CERPEN - Senja di Tempat Kenangan


 
“Yogaaa! Balikin!”

Amel berusaha mengambil topi fedora merah muda kesayangannya dari Yoga, sial, pemuda itu malah berlari menjauhinya. Di tengah terik matahari seperti sekarang tentu melelahkan untuk berlari mengejarnya. Apalagi dengan fisik Amel yang lemah, semakin membuatnya kelelahan.

Napas Amel memburu tak karuan, kini dia sudah tak kuat lagi untuk berlari. Amel mulai berjalan pelan, lalu duduk di bawah pohon akasia yang rindang, sekadar berteduh dari sengatan sang surya.

Walau sekarang masih musim liburan, tetapi Amel dan Yoga sudah berada di sekolah. Entah kenapa mereka kangen untuk kembali ke sekolah, rasanya jika liburan di rumah terus terasa begitu membosankan. Makanya mereka berdua memutuskan untuk jalan-jalan ke sekolah sekedar mencari hiburan, karena banyak juga anak-anak yang, apalagi yang mengikuti ekstrakurikuler.

Namanya Amel Aryanti, seorang perempuan biasa yang menyukai langit senja. Amel memiliki seorang teman. Mereka berteman sudah dari kecil. Sampai sekarang SMA, mereka terus sekelas.

Banyak yang bilang, kalau mereka ini serasi. Entah dari kesukaan yang sama, memiliki tahi lalat di pipi, atau poni yang sama-sama menutupi mata, terlebih Yoga juga teman masa kecilnya Amel. Hanya saja, sifat Amel dan Yoga yang berbanding terbalik. Amel seorang cewek kalem yang tak banyak bicara, sedang Yoga cowok yang jailnya minta ampun. Yoga sering membuat Amel jengkel, tapi entah kenapa Amel sangat senang apabila bersama dengannya.

“Mel.” Terlihat Yoga berjalan menghampiri. “Kok gue nggak dikejer?”

“Capek, Yog,” sahut Amel lemah. “Siniin topi gue!”

Yoga tersenyum, dia lalu duduk di sebelah Amel dengan membawa topi di tangannya. Dengan lembut, dia memakaikan kembali topi fedora itu ke kepala Amel. Gadis itu langsung menyambarnya takut diambil lagi.

“Lo kok sensi banget sih? Lagi dapet, ya?” Yoga kembali menggoda. Amel hanya meliriknya jutek.

Semilir angin lembut di siang hari yang panas itu, setidaknya menjadi sedikit kesejukan yang terasa. Amel memejamkan mata, lalu menghirup udara yang masih tersisa kesegarannya di bawah pohon akasia.

“Mel, lo nggak nyembunyiin sesuatu dari gue, ‘kan?” tembak Yoga, sampai membuat Amel tercekat.

Jantung Amel berdegup kencang seketika, wajahnya terlihat memerah, demi mendengar perkataan Yoga barusan. Dia takut, apa Yoga sudah tahu tentang perasaannya? Apa selama ini Amel terlalu menunjukkan apa yang dia rasakan?

“M-maksud lo, Yog?” Amel menundukkan kepala.

“Udah ngaku aja, nggak usah lo sembunyiin!” cecar Yoga. Cowok itu kini memandang Amel dengan serius. Amel semakin tak kuasa menyembunyikan suasana hatinya yang tengah kalut. “Lo barusan kentut kan, Mel?” sambung Yoga lagi tanpa mengubah mimik wajahnya, tetap serius.

“Hah?” 

Sesaat kemudian, tercium bau tak sedap yang begitu menyengat, baunya benar-benar tak enak, telur busuk yang disimpan di tengah eek kebo juga kalah baunya. Amel menutup hidung, berusaha menutupi apa yang tengah dihirupnya, tapi tak berhasil.

“Sialan lo, Yog!” maki Amel. “Abis makan apaan, sih? Bau banget!”

Yoga terkikik, “Gimana rasanya? Juara nggak baunya?”

“Sempurna,” balas Amel jutek sambil tetap menutup hidung.

