
senang atau tidak bagi gue. Senang karena bisa lihat Gigi dari dekat, tapi malu
dong kalau gue nyamperin sambil nangkep ayam.
“Ayamnya
lucu, ya, Pank?” Gigi memuji seraya menatap ayam yang udah gue tangkep. Gue
kontan menoleh heran. “Lucu kayak kamu,” lanjutnya lagi.
Hati
gue kayak disambar geledek paling keras. Dipuji sama cewek yang kita suka tentu
seneng banget dong. Apalagi sekarang gue tengah melihat Gigi yang tersenyum
lepas. Rambut panjangnya yang indah, gigi kelinci yang terselip di antara dua
bibir mungilnya, serta aroma alami dari tubuh Gigi semakin membuat gue
cenat-cenut.
“Maksud
Gigi, lo lucu mirip ayam, Pank!!!” celetuk Tole yang duduk di belakang Gigi.
Tawa
seisi kelas langsung pecah, mereka kayak yang puas banget ngetawain gue. Si
Tigor malah sampai tak terkontrol, dia terjatuh dari duduknya saking puas
nertawain gue. Dengan bersungut-sungut gue giring semua ayam itu keluar kelas.
“Ini
semua gara-gara nih ayam!” Gue memandang geram induk ayam yang tengah gue bawa.
Melampiaskan kekesalan gue yang terpendam selama ini.
***
Sepulang
sekolah, gue ngebut ngerjain PR untuk besok di sekolah. Kebetulan si Tigor
sudah dapet contekan dari yang lain jadi tinggal gue salin. Soalnya gue punya
prinsip, kalau di rumah tuh ngerjain hobi bukan PR! Jadi sebisa mungkin gue
selesain PR ini secepatnya. Biar besok bisa agak santai.
“Lo
ngapain masih di sini, Pank?!” Suara lembut nan halus mengagetkan gue yang
tengah menulis dengan kecepatan yang tak terkira.
“Biasa,
Gi, ngerjain tugas.”
Gigi
melihat apa yang gue tulis. “Halah bilang aja nyontek!” cibirnya. “Tapi gue
boleh ikut nyalin, ya?” Gadis itu kemudian duduk di sebelah gue lalu
mengeluarkan buku tulisnya.
Jantung
gue berirama kayak bel becak. Trrr! Trrr!
Trrrr! Berdetak tak karuan. Setiap kali gue ngeliat Gigi deket banget sama
gue, saat itu pula gue merasa ada bagian tubuh gue yang mendadak tegang.
Maksudnya ... hati gue yang tegang .... Gigi emang sosok cewek yang sempurna
banget bagi gue, tapi entah menurut temen gue yang lain, semoga aja nggak.
Kami
asyik nyalin PR tak bicara sepatah kata pun, hanya kesunyian yang melanda. Saat
seperti ini gue merasa diri gue bodoh. Gue udah dapat kesempatan berduaan
dengan Gigi, tapi kenapa gue seperti merasa canggung untuk mengajaknya
berbicara?
Mungkin
ini emang sifat alami gue, yang selalu terlihat lemah kala berhadapan dengan
perempuan yang gue cinta. Walaupun banyak yang bilang kalau gue ini tak punya
kemaluan. Eh ... nggak tahu malu, atau muka tembok istilahnya. Namun, tetap
saja gue juga kayak lelaki lain yang tak bisa berkutik bila berhadapan dengan
orang yang gue sayang.
“Bentar,
Pank! Gue sedikit lagi,” ujar Gigi sambil tangan kirinya menahan tangan gue,
mencegah gue untuk tidak membuka halaman selanjutnya.
“Santai
aja, Gi, gue tungguin kok.”
Gigi
tersenyum memamerkan gigi kelincinya yang menggemaskan--gadis itu kembali asyik
dengan pekerjaan kotornya sebagai pelajar--nyontek.
Sialan!
Melihat senyumannya malah semakin membuat gue terbuai. Oh Tuhan, betapa
cantiknya wanita bernama Gigi ini.
“Oi,
Pank, buruan! Gue udah selesai nih.” Gigi menyadarkan lamunan gue, kami pun
kembali melanjutkan nyalin PR. “Pank, gue boleh nanya sesuatu?” tanya Gigi
tanpa menoleh sedikitpun pada gue, terus ngebut dengan tulisannya.
“Nanya
apa, Gi?”
Gigi
berhenti menulis, dia lalu meletakkan pensilnya dan menatap gue dengan tatapan
serius. Gue jadi kikuk.
“Gue
sebenarnya agak merasa aneh sama lo ... gue ngerasa kayak ada sesuatu ....”
Gadis itu masih memandang gue serius. “Tapi gue juga masih nggak yakin sih.”
