CERPEN - Kenangan Yang Tak Akan Terulang


 
Kenalin, nama gue Ipank. Gue masih duduk di kelas dua SMA. Di sekolah gue ada penjaga yang ngeselin banget. Saking ngeselinnya, Mbak Tukang Jamu ganjen yang latah masuk ke sekolah jadi segen, kapok digoda mulu. Namanya Sunarto, tapi temen-temen gue sering manggil si Cimol. Entah karena dia jualan cimol atau apa, tapi rupanya julukan itu telah melekat pada diri sang penjaga ini.

Yang membuat gue kesel sama si Cimol bukan karena tampangnya yang jelek. Karena kalau soal tampang mah gue juga nyadar diri. Coba bayangin, kalau misal lo lagi PDKT sama cewek yang lo suka, terus ada yang ganggu, pasti kesel, ‘kan? Si Cimol ini hobi banget ganggu aktivis dunia pacaran di sekolah. 

Dia kerap muncul saat momen yang mendebarkan. Seperti sedang pegangan tangan, pernyataan cinta, mojok berduaan, atau ... sepertinya tak sopan untuk gue katakan. Dan si Cimol sering bangga dengan tindakannya itu, karena menurutnya, dia telah menyelamatkan citra sekolah.

“Pokoknya yang ketahuan mojok, bakal gue cipok satu-satu!” ancamnya yang membuat bulu kuduk anak-anak bergidik. Mending dicipok kunti deh ketimbang si Cimol.

Oke, itu bagus tapi, please deh, Mol. Gue kan belum pacaran. Gue cuman berusaha ingin lebih dekat dengan Gigi--cewek yang udah gue incer dari zaman purba--karena gue udah ngerasa lama banget ngegebet Gigi, tapi tuh cewek adem ayem aja pas gue deketin.

Balik lagi ke masalah si Cimol. Dalam melaksanakan operasinya, ngeganggu yang lagi pacaran. Ada makhluk lain yang senantiasa membantu si Cimol--atau bahasa kerennya partner. Seperti Batman dan Robin, Upin dan Ipin, juga Aku dan Kamu, walau kenyataannya kita belum menjadi partner. Si Cimol juga punya partner yang sama ngeselinnya.

“Ayam sialan!” maki gue ketika mendapati partner si Cimol yang dengan cueknya nangkring di kepala. Gue langsung tampol tuh ayam sampai menggelepar di lantai.

Ya--partner si Cimol ini bukan sejenis alien atau mimi peri yang belakangan ini femes. Melainkan ayam kampung. Si Cimol seneng banget miara ayam, dan kandang ayamnya tepat di sebelah kelas gue. Jadi kebayang dong ributnya gimana?

Si Cimol memang tinggal di sekolah. Dia diberi lahan khusus oleh kepsek untuk menjadi tempat tinggalnya, serta agar terus mengabdi pada sekolah ini hingga akhir hayat. Dan si Cimol semakin jumawa karena diperbolehkan ngurus ayam di sekolah, karena untuk mengurus bini, si Cimol nggak ahli. Ribet katanya.

Setiap pagi, si Cimol rajin ngebersihin kandang ayamnya. Mulai dari ngasih makan, mandiin, kasih pewangi, sampe buang eeknya ke kelas gue. Cuek aja sama murid yang datang terlambat, yang penting kesehatan ayamnya terjaga. Dan moto yang paling diutamakan si Cimol di sekolah ini adalah ‘DILARANG MOJOK’ duile, anak-anak jadi keki. Kalo gue sama sebagian orang yang senasib sih biasa aja, cuman yang gue kesel, kenapa dia suka ganggu gue pas lagi deketin Gigi?!

“Apaan lo nampol ayam gue?” Si Cimol berjalan cepat sambil memegang arit yang ada stiker ayamnya. Lengkap dengan setelan khasnya, pake kaos abu, celana hitam longgar, kepala diblengker, plus jenggotnya yang panjang aduhai. “Mau gue tampol balik lo?”

“Santai, Mol! Ayam lo yang seenaknya nangkring di kepala gue!” Gue coba memberi pembelaan.

Si Cimol bukannya minta maaf, dia malah memasang wajah garang. “Lo belum liat peraturan baru sekolah?!”
“Peraturan apaan?”

Plokk!

Si Cimol langsung menempelkan selembar kertas ke muka gue dengan keras, momen seperti terhenti sesaat ketika itu. Walau terhalang kertas, tapi bau tangan si Cimol begitu terasa menyengat, abis nebas pohon jengkol sekolah kali, ya? Dengan kesal gue menampik tangan si Cimol, lalu membaca isi kertas itu.

Peraturan baru sekolah: Dengan segala hormat bagi setiap murid yang sebenarnya tidak perlu saya hormati. Demi terjaganya kualitas ayam di kota ini, mulai sekarang jangan ada yang berani mengganggu ayamnya Pak Sunarto. Bila ada yang melanggar tentu ada dendanya. Untuk berapa besar denda yang akan diberikan kepada si pelanggar, tergantung ngambek nggaknya tuh ayam!

“Kepsek gila! Ngapain coba bikin peraturan ginian?” Gue mengucek-ngucek kertas itu sampe kusut, lalu melemparnya ke sembarang arah.

“Gue cuman ngasih tahu peraturan baru.” Si Cimol menanggap enteng. “Dan peraturan ini bakal berlaku mulai senin!” tandasnya.

“Jadi kalo gue potong ayam lo sekarang boleh?”

Si Cimol mengambil kertas yang gue buang lalu membenarkannya. Pak Tua itu langsung membentangkan kertas tadi tepat di depan mata gue. “Baca lagi yang bawahnya!” semburnya dengan nada penuh penekanan.

Jika sebelum hari senin ada yang membunuh ayam Pak Sunarto. Maka sang pembunuh harus membayar denda sebesar kerugian yang dikeluarkan saat acara makan-makan ayamnya Pak Sunarto. Jadi mending bunuh aja sekarang! Biar kita bisa makan-makan! Buruan!

“Kepsek kapitalis!” Gue kembali bersungut. Heran. Kok punya kepsek sifatnya kapitalis gini? Gue lalu memandang si Cimol. “Emang kalo ayamnya dipotong sekarang bakal ada acara makan-makan?”

“Ada! Tapi semua biaya ditanggung sang pembunuh!”

“Amit-amit!” Gue langsung bergidik ngeri. Gue heran. Apa kata pembunuh itu bisa diganti? Kesannya jadi kayak psikopat.

Tapi emang enak sih kalo ayam si Cimol dipotong dan ada acara makan-makan. Soalnya ayamnya hampir selusin lebih, belum lagi anak-anaknya. Kan enak tuh kalo bikin acara bakar ayam malem-malem. Apalagi gue bisa makan berdua dengan Gigi di sekolah sambil lihat bintang-bintang kecil. Ahh, tentu indah banget.