Yoga semakin tak kuasa menahan tawanya, cowok itu dengan lantang cekikikan memecah keheningan. Anak-anak yang kebetulan melewati mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Yoga.

Melihat Amel yang terus cemberut, Yoga akhirnya kasihan juga. Dia sebagai pelaku juga menyadari, betapa busuknya bau gas yang telah dia keluarkan. Apalagi Amel yang menjadi korban, tentu rasanya bisa lebih buruk lagi.

Sorry deh, Mel, sorry.” Yoga berusaha menghibur Amel, tetapi cewek itu tetap cemberut tak menghiraukan. “Gini, deh, sekarang lo yang kentut.” Kembali Yoga melanjutkan ocehannya. “Kita tentukan kentut siapa yang paling bau!”

Amel menoleh sebal. “Lo kira ini turnamen?!”

Yoga terkikik, sedang Amel kembali cemberut. Begitulah Yoga, pria itu selalu ceria setiap saat, bahkan walau cewek itu sedang bad mood, dia tetap bertingkah semaunya, menggoda Amel. Namun, meski begitu Amel tetap suka dengan sikapnya itu, karena tanpa disadarinya, Yoga telah mengajari cara untuk bisa bercanda.

Walau sekarang masih menyembunyikan perasaannya, juga sesuatu yang tak bisa dikatakannya kepada Yoga. Namun, Amel berharap jika suatu hari nanti bisa bersama dengan Yoga. Amel sangat sayang kepada teman masa kecilnya ini, sampai membuatnya memiliki perasaan lain.

***

Dulu, ketika masih kelas tiga SMP. Setiap hari mereka selalu berantem, semua karena Yoga yang memulai. Mulai dari dia nyembunyiin boneka Amel, merebut topi fedora kesayangan Amel, sampai merobek diary Amel yang sudah ditulisnya dari kecil, ngeselin nggak?

“Kenapa, sih, sikap lo tuh ngeselin banget?!” maki Amel ketika dia mendapati diary-nya yang tinggal robekan-robekan kecil. Gadis itu sontak meneteskan air mata.

S-sorry, Mel. Gue cuman--”

“Udah, deh!” Amel memotong. “Pokoknya lo tuh ngeselin banget!” umpatnya yang kemudian pergi meninggalkan Yoga.

Yoga hanya bisa tertunduk menyadari kesalahannya, dia tak menyangka jika Amel bakal bereaksi seperti itu. Padahal, Yoga hanya ingin sahabatnya itu tidak terlalu menyendiri. Amel selalu menutup diri dari dunia luar, dan menuliskan kesedihannya lewat buku diary. Itu yang Yoga tak suka, dia merasa kehilangan sosok Amel yang dulu begitu ceria.

Semua dimulai ketika Amel kehilangan ibunya, sebuah pukulan telak yang dirasakan gadis Sekolah Dasar. Sejak itu, Amel sering menyendiri, dia tak lagi berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Beruntung bagi Yoga, karena dia masih bisa bermain dengan Amel.

Amel selalu memakai topi fedora merah muda, hanya itu yang dia miliki dari almarhum Ibu. Yoga yang memang sudah sangat mengenal Amel, bisa memahami apa yang dirasakan gadis itu. Namun, ternyata dia memiliki pandangan lain terhadap topi peninggalan ibunya Amel itu. Tanpa sepengetahuan Amel, Yoga menyimpan topi itu sendiri di kamarnya.

“Mel,” sapa Yoga saat dia hendak memasuki kelas.

Amel tak menjawab, dia hanya terus memainkan ponselnya, tak melirik sedikit pun. Mungkin dia masih marah dengan Yoga perihal buku diary yang telah disobeknya itu. Amel mempercepat langkahnya, buru-buru masuk ke kelas.

Yoga hanya menghela napas, kemudian dia langsung mengikuti Amel, dan berdiri di depan bangkunya. Amel meliriknya jutek, langsung membuang muka. Dengan tersenyum kecut, Yoga membuka tasnya, dia mengambil topi fedora milik Amel yang selama ini dia sembunyikan. Dengan lembut, Yoga memakaikan topi fedora itu ke kepala Amel.