Kali
ini bukan geledek lagi yang nyambar hati gue, tapi mungkin tendangan
halilintarnya Kojiro Hyuuga yang menerjang hati gue dengan keras. Perkataan
Gigi sukses membuat gue terperangah, apa maksudnya coba? Apa dia mulai merasa
kalau gue suka sama dia? Nggak mungkin! Perasaan, gue nggak terlalu nunjukkin
apa yang gue rasain kalau sedang bersama Gigi.
“K-kenapa
emang, Gi?”
“Tapi
lo harus jujur, ya?” Gigi memastikan. “Soalnya gue ngerasa ...”
Please deh, Gi, langsung saja! Dikira ini
lagi main sinetron apa? Ngomongnya kok setengah-setengah segala? Perasaan gue
semakin tak karuan, keringat dingin seperti keluar dari pori-pori kulit gue.
Bahkan si dedek kecil gue sampai seperti tak berasa saat ini. Gue benar-benar
dibuat dag-dig-dug oleh Gigi.
“Jadi
gini, Pank ... gue mau nanya.” Gigi menepuk pelan bahu gue. “Sejak kapan lo
suka ngurus ayam si Cimol?” tanyanya kemudian dibarengi dengan kekehannya.
“Hah?”
Gigi
semakin terbawa dengan tawanya, dia sampai terkekeh-kekeh menatap gue. Sedang
gue hanya memandangnya jutek, sebel, kirain gue dia nyadar dengan perasaan gue
sama dia. Kalau emang kayak gini, fix
gue orangnya baperan.
“Abis
lo lucu sih. Kenapa mau disuruh ngurus ayam?”
“Sebentar,
Gi. Sebelumnya gue mau meluruskan ... gue cuman disuruh balikin ayam ke kandang
bukan ngurus!” ralat gue. Gigi masih cekikikan. “Kalau gue nolak, lo tahu
sendiri kan ancaman si Cimol kayak gimana?”
Gigi
terdiam, dia lalu melanjutkan nyalin PR-nya. Gue hanya bisa menghela napas
tanda kecewa, padahal gue pengen dia respons gimana gitu? Perhatian kek. Ah,
tapi gue sadar, sudah menjadi tugas cowok untuk mencari topik pembicaraan.
Namun, apa yang harus gue perbincangkan dengan Gigi?
Tiba-tiba
gue seperti dapat ide gila, entah kenapa gue kepikiran untuk mengutarakan
perasaan gue sekarang. Yah, tidak ada salahnya, ‘kan? Gue juga belum tahu akan
ditolak atau nggaknya, yang penting gue coba ungkapin dulu rasa cinta gue.
Daripada dipendem terus, bikin jerawatan.
“G-gi,
kali ini gue yang mau nanya, boleh?”
“Balas
dendam nih? Boleh.” Gigi menoleh, seraya kembali tersenyum memamerkan gigi
kelincinya yang menggemaskan.
Kuat,
Pank! Kuat! Lo jangan dulu terbuai dengan kemanisannya, bisa-bisa batal acara
tembak menembaknya. Gumam gue dalam hati.
“Gi
... sebenernya gue ...”
“Idih,
Pank. Lo rada-rada, ya!” potong Gigi, dia mengangkat kursinya lalu bergeser
agak menjauhi gue.
“Lho?
kenapa?”
Gigi
menyimpan tangan kirinya di mata, lalu menunjuk celana gue. “Sleting lo kebuka!
Dasar mesum lo, ya!”
Gue
kaget, lalu buru-buru menutup sleting celana gue. “Sorry, Gi. Ini bener gue nggak nyadar, jangan nyangka yang
nggak-nggak, ya!”
Gigi
menghela napas. “Gue jadi tahu deh warna sempak lo!”
Wajah
gue memerah seketika menahan malu. Kenapa harus terjadi di saat seperti ini?
Sekarang gue jadi segen untuk menjalankan niat gue nembak Gigi.
Gue
melihat ke luar jendela, terlihat si Cimol sedang bermesraan dengan
ayam-ayamnya. Wajah Pak Tua itu begitu bahagia sekali saat merawat
ayam-ayamnya, terlihat senyum penuh ketulusan pada mukanya yang semakin
termakan usia. Walaupun dia orangnya ngeselin, tapi kalau melihatnya dari sisi
yang lain, gue jadi terenyuh juga.
Namun,
lupakan saja soal si Cimol. Sekarang gue bingung mesti gimana? Apa gue tetap
harus melanjutkan hasrat untuk menyampaikan isi hati gue pada Gigi? Setelah
kejadian memalukan tadi rasanya jadi semakin canggung.
Saat
gue hendak kembali menoleh pada Gigi, gue sangat terkejut ketika mendapati
wajah gadis itu sangat dekat dengan gue, tepat setelah gue berpaling. Tatapan
mata kami bertemu, hidung kami hanya berjarak beberapa inci, napasnya begitu
jelas terdengar indah. Gue kini benar-benar berada dalam situasi yang tak
pernah gue duga sebelumnya.