Namun gue langsung menepis pikiran jauh-jauh. Isi dompet gue lagi sekarat untuk bisa berjuang demi Gigi.

***

Senin pagi. Matahari mulai berani menyembul dari balik sang mega. Embun pagi sudah puas berada di bumi dan kembali menguap. Suara syahdu nyanyian burung-burung kecil semakin membuat ... ah udah! Gua nggak jago bikin kata-kata puitis. Senin pagi ini, gue udah sama anak-anak lain di lapangan. Biasa, upacara.

Saat kepsek memulai pidatonya sebagai pembina upacara, entah kenapa sinar di mata gue seperti menghilang seketika. Redup. Peri-peri di alam mimpi pun kembali menggoda untuk gue singgah ke alamnya. Gue sempat terbuai dengan menguap mesra. Ingin rasanya tertidur saat ini. Namun, gue sadar bakal jadi bahan olokan kalo gue tidur sekarang, sekuat mungkin gue tahan rasa kantuk ini.

Tapi gagal! Godaan peri cantik memang tak sanggup untuk dihiraukan, maka dari itu gue coba merengsek ke barisan depan, melihat peri yang sebenarnya. Gigi. Demi menghilangkan rasa kantuk.

“Ngapain lo di sini?” Tigor yang merasa terusik dengan kehadiran gue berusaha mendorong gue untuk kembali.

Sorry, Gor. Gue ngantuk. Mungkin gue kalo liat Gigi bakal seger lagi.”

Gue langsung beringsut mendekati Gigi, kebetulan dia berada di barisan paling belakang anak-anak cewek. Gue pun telah berada tepat di belakang Gigi, tapi gue tetap menjaga jarak, takut menyentuh bagian terlarangnya. Hidung gue sontak kembang-kempis keenakan menghirup aroma alami tubuh Gigi.

Tapi karena gelagat gue yang mungkin terlihat begitu jelas. Gue nggak sadar kalau si Cimol sudah berdiri tegak menantang di sebelah gue. Tanpa tedeng aling-aling, si Cimol langsung menjewer telinga gue dan menyeret ke tengah lapangan.

“Nah anak-anak, ini contoh siswa yang tak menuruti aturan seperti Bapak bilang tadi.” Suara kepsek begitu menggelegar menghujam hati gue. “Kalau tidak salah, nama adik ini, Ipank, ‘kan?” tanya beliau dengan intonasi suara dibuat sewibawa mungkin.

Gue mengangguk pelan. Asli malu banget berdiri sendiri di depan lapangan, di hadapan para guru dan murid lagi. Cimol sialan! Gue merutuk habis-habisan si Cimol dalam hati.

“Anak-anak sekalian, setelah melihat Dik Ipank ini, Bapak baru ingat kalau ada peraturan baru di sekolah.” Kepsek mengeluarkan kertas dari sakunya. “Mulai sekarang jangan ada yang berani lagi mengganggu ayam Pak Sunarto!”

“Kenapa, Pak?!” Terdengar suara yang begitu membahana dari arah kelas gue. 

Gue udah bisa nebak pasti itu si Tigor. Siapa lagi yang punya suara menggelegar seperti tronton selain dia?

“Tidak ada alasan khusus! Hanya peraturan baru sekolah.” Kepsek masih berbicara sewibawa mungkin. “Kalau ada yang melanggar akan diberi hukuman!” tegasnya. “Tapi Bapak menyarankan kalian untuk segera melanggar!”

“Hukumannya apa, Pak?” teriak salah seorang murid lagi.

“Itu rahasia ... nggak suprise dong kalau Bapak kasih tahu!”

Anak-anak pada bersorak riuh, kesel dengan kepala sekolah yang satu ini. Setelah mereka dilarang bermesraan di sekolah. Sekarang mereka dituntut tidak mengganggu ayam yang menjadi dalang kekesalan mereka. Mending ayamnya cuman satu, ini bejibun! Mana tuh ayam kandangnya tepat di sebelah kelas gue lagi. Gue jadi nggak bisa ngebedain mana kelas gue, dan mana kandang ayam.

Saat itu, upacara sudah memasuki bagian menyanyikan lagu wajib nasional, dan gue masih berdiri di depan lapangan seorang diri. Ketika grup paduan suara tengah khidmat memonyong-monyongkan bibir, melantunkan setiap lirik dari lagu yang dibawakannya. Tiba-tiba, dari arah koridor muncul gerombolan ayam si Cimol dan langsung ikut membaur di lapangan.

Sontak semua yang ada di sana panik seketika. Para penjaga sekolah dan beberapa guru begitu sibuk menangkap ayam si Cimol yang tampaknya lepas semua. Dan sialnya, gue juga disuruh membantu nangkap ayam-ayam itu. Dengan bersungut-sungut, gue akhirnya ikut juga nangkep ayam.

Saat itu, ayam yang lagi gue incer malah lari menuju barisan kelas gue. Sebenarnya gue agak malu kalau ngejar ke sana. Pasti bakal diledek sama temen-temen, belum lagi di sana ada Gigi, harga diri, maannn! Namun, karena desakan dari si Cimol yang membuat gue gedek, akhirnya terpaksa gue coba nangkep tuh ayam!

Tapi, ayam itu malah melenggak-lenggok tepat di sebelah Gigi. Gue jelas bingung harus gimana, malu atuh kalau berbuat norak di hadapan Gigi. Namun, gue tak punya pilihan lain, gue harus nangkep tuh ayam! Gue langsung dengan gesit memburu ayam itu hingga akhirnya berhasil gue tangkep.

Seketika dari arah kelas sebelah ada ayam lain yang datang dan langsung menerjang. Gue bener-bener nggak ngerti maksud nih ayam, mukanya sepa banget, kayak punya dendam sama gue. Mungkin ayam yang gue tangkep ini bininya kali, ya? Dan karena terjangan ayam itu yang cukup keras, gue nggak bisa menjaga keseimbangan tubuh. Alhasil, gue terpental dan menabrak tubuh Gigi.

“A-aduh.” Gadis itu meringis tertahan.

Gue tetap bersandar pada tubuh Gigi, masih belum bisa menstabilkan kembali tubuh gue. Sesaat, gue seperti merasa ada dua bola yang namplok di punggung gue. Sekuat mungkin gue tahan pikiran gue untuk nggak mikir yang macem-macem.

S-sorry, Gi. Nggak sengaja.” Gue lalu kembali beranjak dari tempat yang menurut gue enak. “Lo nggak apa-apa, ‘kan?”

Gigi menggeleng. “Nggak ... lo sakit nggak, Pank?” tanya Gigi.