Amel sedikit kaget, dia memejamkan mata. Setelah beberapa saat, Amel meraba-raba kepalanya, dia begitu terkejut ketika tahu bahwa Yoga memakaikan topi kesayangannya.

“Yog ... ini ...” ucap Amel tertahan.

“Gimana? Udah seneng?” hibur Yoga. “Gue nemu ini kemaren, di rumah lo.”

Amel diam, tak menyahut perkataan Yoga. Matanya mulai berlinang. Perlahan namun pasti, dia mulai menitikkan air mata, melepas tangis bahagia kala menemukan topi yang mengingatkannya pada sosok Ibu. Amel sedikit terisak, tapi sekuat mungkin dia menahan tangisnya, takut terdengar oleh yang lain.

Yoga yang melihat Amel menangis jadi tak enak hati. Awalnya, dia ingin gadis itu tak selalu menangisi kepergian ibunya. Maka dari itu dia mengambil topi itu dari Amel, dan menyembunyikannya sendiri. Tapi sekarang, saat melihat Amel yang begitu bahagia ketika mendapatkan topinya kembali, Yoga merasa sangat bersalah. Dia seperti mengambil kebahagiaan Amel.

“Makasih, ya, Yog,” kata Amel seraya memandangi topinya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Gue minta maaf soal diary itu, Mel, gue ...” ucap Yoga tertahan.

“Udah, nggak apa-apa, kok.” Amel menyeka air matanya. “Dengan kembalinya topi ini juga gue udah seneng ... makasih, ya.”

Yoga kemudian duduk di sebelah Amel sambil tetap menghiburnya. Baginya, bisa melihat Amel tersenyum saja sudah menjadi hal yang bahagia, yang sudah membuat hatinya tenteram.

“Gue janji nggak bakal bikin lo kesel lagi.” Yoga memandang Amel dengan tatapan serius.

“Yakin?” goda Amel. “Paling bentar lagi juga iseng lo kumat.”

Yoga nyengir kuda. “Iya, kalo nggak khilaf.”

Amel langsung meneloyor keras kepala Yoga. “Tuh, kan, awas aja kalo jailnya kebangetan!”

Memiliki teman masa kecil yang masih dekat dengan kita memang menyenangkan. Seperti Amel dan Yoga, mereka memang kerap berselisih. Namun, dengan ikatan persahabatan yang mereka jalin sejak dulu, membuat mereka mengerti satu sama lain.

***

“Yoga nyebelin!” Kembali Amel dibuat jengkel oleh Yoga.

Dengan bersungut-sungut, Amel membenarkan kembali ikatan tali sepatunya yang dibuat berantakan oleh Yoga. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dikit, sebentar lagi upacara dimulai, tapi karena tali sepatunya yang dibuat kusut oleh Yoga. Amel menjadi lama berkutat dengan tali sepatu itu.

“Awas aja nanti lo, Yog, bakal gue bales!” Amel masih bersungut.

Tiba-tiba Yoga muncul di luar pintu gerbang rumah, lengkap dengan motor ninja warna biru kesayangannya. Walau saat itu Yoga masih SMP, tapi dia sudah berani bawa motor ke sekolah. Dan tukang bakso langganannya hanya bisa pasrah menyediakan tempatnya menjadi tempat parkir motor Yoga.

“Mel, buruan! Bentar lagi upacara mulai!” teriak Yoga. “Kita bisa telat lho.”

“Ini juga gara-gara siapa?!” balas Amel setengah berteriak.

Yoga tersenyum kecil, seperti merasa tak berdosa. Cowok itu berjalan menghampiri Amel, dan membantu membenarkan tali sepatu. Tangan mereka berdua berserobok kala Yoga membantu Amel. Yoga yang tak sengaja menyentuh lembut tangan Amel hanya bisa terdiam, tak bisa digerakkan, seperti ada magnet yang membuat tangannya terus menyentuh tangan lembut Amel.