Gejolak
perasaan gue semakin memuncak, kini sudah tanggung untuk mundur. Maju terus
Ipank! Gue menyemangati diri sendiri dalam hati.
Dengan
keberanian yang coba gue kumpulkan. Gue genggam kedua tangan gadis itu dengan
dua tangan gue. Gila! Mulus banget, euy. Dengan hati yang semakin
berdebar-debar, gue tatap mata Gigi lekat-lekat, gadis itu juga memandang gue
dengan tajam. Walau sedikit gugup, gue coba langsung mengatakan perasaan gue.
“A-anu
... G-gi .... G-gue, sebenernya .... S-sebenernya ...,” ucap gue tergagap, gue
bener-bener tak bisa untuk berbicara lancar, seperti ada sesuatu yang menyekat
tenggorokan gue.
“L-lo
kenapa, Pank? Gue jadi malu.” Gigi menunduk. “Lo mau ngomong apa sebenernya?”
Gadis itu kini menatap gue dengan nanar.
Gue
menelan ludah, mencoba menenangkan perasaan. Gue coba hirup napas dalam-dalam
dan menghembuskannya secara perlahan.
“Lo
kenapa sih? Bau tahu napas lo itu!” Gigi menyibakkan tangan gue, dia lalu
menutup hidungnya.
“B-bukan
gitu, Gi ... gue sebenernya lagi gugup,” aku gue tertunduk, “g-gue. G-gua suka
s-sama ...”
Belum
gue menyelesaikan perkataan gue. Tiba-tiba dari jendela muncul salah satu ayam
si Cimol, dan langsung meloncat ke kepala gue, serta menjadikannya tempat
berpijak. Ayam itu masih nangkring di kepala gue sambil bergemuruh ria. Gue
jelas kesel.
Dengan
kasar, gue pegang badan tuh ayam lalu gue lempar sekuat tenaga ke lantai. Ayam
itu tampak menggelepar, meski masih berusaha mengeluarkan suara sumbangnya.
“Kayaknya
lo cocok bersanding sama ayam deh, Pank,” ledek Gigi sambil cekikikan.
Gue
mendengus sebal. Namun, sesaat kemudian gue kembali menenangkan diri. Gigi
sudah selesai mengerjakan PR-nya, dan hendak pulang. Gegas gue menahannya,
gadis itu berbalik dengan lembut, seperti adegan slow motion di Drama Korea. Kami kembali beradu tatap.
Kejadian
seperti ini takkan terulang untuk yang kedua kalinya ... eh, ini kan yang
kedua. Ralat, maksud gue takkan terulang untuk yang ketiga kalinya .... Maka
dari itu, gue sekarang harus menyampaikan perasaan gue, jangan ditunda lagi!
“Ada
apa lagi, Pank?”
“Gi,
gue mau jujur sama elo.” Gue menatap Gigi dengan tatapan super serius.
“Sebenernya gue ...”
“Gue
udah tahu, Pank!”
Gue
terkejut mendengar perkataan gadis itu. “Maksud lo udah tahu?”
“Iya
gue udah tahu tentang elo ke gue.”
Jantung
gue udah nggak kayak klakson becak lagi, tapi mungkin udah kayak suara kembang
api di malam tahun baru, meledak dengan keras.
“J-jadi
gimana?”
“Iya,
nggak apa-apa.”
Hati
gue mendadak berbunga-bunga mendengarnya. “Jadi kita?” tanya gue memastikan.
“Iya,
gue nggak marah kok.”
“Hah?”
Gigi
menghela napas. “Gue tahu tadi pas upacara lo ngerasain dada gue, ‘kan? Gue nggak
marah kok, gue tahu lo nggak sengaja.”
Wajah
gue memerah seketika mendapat tanggapan seperti itu dari Gigi. Gue kira dia
sudah tahu tentang perasaan gue, nyatanya malah kejadian enak tadi, he he he.
Namun, gue tidak boleh teralihkan! Gue harus tetap kuat hati untuk mengutarakan
perasaan ini. Gue sudah tak sanggup memendam lebih lama lagi.
“Bukan
itu, Gi ... tapi ini hal yang lebih serius.” Gue mengeratkan pegangan tangan
gue pada Gigi. “Sebenernya udah lama gue pengen bilang sama elo kalo gue ...
kalo gue ... s-su ...”
Brak!
Tiba-tiba
ada seseorang yang menendang pintu kelas dengan keras. Sontak perhatian kami
berdua langsung tertuju kepadanya. Dengan kepulan asap dari rokoknya yang
melewati mata, si Cimol berdiri tegap di muka kelas.
“Berengsek!