“Nggak, Gi, empuk malah,” jawab gue sambil mengedipkan sebelah mata. Gigi bengong.

Gue langsung kembali ke depan lapangan, mengumpulkan semua ayam yang tadi berbondong-bondong memenuhi isi lapangan. Yang gue bingung, kenapa dengan kejadian yang sangat mengganggu upacara ini, si Cimol tak mendapat teguran dari kepsek? Si Cimol malah dengan santainya senyam-senyum dengan kepsek. Gue jadi ngerasa ada suatu hubungan rahasia antara kepsek dan si Cimol, hiyyyy!

***

Selepas upacara, gue duduk di bangku melepas lelah menangkap ayam. Kapan penderitaan ini segera berakhir? Banyak murid yang resah sama ayam si Cimol termasuk gue. Namun, harus bagaimana lagi? Si Cimol memang diberi kuasa khusus oleh kepsek.

Saat pikiran sedang melayang, gue melihat Gigi yang duduk tak jauh dari bangku gue. Senyum gue langsung mekar, apalagi kalau mengingat momen pas upacara tadi, dan keempukan yang terasa di punggung. Gue jadi senyum-senyum sendiri. Setelah dipikir-pikir, ternyata nggak sia-sia gue disuruh nangkep ayam.

“Hayo, lagi mikir yang aneh-aneh, ya?” tuduh Tigor sambil menghentakkan tangan.

Gue tersentak kaget. “Sialan! Siapa yang lagi mikirin Gigi?”

“Siapa juga yang lagi ngomongin Gigi?” Tigor tersenyum. “Tapi tadi lo dapet yang enak, ‘kan?” sambungnya lagi dengan senyum merekah.

“Lo jangan ngiri, ya!” Gue memeletkan lidah.

Pelajaran pertama berlangsung, pelajaran yang membuat gue harus ekstra lebih memandang Gigi lekat-lekat agar tidak mengantuk. Soalnya sekarang pelajaran Pak Harapno, guru Bahasa Indonesia yang ngebosenin, bikin ngantuk. Apalagi volume suaranya yang lebih rendah dari Limbad, tentu semakin membuat anak-anak mengantuk ria.

Di tengah pelajaran, tiba-tiba ada satu ayam si Cimol masuk ke kelas diikuti keempat anaknya. Ayam-ayam itu dengan cueknya melenggang santai di depan kelas, ada pula yang sampai ke bangku gue yang paling belakang. Namun, entah kenapa perasaan gue tiba-tiba jadi nggak enak.

“Gue kok merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpa gue, ya, Gor?” ungkap gue ngasal.

“Maksud lo?” Tigor keheranan.

Belum gue akan menjawab, hal yang gue takutkan akhirnya terjadi.

“Ipank ... kamu tangkap ayam-ayam itu dan kembalikan ke kandang!” suruh Pak Harapno sambil memperbaiki letak kacamatanya.

“Kenapa saya, Pak?”

“Karena,” ucap beliau dengan mimik muka seserius mungkin, “kamu sudah akrab dengan ayam-ayam itu, jadinya gampang!”

Brengsek! Sejak kapan gue akrab dengan ayam si Cimol? Gue menolak, nggak ada kerjaan lain apa selain nangkep ayam? Namun, rupanya keputusan Pak Harapno sudah bulat, beliau mengketuk-ketuk spidol ke meja. Gue hanya bisa pasrah kembali menangkap ayam-ayam itu.

Entah kebetulan atau tidak. Ada satu ayam yang berjalan ke bangkunya Gigi, ini antara senang atau tidak bagi gue. Senang karena bisa lihat Gigi dari dekat, tapi malu dong kalau gue nyamperin sambil nangkep ayam.

“Ayamnya lucu, ya, Pank?” Gigi memuji seraya menatap ayam yang udah gue tangkep. Gue kontan menoleh heran. “Lucu kayak kamu,” lanjutnya lagi.

Hati gue kayak disambar geledek paling keras. Dipuji sama cewek yang kita suka tentu seneng banget dong. Apalagi sekarang gue tengah melihat Gigi yang tersenyum lepas. Rambut panjangnya yang indah, gigi kelinci yang terselip di antara dua bibir mungilnya, serta aroma alami dari tubuh Gigi semakin membuat gue cenat-cenut.

“Maksud Gigi, lo lucu mirip ayam, Pank!!!” celetuk Tole yang duduk di belakang Gigi.

Tawa seisi kelas langsung pecah, mereka kayak yang puas banget ngetawain gue. Si Tigor malah sampai tak terkontrol, dia terjatuh dari duduknya saking puas nertawain gue. Dengan bersungut-sungut gue giring semua ayam itu keluar kelas.

“Ini semua gara-gara nih ayam!” Gue memandang geram induk ayam yang tengah gue bawa. Melampiaskan kekesalan gue yang terpendam selama ini.

***

Sepulang sekolah, gue ngebut ngerjain PR untuk besok di sekolah. Kebetulan si Tigor sudah dapet contekan dari yang lain jadi tinggal gue salin. Soalnya gue punya prinsip, kalau di rumah tuh ngerjain hobi bukan PR! Jadi sebisa mungkin gue selesain PR ini secepatnya. Biar besok bisa agak santai.

“Lo ngapain masih di sini, Pank?!” Suara lembut nan halus mengagetkan gue yang tengah menulis dengan kecepatan yang tak terkira.

“Biasa, Gi, ngerjain tugas.”

Gigi melihat apa yang gue tulis. “Halah bilang aja nyontek!” cibirnya. “Tapi gue boleh ikut nyalin, ya?” Gadis itu kemudian duduk di sebelah gue lalu mengeluarkan buku tulisnya.

Jantung gue berirama kayak bel becak. Trrr! Trrr! Trrrr! Berdetak tak karuan. Setiap kali gue ngeliat Gigi deket banget sama gue, saat itu pula gue merasa ada bagian tubuh gue yang mendadak tegang. Maksudnya ... hati gue yang tegang .... Gigi emang sosok cewek yang sempurna banget bagi gue, tapi entah menurut temen gue yang lain, semoga aja nggak.

Kami asyik nyalin PR tak bicara sepatah kata pun, hanya kesunyian yang melanda. Saat seperti ini gue merasa diri gue bodoh. Gue udah dapat kesempatan berduaan dengan Gigi, tapi kenapa gue seperti merasa canggung untuk mengajaknya berbicara?

Mungkin ini emang sifat alami gue, yang selalu terlihat lemah kala berhadapan dengan perempuan yang gue cinta. Walaupun banyak yang bilang kalau gue ini tak punya kemaluan. Eh ... nggak tahu malu, atau muka tembok istilahnya. Namun, tetap saja gue juga kayak lelaki lain yang tak bisa berkutik bila berhadapan dengan orang yang gue sayang.