Yoga kemudian menatap Amel. Amel juga menatap Yoga. Tatapan keduanya kini beradu, saling menatap jauh ke dalam diri masing-masing. Wajah keduanya memerah seketika, gegas Yoga memalingkan pandang kembali membenarkan tali sepatu. Sedang Amel hanya bisa sekuat mungkin menahan perasaannya yang tiba-tiba bergejolak.

“Udah, Mel,” kata Yoga. “Ayo berangkat.”

Amel mengangguk, kemudian mengikuti langkah Yoga. Lo kenapa, sih, Mel? Kenapa saat menatap Yoga, lo merasa malu? batin Amel berbicara.

Saat di perjalanan, keduanya tak banyak bicara. Mereka begitu sibuk dengan suara hati yang kembali berbicara. Tak bisa dipungkiri, Amel dan Yoga saling memendam rasa satu sama lain. Keduanya memiliki perasaan suka, juga cinta yang telah tumbuh dalam hatinya.

Ketika upacara pun, Amel masih tak bisa menahan rasa malunya saat bersitatap dengan Yoga. Melihat wajah cowok itu yang begitu dekat dengannya tentu membuat perasaannya tak karuan. Amel memegangi pipi dengan kedua tangan, merasakan panas yang sedikit terasa.

“Lo sakit, Mel?” tanya Eri heran.

“Ah ... nggak.” Amel berusaha menutupi mimik muka, serta sekuat menahan debaran hatinya yang semakin bergebu-gebu.

Saat pelajaran berlangsung, Amel tak bisa lepas untuk melenyapkan pikirannya tentang Yoga. Entah kenapa kejadian tadi pagi itu begitu membekas dalam hatinya. Melihat wajah Yoga yang biasanya periang, lucu, ngeselin, tiba-tiba berubah drastis, tentu membuat Amel heran. Tadi Yoga trerlihat begitu kaku, keceriaan wajahnya seperti hilang saat beradu tatap dengan Amel tadi.

Amel sedikit heran, kenapa Yoga juga berekspresi seperti dirinya? Apa Yoga juga mungkin menyukainya? Amel menjadi tersipu membayangkannya. Tanpa sadar Amel tersenyum sendiri kala membayangkan kalau Yoga juga menyukai dirinya, apalagi kalau suatu saat nanti mereka bisa jadian.

Akhirnya istirahat tiba, tapi Amel masih tetap asyik di bangkunya, tak seperti anak-anak lain yang mulai berhamburan keluar kelas. Dengan bekal yang dibawanya, Amel asyik duduk sendirian sambil membaca buku.

“Mel, gue nyalin PR matematika lo dong.” Eri mendekati Amel, lalu duduk di sebelahnya.

Amel membuka tas mencari buku PR matematika. Namun, setelah sekian lama dia mengucek-ucek isi tasnya, buku itu tidak ada. Amel heran, perasaan dia sudah memasukkan buku itu ke dalam tas. Atau jangan-jangan ketinggalan? Karena tadi Amel memang buru-buru banget berangkatnya.

Amel benar-benar yakin sudah memasukkan buku PR-nya, malah tadi waktu pelajaran pertama dia masih melihatnya. Mungkin ada yang pinjam? Amel langsung mencecar seluruh penghuni kelas itu yang kebetulan sudah kumpul lagi di kelas. Apa mereka minjem buku PR-nya? Tapi semua serempak menjawab sama, nggak.

Amel jadi bingung, siapa sih yang sudah ngambil? Tapi sesaat kemudian, dia sudah bisa menerkanya. Siapa lagi kalau bukan Yoga? Tuh anak memang suka nggak bilang-bilang kalau pinjam, apalagi sekarang hanya dia yang nggak ada di kelas.

Seperti yang sudah Amel kira, sesaat sebelum masuk, Yoga datang di pintu kelas dengan membawa buku di tangannya. Pemuda itu dengan santai menuju bangku Amel.

“Nih, Mel, buku PR-lo ... sorry gue nggak bilang pinjemnya, nggak apa-apa, ‘kan?” cerocos Yoga sambil memberikan buku itu pada Amel. “Kalau gue bilang, pasti lo nggak bakal ngasih!”