Lo apain ayam gue, hah?!” Si Cimol menghampiri ayamnya yang tergeletak di
lantai. “Nggak takut sama peraturan sekolah lo?!”
Gue
jelas kaget dengan kedatangan si Cimol yang tiba-tiba, dia pasti bakal ngamuk
perihal ayamnya yang telah gue hajar. Ditambah lagi sekarang gue sedang
memegang erat tangan Gigi dengan posisi face
to face, entah malapetaka apa yang akan datang pada gue.
“Mau
jadi anak bandel rupanya kamu, ya. Beraninya pegang-pegangan tangan di
sekolah.” Si Cimol berjalan cepat ke arah gue. “Ikut gue ke ruang kepsek
sekarang!”
“Bentar,
Mol. Lo salah paham!” Gue bermaksud memberi penjelasan.
“Salah
paham apaan?”
“Pertama,
gue megang tangan Gigi di kelas bukan di sekolah!” papar gue. “Kedua, bukannya
murid bermasalah itu dilaporinnya ke Guru BK? Kenapa malah ke kepsek?”
Gigi
setengah mati menahan tawanya mendengar perkataan gue. Sedang si Cimol dengan
matanya yang makin membulat sempurna, langsung mencak-mencak sama gue.
“Ah
pokoknya lo ikut gue sekarang!”
Gue
menatap Gigi lembut. Gigi juga menatap gue. Gue coba berikan pandangan penuh
arti kepadanya, berharap dia mengerti.
“Maaf,
Gi. Aku harus pergi sekarang,” ucap gue lirih sambil mencoba melepas pegangan
tangan gue dari Gigi.
“Kamu
janji akan kembali, ‘kan, Pank?” balas Gigi dengan mimik wajah dibuat seserius
mungkin.
“Aku
tidak bisa berjanji, maaf!” Gue coba buat suasana sedramatis mungkin.
“Berengsek!
Pake acara drama segala. Ayo cepet ikut gue!” bentak si Cimol yang langsung
menyeret gue secara tak hormat.
Sekilas
gue masih melihat sunggingan senyum dari bibir Gigi yang begitu indah. Yah
walaupun gue terus gagal menyampaikan rasa ini dikarenakan gangguan yang selalu
datang. Namun, setidaknya melihat senyuman dari gadis itu sudah cukup untuk
membuat hati gue tenteram.
***
“Baik
sekali kamu melanggar dua peraturan sehingga sekolah kembali mendapat dana
segar,” kata kepsek dengan nada yang agak menyindir.
Sekarang
gue sedang berada di ruang kepsek, berbicara enam mata dengan bapak-bapak
senior ini. Ya, kepsek dan si Cimol. Entah kenapa si Cimol juga ada di sini
ikut mencecar gue, apa hubungannya coba dengan penjaga sekolah? Gue jadi makin
curiga ada apa-apanya antara si Cimol dan kepsek.
Gue
hanya bisa menunduk, males memandang wajah kepsek yang selalu mainin inhaler di hidungnya.
“Sesuai
peraturan sekolah, kamu sekarang didenda dengan dua tuduhan!” teror kepsek
dengan menaikkan oktaf suaranya. “Yang pertama karena telah bermesraan di
sekolah, dan yang kedua karena berbuat tidak terpuji sama ayam Pak Sunarto.”
Gue
hanya bisa mengangguk-ngangguk mendengar penuturan kepsek yang dengan seenaknya
mendenda gue. Padahal di sekolah mana coba yang nampol ayam aja didenda? Nih
sekolah lama-lama jadi seperti sarang seorang koruptor.
“Pak
Kepala Sekolah. Dilihat dari tingkat kengambekan ayam saya ini. Sepertinya dia
harus didenda sebesar lima ratus ribu!” Si Cimol ikut bersuara.
“Amit-amit!”
Gue bergidik ngeri.
“Jangan
ngamuk dulu, gue belum beres!” ujar si Cimol. “Ditambah dengan bermesraan di
kelas tadi, totalnya jadi satu juta!”
Berengsek!
Gue udah nggak tahan berargumen dengan orang-orang ini. Duit dari mana seorang
anak sekolah dapet satu juta? Ngepet? Gue hanya bisa menggeleng berulang-ulang
kayak kaset yang rusak.
Nih
duo tuo kalo urusan duit emang suka nggak kira-kira, nggak pandang-pandang.
Yang penting ada yang melanggar peraturan yang mereka buat, udah, kantong
mereka bakal penuh. Tanpa melihat siapa sebenarnya yang mereka hukum, murid
biasa yang tak bisa apa-apa.
“Assalamualaikum.”
Tiba-tiba
Gigi masuk ke ruang kepsek, dan memberi hormat kepada kepsek tercinta, gadis
itu lalu duduk di sebelah gue. Gue hanya diam seraya memainkan kedua tangan
satu sama lain, sibuk menerka-nerka kenapa Gigi datang kemari.