“Bentar, Pank! Gue sedikit lagi,” ujar Gigi sambil tangan kirinya menahan tangan gue, mencegah gue untuk tidak membuka halaman selanjutnya.

“Santai aja, Gi, gue tungguin kok.”

Gigi tersenyum memamerkan gigi kelincinya yang menggemaskan--gadis itu kembali asyik dengan pekerjaan kotornya sebagai pelajar--nyontek.

Sialan! Melihat senyumannya malah semakin membuat gue terbuai. Oh Tuhan, betapa cantiknya wanita bernama Gigi ini.

“Oi, Pank, buruan! Gue udah selesai nih.” Gigi menyadarkan lamunan gue, kami pun kembali melanjutkan nyalin PR. “Pank, gue boleh nanya sesuatu?” tanya Gigi tanpa menoleh sedikitpun pada gue, terus ngebut dengan tulisannya.

“Nanya apa, Gi?”

Gigi berhenti menulis, dia lalu meletakkan pensilnya dan menatap gue dengan tatapan serius. Gue jadi kikuk.

“Gue sebenarnya agak merasa aneh sama lo ... gue ngerasa kayak ada sesuatu ....” Gadis itu masih memandang gue serius. “Tapi gue juga masih nggak yakin sih.”

Kali ini bukan geledek lagi yang nyambar hati gue, tapi mungkin tendangan halilintarnya Kojiro Hyuuga yang menerjang hati gue dengan keras. Perkataan Gigi sukses membuat gue terperangah, apa maksudnya coba? Apa dia mulai merasa kalau gue suka sama dia? Nggak mungkin! Perasaan, gue nggak terlalu nunjukkin apa yang gue rasain kalau sedang bersama Gigi.

“K-kenapa emang, Gi?”

“Tapi lo harus jujur, ya?” Gigi memastikan. “Soalnya gue ngerasa ...”

Please deh, Gi, langsung saja! Dikira ini lagi main sinetron apa? Ngomongnya kok setengah-setengah segala? Perasaan gue semakin tak karuan, keringat dingin seperti keluar dari pori-pori kulit gue. Bahkan si dedek kecil gue sampai seperti tak berasa saat ini. Gue benar-benar dibuat dag-dig-dug oleh Gigi.

“Jadi gini, Pank ... gue mau nanya.” Gigi menepuk pelan bahu gue. “Sejak kapan lo suka ngurus ayam si Cimol?” tanyanya kemudian dibarengi dengan kekehannya.

“Hah?”

Gigi semakin terbawa dengan tawanya, dia sampai terkekeh-kekeh menatap gue. Sedang gue hanya memandangnya jutek, sebel, kirain gue dia nyadar dengan perasaan gue sama dia. Kalau emang kayak gini, fix gue orangnya baperan.

“Abis lo lucu sih. Kenapa mau disuruh ngurus ayam?”

“Sebentar, Gi. Sebelumnya gue mau meluruskan ... gue cuman disuruh balikin ayam ke kandang bukan ngurus!” ralat gue. Gigi masih cekikikan. “Kalau gue nolak, lo tahu sendiri kan ancaman si Cimol kayak gimana?”

Gigi terdiam, dia lalu melanjutkan nyalin PR-nya. Gue hanya bisa menghela napas tanda kecewa, padahal gue pengen dia respons gimana gitu? Perhatian kek. Ah, tapi gue sadar, sudah menjadi tugas cowok untuk mencari topik pembicaraan. Namun, apa yang harus gue perbincangkan dengan Gigi?

Tiba-tiba gue seperti dapat ide gila, entah kenapa gue kepikiran untuk mengutarakan perasaan gue sekarang. Yah, tidak ada salahnya, ‘kan? Gue juga belum tahu akan ditolak atau nggaknya, yang penting gue coba ungkapin dulu rasa cinta gue. Daripada dipendem terus, bikin jerawatan.

“G-gi, kali ini gue yang mau nanya, boleh?”

“Balas dendam nih? Boleh.” Gigi menoleh, seraya kembali tersenyum memamerkan gigi kelincinya yang menggemaskan.

Kuat, Pank! Kuat! Lo jangan dulu terbuai dengan kemanisannya, bisa-bisa batal acara tembak menembaknya. Gumam gue dalam hati.

“Gi ... sebenernya gue ...” 

“Idih, Pank. Lo rada-rada, ya!” potong Gigi, dia mengangkat kursinya lalu bergeser agak menjauhi gue.

“Lho? kenapa?”

Gigi menyimpan tangan kirinya di mata, lalu menunjuk celana gue. “Sleting lo kebuka! Dasar mesum lo, ya!”

Gue kaget, lalu buru-buru menutup sleting celana gue. “Sorry, Gi. Ini bener gue nggak nyadar, jangan nyangka yang nggak-nggak, ya!”

Gigi menghela napas. “Gue jadi tahu deh warna sempak lo!”

Wajah gue memerah seketika menahan malu. Kenapa harus terjadi di saat seperti ini? Sekarang gue jadi segen untuk menjalankan niat gue nembak Gigi.

Gue melihat ke luar jendela, terlihat si Cimol sedang bermesraan dengan ayam-ayamnya. Wajah Pak Tua itu begitu bahagia sekali saat merawat ayam-ayamnya, terlihat senyum penuh ketulusan pada mukanya yang semakin termakan usia. Walaupun dia orangnya ngeselin, tapi kalau melihatnya dari sisi yang lain, gue jadi terenyuh juga.

Namun, lupakan saja soal si Cimol. Sekarang gue bingung mesti gimana? Apa gue tetap harus melanjutkan hasrat untuk menyampaikan isi hati gue pada Gigi? Setelah kejadian memalukan tadi rasanya jadi semakin canggung.

Saat gue hendak kembali menoleh pada Gigi, gue sangat terkejut ketika mendapati wajah gadis itu sangat dekat dengan gue, tepat setelah gue berpaling. Tatapan mata kami bertemu, hidung kami hanya berjarak beberapa inci, napasnya begitu jelas terdengar indah. Gue kini benar-benar berada dalam situasi yang tak pernah gue duga sebelumnya.

Gejolak perasaan gue semakin memuncak, kini sudah tanggung untuk mundur. Maju terus Ipank! Gue menyemangati diri sendiri dalam hati.

Dengan keberanian yang coba gue kumpulkan. Gue genggam kedua tangan gadis itu dengan dua tangan gue. Gila! Mulus banget, euy. Dengan hati yang semakin berdebar-debar, gue tatap mata Gigi lekat-lekat, gadis itu juga memandang gue dengan tajam. Walau sedikit gugup, gue coba langsung mengatakan perasaan gue.

“A-anu ... G-gi .... G-gue, sebenernya .... S-sebenernya ...,” ucap gue tergagap, gue bener-bener tak bisa untuk berbicara lancar, seperti ada sesuatu yang menyekat tenggorokan gue.

“L-lo kenapa, Pank? Gue jadi malu.” Gigi menunduk. “Lo mau ngomong apa sebenernya?” Gadis itu kini menatap gue dengan nanar.

Gue menelan ludah, mencoba menenangkan perasaan. Gue coba hirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

“Lo kenapa sih? Bau tahu napas lo itu!” Gigi menyibakkan tangan gue, dia lalu menutup hidungnya.

“B-bukan gitu, Gi ... gue sebenernya lagi gugup,” aku gue tertunduk, “g-gue. G-gua suka s-sama ...”

Belum gue menyelesaikan perkataan gue. Tiba-tiba dari jendela muncul salah satu ayam si Cimol, dan langsung meloncat ke kepala gue, serta menjadikannya tempat berpijak. Ayam itu masih nangkring di kepala gue sambil bergemuruh ria. Gue jelas kesel.

Dengan kasar, gue pegang badan tuh ayam lalu gue lempar sekuat tenaga ke lantai. Ayam itu tampak menggelepar, meski masih berusaha mengeluarkan suara sumbangnya.

“Kayaknya lo cocok bersanding sama ayam deh, Pank,” ledek Gigi sambil cekikikan.

Gue mendengus sebal. Namun, sesaat kemudian gue kembali menenangkan diri. Gigi sudah selesai mengerjakan PR-nya, dan hendak pulang. Gegas gue menahannya, gadis itu berbalik dengan lembut, seperti adegan slow motion di Drama Korea. Kami kembali beradu tatap.

Kejadian seperti ini takkan terulang untuk yang kedua kalinya ... eh, ini kan yang kedua. Ralat, maksud gue takkan terulang untuk yang ketiga kalinya .... Maka dari itu, gue sekarang harus menyampaikan perasaan gue, jangan ditunda lagi!

“Ada apa lagi, Pank?”

“Gi, gue mau jujur sama elo.” Gue menatap Gigi dengan tatapan super serius. “Sebenernya gue ...”
“Gue udah tahu, Pank!”

Gue terkejut mendengar perkataan gadis itu. “Maksud lo udah tahu?”

“Iya gue udah tahu tentang elo ke gue.”

Jantung gue udah nggak kayak klakson becak lagi, tapi mungkin udah kayak suara kembang api di malam tahun baru, meledak dengan keras.

“J-jadi gimana?”

“Iya, nggak apa-apa.”

Hati gue mendadak berbunga-bunga mendengarnya. “Jadi kita?” tanya gue memastikan.

“Iya, gue nggak marah kok.”

“Hah?”

Gigi menghela napas. “Gue tahu tadi pas upacara lo ngerasain dada gue, ‘kan? Gue nggak marah kok, gue tahu lo nggak sengaja.”

Wajah gue memerah seketika mendapat tanggapan seperti itu dari Gigi. Gue kira dia sudah tahu tentang perasaan gue, nyatanya malah kejadian enak tadi, he he he. Namun, gue tidak boleh teralihkan! Gue harus tetap kuat hati untuk mengutarakan perasaan ini. Gue sudah tak sanggup memendam lebih lama lagi.

“Bukan itu, Gi ... tapi ini hal yang lebih serius.” Gue mengeratkan pegangan tangan gue pada Gigi. “Sebenernya udah lama gue pengen bilang sama elo kalo gue ... kalo gue ... s-su ...”

Brak!

Tiba-tiba ada seseorang yang menendang pintu kelas dengan keras. Sontak perhatian kami berdua langsung tertuju kepadanya. Dengan kepulan asap dari rokoknya yang melewati mata, si Cimol berdiri tegap di muka kelas.

“Berengsek! Lo apain ayam gue, hah?!” Si Cimol menghampiri ayamnya yang tergeletak di lantai. “Nggak takut sama peraturan sekolah lo?!”

Gue jelas kaget dengan kedatangan si Cimol yang tiba-tiba, dia pasti bakal ngamuk perihal ayamnya yang telah gue hajar. Ditambah lagi sekarang gue sedang memegang erat tangan Gigi dengan posisi face to face, entah malapetaka apa yang akan datang pada gue.

“Mau jadi anak bandel rupanya kamu, ya. Beraninya pegang-pegangan tangan di sekolah.” Si Cimol berjalan cepat ke arah gue. “Ikut gue ke ruang kepsek sekarang!”

“Bentar, Mol. Lo salah paham!” Gue bermaksud memberi penjelasan.

“Salah paham apaan?”

“Pertama, gue megang tangan Gigi di kelas bukan di sekolah!” papar gue. “Kedua, bukannya murid bermasalah itu dilaporinnya ke Guru BK? Kenapa malah ke kepsek?”

Gigi setengah mati menahan tawanya mendengar perkataan gue. Sedang si Cimol dengan matanya yang makin membulat sempurna, langsung mencak-mencak sama gue.

“Ah pokoknya lo ikut gue sekarang!”

Gue menatap Gigi lembut. Gigi juga menatap gue. Gue coba berikan pandangan penuh arti kepadanya, berharap dia mengerti.

“Maaf, Gi. Aku harus pergi sekarang,” ucap gue lirih sambil mencoba melepas pegangan tangan gue dari Gigi.

“Kamu janji akan kembali, ‘kan, Pank?” balas Gigi dengan mimik wajah dibuat seserius mungkin.

“Aku tidak bisa berjanji, maaf!” Gue coba buat suasana sedramatis mungkin.

“Berengsek! Pake acara drama segala. Ayo cepet ikut gue!” bentak si Cimol yang langsung menyeret gue secara tak hormat.

Sekilas gue masih melihat sunggingan senyum dari bibir Gigi yang begitu indah. Yah walaupun gue terus gagal menyampaikan rasa ini dikarenakan gangguan yang selalu datang. Namun, setidaknya melihat senyuman dari gadis itu sudah cukup untuk membuat hati gue tenteram.

***

“Baik sekali kamu melanggar dua peraturan sehingga sekolah kembali mendapat dana segar,” kata kepsek dengan nada yang agak menyindir.

Sekarang gue sedang berada di ruang kepsek, berbicara enam mata dengan bapak-bapak senior ini. Ya, kepsek dan si Cimol. Entah kenapa si Cimol juga ada di sini ikut mencecar gue, apa hubungannya coba dengan penjaga sekolah? Gue jadi makin curiga ada apa-apanya antara si Cimol dan kepsek.

Gue hanya bisa menunduk, males memandang wajah kepsek yang selalu mainin inhaler di hidungnya.