“Ada
perlu apa, ya? Saya rasa saya tidak mengundang Anda,” kata si Cimol, “mau
bermesraan lagi di sini? Nanti didenda lagi lho.”
Dengan
penuh percaya diri, Gigi membalas perkataan si Cimol.
“Begini,
Pak. Tadi kan Ipank berdua sama saya di kelas. Kenapa hanya Ipank yang dibawa
ke sini, tidak dengan saya juga?”
Kepsek
dan si Cimol saling pandang satu sama lain, entah apa yang tengah mereka
pikirkan. Gue hanya diam saja, sambil sesekali mencuri-curi pandang
memperhatikan wajah Gigi.
“Pak
Sunarto ini bagaimana sih? Yang teliti dong! Kan yang melanggar dua orang.”
“Maafkan
kesalahan saya, Pak. Saya tak akan mengulanginya lagi,” jawab si Cimol.
“Tapi
dengan begini, lumayan dua juta masuk ke kantong kita,” tandas kepsek dengan
tertawa terbahak-bahak, “eh, maaf. Maksud Bapak, sekolah jadi tambah dana untuk
pembangunan.”
Gue
jadi tambah gedek ngedengernya, sejak dari awal masuk ke sekolah ini sampai
sekarang, nih duo tuo emang mata duitan banget. Gue ngeliat mereka berdua
kembali berbisik, entah rencana jahat apa lagi yang mereka rencanakan.
“Gi,
kenapa lo dateng ke sini?” bisik gue pelan.
“Biar
adil dong, kan lo tadi sama gue.” Gigi mendekatkan wajahnya lebih dekat. “Sama
gue penasaran dengan yang lo mau katakan tadi,” sambungnya, “tadi lo mau
ngomong apa sama gue, Pank? Gue masih inget lo bilang, ‘gue s-su’ itu su apa?
Maksud lo Sunarto?”
“Gilingan
aja lo, Gi. Liat dulu situasi kita sekarang.”
“Cuek
aja, mata mereka lagi ijo nggak bakal nyadar dengan pembicaraan kita.” Gigi keukeuh ingin mengetahui maksud gue.
Gue
diam sejenak. Memikirkan harus bagaimana menjawabnya, apa gue harus mengatakan
perasaan gue sekarang? Di ruang kepsek, dan gue sedang menjalani hukuman. Apa
nggak ada momen lain yang lebih dari ini?
Tapi
setelah gue pikir-pikir, kayaknya boleh juga gue ngungkapin perasaan di sini,
sekarang juga. Kali aja pernyataan cinta gue bakal masuk dalam “7 Pernyataan
Cinta Unik” versi On The Spot. Ya kali aja gitu.
“Kalo
gue bilang, lo nggak bakal marah, ‘kan, Gi?”
Gigi
menggeleng. “Kan gue belom tahu, ya nggak bakal marah!” tanggapnya. “Lagian gue
orangnya santai kok, tenang aja.”
Gue
merapatkan posisi duduk gue agar lebih dekat dengan Gigi. Setelah dirasa gue
sudah siap secara fisik maupun mental. Gue coba ngomong ke Gigi.
“G-gue
suka sama elo, Gi!” ujar gue nekat.
Gigi
terdiam mendengar perkataan gue, pandangannya menunduk, entah apa yang
dipikirkannya. Gue jadi salah tingkah sendiri, gue bener-bener bingung. Apa gue
bakal ditolak?
“Gue
udah tahu, Pank,” cetus Gigi akhirnya, “tapi ...”
Gue
menelan ludah secara cepat berulang-ulang. Mendengar kata “tapi” juga sudah
membuat gue memiliki pikiran negatif. Gue takut Gigi bilang.
“Tapi
kamu terlalu baik untuk aku.”
“Tapi
kita sudah lama temenan.”
“Tapi
aku cewek dan kamu cowok.”
Jawaban
klise dari cewek saat pernyataan cinta, tapi semoga saja Gigi nggak bilang
gitu. Gue merasa nggak siap mental untuk mendapat jawaban seperti itu. Lagian
penghuni rumah sakit jiwa sudah penuh, nggak bakal muat walau nambah satu orang
lagi.
“Lo
serius suka sama gue, Pank?” tanya Gigi memastikan.
“Gue
orangnya selalu serius, Gi!”
Gigi
mencibir. “Kenapa lo bisa suka sama cewek kayak gue, Pank?” Gigi seperti masih
belum yakin dengan pernyataan gue. “Di luar sana kan masih banyak cewek yang
lebih cantik dari gue, yang lebih seksi juga banyak!” cecarnya seolah ingin
menciutkan nyali gue. “Lagian gigi gue kayak kelinci.”
Entah
roh apa yang tega merasuki gue. Gue dengan beraninya meyentuh tangan Gigi dan
menatapnya dengan tatapan super serius.