“Sesuai peraturan sekolah, kamu sekarang didenda dengan dua tuduhan!” teror kepsek dengan menaikkan oktaf suaranya. “Yang pertama karena telah bermesraan di sekolah, dan yang kedua karena berbuat tidak terpuji sama ayam Pak Sunarto.”

Gue hanya bisa mengangguk-ngangguk mendengar penuturan kepsek yang dengan seenaknya mendenda gue. Padahal di sekolah mana coba yang nampol ayam aja didenda? Nih sekolah lama-lama jadi seperti sarang seorang koruptor.

“Pak Kepala Sekolah. Dilihat dari tingkat kengambekan ayam saya ini. Sepertinya dia harus didenda sebesar lima ratus ribu!” Si Cimol ikut bersuara.

“Amit-amit!” Gue bergidik ngeri.

“Jangan ngamuk dulu, gue belum beres!” ujar si Cimol. “Ditambah dengan bermesraan di kelas tadi, totalnya jadi satu juta!”

Berengsek! Gue udah nggak tahan berargumen dengan orang-orang ini. Duit dari mana seorang anak sekolah dapet satu juta? Ngepet? Gue hanya bisa menggeleng berulang-ulang kayak kaset yang rusak.

Nih duo tuo kalo urusan duit emang suka nggak kira-kira, nggak pandang-pandang. Yang penting ada yang melanggar peraturan yang mereka buat, udah, kantong mereka bakal penuh. Tanpa melihat siapa sebenarnya yang mereka hukum, murid biasa yang tak bisa apa-apa.

“Assalamualaikum.”

Tiba-tiba Gigi masuk ke ruang kepsek, dan memberi hormat kepada kepsek tercinta, gadis itu lalu duduk di sebelah gue. Gue hanya diam seraya memainkan kedua tangan satu sama lain, sibuk menerka-nerka kenapa Gigi datang kemari.

“Ada perlu apa, ya? Saya rasa saya tidak mengundang Anda,” kata si Cimol, “mau bermesraan lagi di sini? Nanti didenda lagi lho.”

Dengan penuh percaya diri, Gigi membalas perkataan si Cimol.

“Begini, Pak. Tadi kan Ipank berdua sama saya di kelas. Kenapa hanya Ipank yang dibawa ke sini, tidak dengan saya juga?”

Kepsek dan si Cimol saling pandang satu sama lain, entah apa yang tengah mereka pikirkan. Gue hanya diam saja, sambil sesekali mencuri-curi pandang memperhatikan wajah Gigi.

“Pak Sunarto ini bagaimana sih? Yang teliti dong! Kan yang melanggar dua orang.”

“Maafkan kesalahan saya, Pak. Saya tak akan mengulanginya lagi,” jawab si Cimol.

“Tapi dengan begini, lumayan dua juta masuk ke kantong kita,” tandas kepsek dengan tertawa terbahak-bahak, “eh, maaf. Maksud Bapak, sekolah jadi tambah dana untuk pembangunan.”

Gue jadi tambah gedek ngedengernya, sejak dari awal masuk ke sekolah ini sampai sekarang, nih duo tuo emang mata duitan banget. Gue ngeliat mereka berdua kembali berbisik, entah rencana jahat apa lagi yang mereka rencanakan.

“Gi, kenapa lo dateng ke sini?” bisik gue pelan.

“Biar adil dong, kan lo tadi sama gue.” Gigi mendekatkan wajahnya lebih dekat. “Sama gue penasaran dengan yang lo mau katakan tadi,” sambungnya, “tadi lo mau ngomong apa sama gue, Pank? Gue masih inget lo bilang, ‘gue s-su’ itu su apa? Maksud lo Sunarto?”

“Gilingan aja lo, Gi. Liat dulu situasi kita sekarang.”

“Cuek aja, mata mereka lagi ijo nggak bakal nyadar dengan pembicaraan kita.” Gigi keukeuh ingin mengetahui maksud gue.

Gue diam sejenak. Memikirkan harus bagaimana menjawabnya, apa gue harus mengatakan perasaan gue sekarang? Di ruang kepsek, dan gue sedang menjalani hukuman. Apa nggak ada momen lain yang lebih dari ini?

Tapi setelah gue pikir-pikir, kayaknya boleh juga gue ngungkapin perasaan di sini, sekarang juga. Kali aja pernyataan cinta gue bakal masuk dalam “7 Pernyataan Cinta Unik” versi On The Spot. Ya kali aja gitu.

“Kalo gue bilang, lo nggak bakal marah, ‘kan, Gi?”

Gigi menggeleng. “Kan gue belom tahu, ya nggak bakal marah!” tanggapnya. “Lagian gue orangnya santai kok, tenang aja.”

Gue merapatkan posisi duduk gue agar lebih dekat dengan Gigi. Setelah dirasa gue sudah siap secara fisik maupun mental. Gue coba ngomong ke Gigi.

“G-gue suka sama elo, Gi!” ujar gue nekat.

Gigi terdiam mendengar perkataan gue, pandangannya menunduk, entah apa yang dipikirkannya. Gue jadi salah tingkah sendiri, gue bener-bener bingung. Apa gue bakal ditolak?

“Gue udah tahu, Pank,” cetus Gigi akhirnya, “tapi ...”

Gue menelan ludah secara cepat berulang-ulang. Mendengar kata “tapi” juga sudah membuat gue memiliki pikiran negatif. Gue takut Gigi bilang.

“Tapi kamu terlalu baik untuk aku.”

“Tapi kita sudah lama temenan.”

“Tapi aku cewek dan kamu cowok.”

Jawaban klise dari cewek saat pernyataan cinta, tapi semoga saja Gigi nggak bilang gitu. Gue merasa nggak siap mental untuk mendapat jawaban seperti itu. Lagian penghuni rumah sakit jiwa sudah penuh, nggak bakal muat walau nambah satu orang lagi.

“Lo serius suka sama gue, Pank?” tanya Gigi memastikan.

“Gue orangnya selalu serius, Gi!”

Gigi mencibir. “Kenapa lo bisa suka sama cewek kayak gue, Pank?” Gigi seperti masih belum yakin dengan pernyataan gue. “Di luar sana kan masih banyak cewek yang lebih cantik dari gue, yang lebih seksi juga banyak!” cecarnya seolah ingin menciutkan nyali gue. “Lagian gigi gue kayak kelinci.”

Entah roh apa yang tega merasuki gue. Gue dengan beraninya meyentuh tangan Gigi dan menatapnya dengan tatapan super serius.

“Gue suka sama elo, Gi, itu saja! Nggak ada alasan.” Gue menarik napas mencoba mengatasi rasa gugup. “Lo itu cantik di mata gue, meski nggak seksi ... lagian gue suka sama cewek yang giginya ...”