“Gue
suka sama elo, Gi, itu saja! Nggak ada alasan.” Gue menarik napas mencoba
mengatasi rasa gugup. “Lo itu cantik di mata gue, meski nggak seksi ... lagian
gue suka sama cewek yang giginya ...”
“Woii!!!
Malah bisik-bisik! Kalian kira ini lagi ulangan?! Kebiasaan nyontek sih!” Si
Cimol tiba-tiba membentak. “Terus itu kenapa pegangan tangan segala? Mau
ditambah lagi dendanya?”
Gue
kaget setengah mati. Dengan cepat gue menarik tangan gue kembali dari Gigi,
sembari memasang wajah memelas.
“Maaf,
Mol. Tadi ada lalet di tangan Gigi, gue cuman bantu ilangin.”
“Dik
Ipank ini tidak punya tata krama dalam berbicara, ya? Kepada Pak Sunarto berani
bilang begitu, sungguh tidak mencerminkan seorang pelajar yang baik.” Kepsek
memberi komentar atas sikap gue.
Gue
sekarang kayak lagi berhadapan duo tuo yang sifatnya kayak cewek. Salah melulu
gue kayaknya di mata mereka, gue jadi agak risih. Apa gue mampu bertahan satu
tahun lagi di sekolah ini? Gue jadi ngeri ngebayanginnya.
“Iya,
Pak. Maafkan kesalahan saya lagi,” pinta gue tertunduk.
“Sudah,
daripada kalian berlama-lama di sini, mending langsung saja. Kapan mau bayar
dendanya?” kejar kepsek. “Ini demi pembangunan sekolah lho. Demi kalian juga.”
“Tapi,
Pak. Duit sejuta itu terlalu besar bagi kami.” Gigi memberi pembelaan.
“Kan
kalian bisa patungan. Lima ratus ribu bisa, ‘kan?”
“Oke,
Pak. Jadi satu juta untuk denda kami berdua!” respon Gigi cepat. “Tapi kami
bayarnya nyicil, ya, Pak. Sampai kami lulus nanti!” imbuhnya. “Ingat, Pak. Satu
juta untuk berdua!”
Kepsek
dan si Cimol saling pandang, baru ngeuh dengan kelicikan Gigi.
“Oh
tidak bisa. Dendanya tetap satu juta untuk satu orang!” Kepsek menandaskan.
Gue
yang denger percakapan mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Heran. Bicara
duit sejuta kayak yang lagi ngomongin politik, enteng banget. Dikira duit
segitu bisa didapet dengan cepet apa? Pengen gue laporin nih kepsek, tapi entah
kenapa nurani gue malah berkata lain.
Gigi
mengeluarkan ponselnya dan memasang wajah setengil mungkin.
“Maaf,
Pak. Sejak saya datang ke ruangan ini, saya sudah pencet tombol rekam di ponsel
saya,” umbar Gigi dengan wajah penuh percaya diri, “tadi Bapak sudah bilang
saya dan Ipank patungan 500 ribu ... jadi tak bisa ditarik ulang.”
Kepsek
dan si Cimol memandang geram. Seperti merasa tak terima dipermainkan oleh Gigi.
Mereka terlihat beradu argumen sebentar, entah apa yang tengah diperbincangkan
gue nggak tahu. Yang pasti, tetep saja 500 ribu itu bukan jumlah yang sedikit.
“Baik,
Bapak setuju. Kalian patungan 500 ribu ... mohon lekas dibayar, sedang ada
keperluan”
Setelah
mengatakan itu, gue dan Gigi dipersilakan untuk segera keluar. Mungkin mereka
berdua udah eneg melihat kami berdua, yang telah mengacaukan keinginan mereka
untuk mendapatkan dua juta.
Saat
gue dan Gigi sudah di luar, si Cimol ngomong lagi.
“Kalian
jangan lupa bermesraan lagi, gue lagi butuh buat beli ayam pelung.”
Blam!
Gue
langsung menutup pintu dengan keras meluapkan kekesalan yang teramat sangat.
***
Ternyata
setelah gue mengungkapkan perasaan kepada Gigi. Gue malah didera keresahan hati
yang teramat sangat. Bagaiman tidak? Sesaat setelah kami keluar dari ruangan
kepsek. Gigi bilang gini sama gue.
“Sorry, Pank. Gue butuh waktu buat
ngejawabnya ... dan gue nggak tahu kapan bisa jawab.”
Maksudnya
apa coba? Apa dia sengaja pengen membuat gue menunggu? Atau dia memang tak
memiliki rasa sedikit pun pada gue. Yang jelas, lebih baik gue ditolak saat itu
juga, daripada gue harus menunggu yang tak pasti. Jadi intinya, gue digantung!