“Woii!!! Malah bisik-bisik! Kalian kira ini lagi ulangan?! Kebiasaan nyontek sih!” Si Cimol tiba-tiba membentak. “Terus itu kenapa pegangan tangan segala? Mau ditambah lagi dendanya?”

Gue kaget setengah mati. Dengan cepat gue menarik tangan gue kembali dari Gigi, sembari memasang wajah memelas.

“Maaf, Mol. Tadi ada lalet di tangan Gigi, gue cuman bantu ilangin.”

“Dik Ipank ini tidak punya tata krama dalam berbicara, ya? Kepada Pak Sunarto berani bilang begitu, sungguh tidak mencerminkan seorang pelajar yang baik.” Kepsek memberi komentar atas sikap gue.

Gue sekarang kayak lagi berhadapan duo tuo yang sifatnya kayak cewek. Salah melulu gue kayaknya di mata mereka, gue jadi agak risih. Apa gue mampu bertahan satu tahun lagi di sekolah ini? Gue jadi ngeri ngebayanginnya.

“Iya, Pak. Maafkan kesalahan saya lagi,” pinta gue tertunduk.

“Sudah, daripada kalian berlama-lama di sini, mending langsung saja. Kapan mau bayar dendanya?” kejar kepsek. “Ini demi pembangunan sekolah lho. Demi kalian juga.”

“Tapi, Pak. Duit sejuta itu terlalu besar bagi kami.” Gigi memberi pembelaan.

“Kan kalian bisa patungan. Lima ratus ribu bisa, ‘kan?”

“Oke, Pak. Jadi satu juta untuk denda kami berdua!” respon Gigi cepat. “Tapi kami bayarnya nyicil, ya, Pak. Sampai kami lulus nanti!” imbuhnya. “Ingat, Pak. Satu juta untuk berdua!”

Kepsek dan si Cimol saling pandang, baru ngeuh dengan kelicikan Gigi.

“Oh tidak bisa. Dendanya tetap satu juta untuk satu orang!” Kepsek menandaskan.

Gue yang denger percakapan mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Heran. Bicara duit sejuta kayak yang lagi ngomongin politik, enteng banget. Dikira duit segitu bisa didapet dengan cepet apa? Pengen gue laporin nih kepsek, tapi entah kenapa nurani gue malah berkata lain.

Gigi mengeluarkan ponselnya dan memasang wajah setengil mungkin.

“Maaf, Pak. Sejak saya datang ke ruangan ini, saya sudah pencet tombol rekam di ponsel saya,” umbar Gigi dengan wajah penuh percaya diri, “tadi Bapak sudah bilang saya dan Ipank patungan 500 ribu ... jadi tak bisa ditarik ulang.”

Kepsek dan si Cimol memandang geram. Seperti merasa tak terima dipermainkan oleh Gigi. Mereka terlihat beradu argumen sebentar, entah apa yang tengah diperbincangkan gue nggak tahu. Yang pasti, tetep saja 500 ribu itu bukan jumlah yang sedikit.

“Baik, Bapak setuju. Kalian patungan 500 ribu ... mohon lekas dibayar, sedang ada keperluan”

Setelah mengatakan itu, gue dan Gigi dipersilakan untuk segera keluar. Mungkin mereka berdua udah eneg melihat kami berdua, yang telah mengacaukan keinginan mereka untuk mendapatkan dua juta.

Saat gue dan Gigi sudah di luar, si Cimol ngomong lagi.

“Kalian jangan lupa bermesraan lagi, gue lagi butuh buat beli ayam pelung.”

Blam!

Gue langsung menutup pintu dengan keras meluapkan kekesalan yang teramat sangat.

***

Ternyata setelah gue mengungkapkan perasaan kepada Gigi. Gue malah didera keresahan hati yang teramat sangat. Bagaiman tidak? Sesaat setelah kami keluar dari ruangan kepsek. Gigi bilang gini sama gue.

Sorry, Pank. Gue butuh waktu buat ngejawabnya ... dan gue nggak tahu kapan bisa jawab.”

Maksudnya apa coba? Apa dia sengaja pengen membuat gue menunggu? Atau dia memang tak memiliki rasa sedikit pun pada gue. Yang jelas, lebih baik gue ditolak saat itu juga, daripada gue harus menunggu yang tak pasti. Jadi intinya, gue digantung!

Keesokan harinya, gue berangkat ke sekolah dengan wajah lesu. Asli males banget. Gue malu ketemu Gigi, juga takut dia cerita sama temen-temennya, gue pasti bakal diledek habis-habisan. Cewek kan emang suka saling mencurahkan hatinya pada sobatnya. Mending kalo sobatnya itu bisa jaga rahasia, nah kalau disebar? Gue mampus!

Belum lagi harus ngeladenin kepsek dan si Cimol, duo tuo yang ngeselinnya lebih parah dari koneksi internet yang lemot. Ditambah ayam-ayam sialan yang selalu membuat gue naik pitam. Ah, tapi sudahlah, hadapi saja semua itu.

Sesampainya di sekolah. Gue langsung disambut sama Tigor. Namun, gue lihat wajahnya cerah banget, dia nyengir lebar banget sama gue. Duile, mending manis, belum lagi masih ada sisa cabe yang terselip di giginya.

“Selamat, Pank! Hari ini kita merdeka!” sambut Tigor ketika gue melewati koridor sekolah.

“Merdeka apaan?”

“Ayamnya si Cimol mati semua!”

Langkah gue langsung terhenti. Mulut gue ternganga lebar, permen karet yang udah gue kunyah sejam lebih hampir mencolot keluar. Gue begitu terkesiap mendengar perkataan Tigor. Ayamnya si Cimol mati semua katanya? Berita yang cukup heboh di pagi hari.

Tapi gue merasa tak percaya, gue langsung berlari menuju kandang ayam si Cimol yang berada tepat di samping kelas gue. Sesampainya di sana, gue ngeliat si Cimol sedang menangisi ayam-ayamnya. Pak Tua itu menangis tersedu-sedu. Tak bisa menahan rasa sakitnnya ditinggal ayam-ayam yang telah dia rawat selama ini. Namun, ternyata ada beberapa yang masih hidup.

Terlihat Bi Kantin dan kepsek tengah menghibur si Cimol. Gue sendiri walaupun eneg sama dia, tetep nggak tega liatnya. Namun, gue hanya tetap berdiri di tempat gue saat ini melihat si Cimol meratapi ayam-ayamnya.

“Sudahlah, Pak. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan ... relakan saja kepergian ayam-ayam itu,” hibur Bi Kantin.

“Gimana gue bisa rela? Liat nih, hampir semua ayam gue mati!” bantah si Cimol. “Walau gue beli ayam lagi, tapi pasti bakal beda rasanya!”