Keesokan
harinya, gue berangkat ke sekolah dengan wajah lesu. Asli males banget. Gue
malu ketemu Gigi, juga takut dia cerita sama temen-temennya, gue pasti bakal diledek
habis-habisan. Cewek kan emang suka saling mencurahkan hatinya pada sobatnya.
Mending kalo sobatnya itu bisa jaga rahasia, nah kalau disebar? Gue mampus!
Belum
lagi harus ngeladenin kepsek dan si Cimol, duo tuo yang ngeselinnya lebih parah
dari koneksi internet yang lemot. Ditambah ayam-ayam sialan yang selalu membuat
gue naik pitam. Ah, tapi sudahlah, hadapi saja semua itu.
Sesampainya
di sekolah. Gue langsung disambut sama Tigor. Namun, gue lihat wajahnya cerah
banget, dia nyengir lebar banget sama gue. Duile, mending manis, belum lagi
masih ada sisa cabe yang terselip di giginya.
“Selamat,
Pank! Hari ini kita merdeka!” sambut Tigor ketika gue melewati koridor sekolah.
“Merdeka
apaan?”
“Ayamnya
si Cimol mati semua!”
Langkah
gue langsung terhenti. Mulut gue ternganga lebar, permen karet yang udah gue
kunyah sejam lebih hampir mencolot keluar. Gue begitu terkesiap mendengar
perkataan Tigor. Ayamnya si Cimol mati semua katanya? Berita yang cukup heboh
di pagi hari.
Tapi
gue merasa tak percaya, gue langsung berlari menuju kandang ayam si Cimol yang
berada tepat di samping kelas gue. Sesampainya di sana, gue ngeliat si Cimol
sedang menangisi ayam-ayamnya. Pak Tua itu menangis tersedu-sedu. Tak bisa
menahan rasa sakitnnya ditinggal ayam-ayam yang telah dia rawat selama ini.
Namun, ternyata ada beberapa yang masih hidup.
Terlihat
Bi Kantin dan kepsek tengah menghibur si Cimol. Gue sendiri walaupun eneg sama
dia, tetep nggak tega liatnya. Namun, gue hanya tetap berdiri di tempat gue
saat ini melihat si Cimol meratapi ayam-ayamnya.
“Sudahlah,
Pak. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan ... relakan saja kepergian
ayam-ayam itu,” hibur Bi Kantin.
“Gimana
gue bisa rela? Liat nih, hampir semua ayam gue mati!” bantah si Cimol. “Walau
gue beli ayam lagi, tapi pasti bakal beda rasanya!”
Bi
Kantin menghela napas, berusaha sabar menghadapi si Cimol. “Memang kita akan
merasa sedih saat kehilangan sesuatu yang telah kita rawat dari kecil. Tapi
percayalah, Pak. Ayam itu jauh menderita.”
Si
Cimol menoleh heran ke Bi Kantin, merasa tak mengerti dengan apa yang
dikatakannya.
“Bapak
tidak menyadari sudah seminggu ini ayam Bapak terlihat sakit? Mereka terkena
virus, Pak.” Bu Kantin menjelaskan dengan lembut. “Coba lihat ayam yang ini,
sudah tak bisa berdiri bukan? Sebentar lagi juga mereka akan mati,” tutur Bi
Kantin lagi.
Si
Cimol menatap ayam-ayamnya nanar. Pak Tua itu menghampiri salah satu ayam, lalu
mengusapnya dengan lembut. Semua yang ada di sana terharu melihatnya, betapa
tulus si Cimol merawat ayam-ayamnya. Mungkin bagi dia, merawat ayam sudah
menjadi suatu keharusan yang mesti dilaksanakan sebaik-baiknya.
Gue
yang orangnya emang suka terbawa perasaan, sudah tidak sanggup melihat kejadian
ini. Gue langsung balik menuju kelas, mencoba kembali menenangkan perasaan gue,
yang sempat terenyuh melihat si Cimol.
Di
kelas, gue liat Gigi sudah ada di sana. Dia memandang si Cimol dari balik
jendela, terlihat raut muka yang menunjukkan perasaan sedih. Gue rasa dia juga
sama terbawa perasaan, melihat orang yang begitu sedihnya meratapi kepergian
sesuatu yang dia sayangi. Namun, gue tak berani mendekati Gigi, jadi agak
canggung. Gue langsung ke bangku dan ngobrol sama Tigor.
“Kasian
si Cimol, ya, Gor?” Gue membuka percakapan. “Meski jelek-jelek juga dia kan
orang.”
Tigor
menoleh sewot. “Lo kok ngomong gitu sih? Jangan kasian sama orang itu!”
“Sorry-sorry.”
“Gue
malah sekarang khawatir sama kita!”
“Kenapa?”
tanya gue heran.