Bi Kantin menghela napas, berusaha sabar menghadapi si Cimol. “Memang kita akan merasa sedih saat kehilangan sesuatu yang telah kita rawat dari kecil. Tapi percayalah, Pak. Ayam itu jauh menderita.”

Si Cimol menoleh heran ke Bi Kantin, merasa tak mengerti dengan apa yang dikatakannya.

“Bapak tidak menyadari sudah seminggu ini ayam Bapak terlihat sakit? Mereka terkena virus, Pak.” Bu Kantin menjelaskan dengan lembut. “Coba lihat ayam yang ini, sudah tak bisa berdiri bukan? Sebentar lagi juga mereka akan mati,” tutur Bi Kantin lagi.

Si Cimol menatap ayam-ayamnya nanar. Pak Tua itu menghampiri salah satu ayam, lalu mengusapnya dengan lembut. Semua yang ada di sana terharu melihatnya, betapa tulus si Cimol merawat ayam-ayamnya. Mungkin bagi dia, merawat ayam sudah menjadi suatu keharusan yang mesti dilaksanakan sebaik-baiknya.

Gue yang orangnya emang suka terbawa perasaan, sudah tidak sanggup melihat kejadian ini. Gue langsung balik menuju kelas, mencoba kembali menenangkan perasaan gue, yang sempat terenyuh melihat si Cimol.

Di kelas, gue liat Gigi sudah ada di sana. Dia memandang si Cimol dari balik jendela, terlihat raut muka yang menunjukkan perasaan sedih. Gue rasa dia juga sama terbawa perasaan, melihat orang yang begitu sedihnya meratapi kepergian sesuatu yang dia sayangi. Namun, gue tak berani mendekati Gigi, jadi agak canggung. Gue langsung ke bangku dan ngobrol sama Tigor.

“Kasian si Cimol, ya, Gor?” Gue membuka percakapan. “Meski jelek-jelek juga dia kan orang.”

Tigor menoleh sewot. “Lo kok ngomong gitu sih? Jangan kasian sama orang itu!”

Sorry-sorry.”

“Gue malah sekarang khawatir sama kita!”

“Kenapa?” tanya gue heran.

Tigor menatap gue dengan serius, “Gue takut dia frustasi, terus bunuh diri di pohon jengkol ... kalau hantunya gentayangan gimana? Lo nggak takut?”

Gue hanya menggeleng pelan mendengar perkataan Tigor, dalam situasi seperti ini pun dia tak bisa bersimpati sedikit saja untuk si Cimol.

Tapi, dengan begini mungkin gue akan bebas di sekolah. Tak akan ada lagi peraturan yang mengekang, serta gangguan dari ayam-ayam yang sering buat jengkel. Hanya saja, gue berharap agar si Cimol tidak terlalu meratapi kepergian ayam-ayamnya.

***

Seminggu telah berlalu setelah kepergian masal ayam-ayam si Cimol. Awalnya, gue ngerasa begitu bebas, tak ada gangguan dari hewan tak bisa terbang itu. Belum lagi si Cimol sekarang tidak begitu agresif menegakkan peraturan sekolah. Jadi para murid sekarang begitu bersuka-cita. Malah sudah banyak yang berani menunjukkan kemesraannya di sekolah.

Dan sekarang, gue udah jarang bersama dengan Gigi. Padahal dulu gue sering mendapatkan cara untuk bisa bersama dengan Gigi, walau karena ayam penyebabnya. Namun, sekarang gadis itu terlihat sering bersama teman-teman cowoknya. Mungkin dia sudah lupa dengan pernyataan cinta waktu itu.

Gue menghela napas panjang, mencoba memahami situasi saat ini. Gue duduk di kursi depan kelas gue. Biasanya sepulang sekolah gini, gue sering liat ayam si Cimol berkeliaran ke sana ke mari. Namun, sekarang mungkin hanya rohnya yang berkeliaran di sekolah ini.

“Balik sekarang?” ajak Tigor.

“Duluan saja.”

Sekarang gue kayak merasa ada sesuatu yang kurang. Walau gue sudah terbebas dari gangguan ayam-ayam mengesalkan itu, tapi entah kenapa hati gue terasa hampa.

Gue sadar sekarang, ayam-ayam itu yang memberi warna tersendiri di sekolah. Kehadiran mereka walau tak lumrah, tapi tetap bisa memberikan nuansa kesegaran. Gue juga sadar, karena merekalah gue bisa dekat dengan Gigi. Bahkan gue sampai berani mengungkapkan perasaan.

Tapi sekarang, sekolah terasa begitu sepi. Tak ada lagi dalang kerusuhan di sekolah. Tak akan ada lagi kepanikan saat upacara, karena ayam-ayam itu lepas dari kandang. Juga tak akan ada kekonyolan yang terjadi akibat salah satu ayam yang sering dengan cueknya nangkring di kepala.

Sekarang gue liat si Cimol juga jarang membentak anak-anak. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di pos depan, kumpul bareng kawan-kawannya. Banyak anak yang senang dengan perubahan sikap si Cimol itu, jadi sekarang mereka bebas bermesraan di sekolah. Namun, gue malah pengen sikap si Cimol sama seperti dulu, walau kini ayam-ayamnya telah tiada.

Mungkin si Cimol ... maksud gue Pak Sunarto. Dia memang orang yang menyebalkan, yang terlalu mengedepankan kehendaknya tanpa peduli dengan protes orang lain. Namun, dengan kehadiran beliau-lah sekolah ini menjadi berwarna.

Ternyata semua itu yang gue butuhkan selama ini. Dengan kegalakan Pak Sunarto, kedisiplinannya, serta kekonyolannya. Pak Sunarto membuat gue bisa nyaman di sekolah walau harus menyimpan rasa dongkol yang teramat sangat.

Tapi gue sadar, Pak Sunarto melakukan itu demi menjalankan tugasnya sebagai penjaga sekolah. Walaupun dia hanya berstatus ‘penjaga sekolah’ tapi selama ini justru dia yang sangat memperhatikan akan citra sekolah. Beliau seperti orang di balik layar akan kesuksesannya sekolah ini. Dengan begitu gigih membersihkan setiap tempat di sekolah, serta mengawasi semua murid yang terdaftar di sekolah ini.

Gue berharap Pak Sunarto bisa kembali seperti dulu. Dengan sifatnya yang galak dan nyebelin, tapi terdapat ketulusan saat dia mengayomi sekolah ini, juga gue sebagai salah satu murid.

Tapi gue sadar, semua kenangan itu sudah menjadi masa lalu, dan tak mungkin terulang untuk kedua kalinya. Namun, tak ada salahnya juga bagi gue untuk terus berharap, selagi gue masih mengenakkan seragam putih abu ini.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Kenangan Yang Tak Akan Terulang"

Post a Comment