Tigor
menatap gue dengan serius, “Gue takut dia frustasi, terus bunuh diri di pohon
jengkol ... kalau hantunya gentayangan gimana? Lo nggak takut?”
Gue
hanya menggeleng pelan mendengar perkataan Tigor, dalam situasi seperti ini pun
dia tak bisa bersimpati sedikit saja untuk si Cimol.
Tapi,
dengan begini mungkin gue akan bebas di sekolah. Tak akan ada lagi peraturan
yang mengekang, serta gangguan dari ayam-ayam yang sering buat jengkel. Hanya
saja, gue berharap agar si Cimol tidak terlalu meratapi kepergian ayam-ayamnya.
***
Seminggu
telah berlalu setelah kepergian masal ayam-ayam si Cimol. Awalnya, gue ngerasa
begitu bebas, tak ada gangguan dari hewan tak bisa terbang itu. Belum lagi si
Cimol sekarang tidak begitu agresif menegakkan peraturan sekolah. Jadi para
murid sekarang begitu bersuka-cita. Malah sudah banyak yang berani menunjukkan
kemesraannya di sekolah.
Dan
sekarang, gue udah jarang bersama dengan Gigi. Padahal dulu gue sering
mendapatkan cara untuk bisa bersama dengan Gigi, walau karena ayam penyebabnya.
Namun, sekarang gadis itu terlihat sering bersama teman-teman cowoknya. Mungkin
dia sudah lupa dengan pernyataan cinta waktu itu.
Gue
menghela napas panjang, mencoba memahami situasi saat ini. Gue duduk di kursi
depan kelas gue. Biasanya sepulang sekolah gini, gue sering liat ayam si Cimol
berkeliaran ke sana ke mari. Namun, sekarang mungkin hanya rohnya yang
berkeliaran di sekolah ini.
“Balik
sekarang?” ajak Tigor.
“Duluan
saja.”
Sekarang
gue kayak merasa ada sesuatu yang kurang. Walau gue sudah terbebas dari
gangguan ayam-ayam mengesalkan itu, tapi entah kenapa hati gue terasa hampa.
Gue
sadar sekarang, ayam-ayam itu yang memberi warna tersendiri di sekolah.
Kehadiran mereka walau tak lumrah, tapi tetap bisa memberikan nuansa kesegaran.
Gue juga sadar, karena merekalah gue bisa dekat dengan Gigi. Bahkan gue sampai
berani mengungkapkan perasaan.
Tapi
sekarang, sekolah terasa begitu sepi. Tak ada lagi dalang kerusuhan di sekolah.
Tak akan ada lagi kepanikan saat upacara, karena ayam-ayam itu lepas dari
kandang. Juga tak akan ada kekonyolan yang terjadi akibat salah satu ayam yang
sering dengan cueknya nangkring di kepala.
Sekarang
gue liat si Cimol juga jarang membentak anak-anak. Dia lebih sering
menghabiskan waktunya di pos depan, kumpul bareng kawan-kawannya. Banyak anak
yang senang dengan perubahan sikap si Cimol itu, jadi sekarang mereka bebas
bermesraan di sekolah. Namun, gue malah pengen sikap si Cimol sama seperti
dulu, walau kini ayam-ayamnya telah tiada.
Mungkin
si Cimol ... maksud gue Pak Sunarto. Dia memang orang yang menyebalkan, yang
terlalu mengedepankan kehendaknya tanpa peduli dengan protes orang lain. Namun,
dengan kehadiran beliau-lah sekolah ini menjadi berwarna.
Ternyata
semua itu yang gue butuhkan selama ini. Dengan kegalakan Pak Sunarto,
kedisiplinannya, serta kekonyolannya. Pak Sunarto membuat gue bisa nyaman di
sekolah walau harus menyimpan rasa dongkol yang teramat sangat.
Tapi
gue sadar, Pak Sunarto melakukan itu demi menjalankan tugasnya sebagai penjaga
sekolah. Walaupun dia hanya berstatus ‘penjaga sekolah’ tapi selama ini justru
dia yang sangat memperhatikan akan citra sekolah. Beliau seperti orang di balik
layar akan kesuksesannya sekolah ini. Dengan begitu gigih membersihkan setiap
tempat di sekolah, serta mengawasi semua murid yang terdaftar di sekolah ini.
Gue
berharap Pak Sunarto bisa kembali seperti dulu. Dengan sifatnya yang galak dan
nyebelin, tapi terdapat ketulusan saat dia mengayomi sekolah ini, juga gue
sebagai salah satu murid.
Tapi
gue sadar, semua kenangan itu sudah menjadi masa lalu, dan tak mungkin terulang
untuk kedua kalinya. Namun, tak ada salahnya juga bagi gue untuk terus
berharap, selagi gue masih mengenakkan seragam putih abu ini.

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Kenangan Yang Tak Akan Terulang"
Post a Comment