Amel mendelik sewot. “Lo tuh, ya! Kasian Eri jadi nggak bisa nyalin!”

“Eri udah pinter, nggak perlu nyontek,” tanggap Yoga santai seraya melirik Eri yang tengah menyalin PR-nya Lilis. “Iya kan, Er?”

“Jangan ngeledek, ya!” Eri menjawab ketus.

Yoga ketawa, dia kembali memandang Amel. Yang dipandang malah membuang muka, masih tak bisa menutupi rasa malunya kala bertatapan dengan Yoga.

“Tadi lo pas pelajaran pertama kenapa, Mel?”

“Hahh?”

“Itu, lo senyum-senyum sendiri,” tembak Yoga, sampai membuat Amel tercekat. “Lagi bayangin yang aneh-aneh, ya?”

“A-ah, ng-nggak. I-itu ...”

Amel tergagap. Dia benar-benar tak menyangka jika Yoga memperhatikannya, kini dia tak tahu harus bagaimana menyembunyikan perasaannya.

“Yaudah, deh,” kata Yoga akhirnya yang kemudian kembali menuju bangkunya.

Jantung Amel berdegup kencang seketika, entah kenapa mendengar perkataan Yoga yang seperti itu pun sudah membuatnya berdebar-debar. Apa rasa cintanya telah tumbuh? Lalu bagaimana Amel harus menyikapinya?

Amel memandang buku PR-nya itu dengan nanar, dia sekarang agak canggung bila bersitatap dengan Yoga. Amel membuka-buka buku PR-nya, dan dia begitu terkejut ketika melihat apa yang tertulis di halaman paling belakang:

“Sebenernya Amel tuh manis saat tersenyum, tapi sepertinya dia masih tak bisa menghapus luka masa lalunya ... karena itu gue akan selalu buat dia kesal, agar kesedihannya bisa teralihkan.”

Jantung Amel kembali berdebar-debar, ditatapnya tulisan itu dengan saksama, dia semakin tersipu dibuatnya. Amel tentu sudah menyadari milik siapa tulisan ini. Siapa lagi yang memiliki tulisan sejelek ini selain Yoga? Tapi kenapa dia nulis di bukunya Amel? Apa dia tak sadar?

Amel sedikit terharu membacanya. Dia tak menyangka bahwa sahabatnya itu memiliki pemikiran seperti itu kepadanya, ternyata selama ini Yoga berusaha membuatnya ceria. Termasuk saat Yoga merusak diary-nya, itu semata-mata untuk menghilangkan kesedihan Amel. Karena Amel juga menyadari, kalau dia selalu menumpahkan kesedihannya pada buku diary-nya itu.

Amel merasa beruntung memiliki teman seperti Yoga, terlebih ketika dia mengetahui kalau cowok itu begitu memperhatikannya. Amel melihat Yoga yang tengah becanda dengan teman-temannya. Tanpa sadar Amel melemparkan senyuman yang paling manis kepada Yoga, memberikan rasa terima kasih pada teman masa kecilnya.

Dipandangnya kembali buku PR-nya itu. Amel menatapnya penuh arti dengan perasaan yang mengembang.

“Terima kasih, Yog.”

***

Sengatan sang surya sudah sedikit berkurang, angin sepoi-sepoi bertiup lembut menyejukkan raga, suasana sekolah pun cukup tenang pada sore itu. Amel dan Yoga masih asyik duduk di bawah pohon akasia sembari lamunannya terbang ke masa lalu.

“Dulu lo jailnya kebangetan, Yog,” kata Amel, tatapannya tetap memandang lurus.

“Lo juga dulu cerewetnya kebangetan, Mel,” balas Yoga dengan tatapannya yang tak kalah menatap jauh ke depan.

Amel mendelik. “Dih, ngeledek, ya?”

Yoga nyengir. “Eh, tapi gue masih penasaran sama yang waktu itu lho, Mel.” Yoga menatap Amel lekat. “Waktu itu kita masih SMP, pas pelajaran lo senyum-senyum sendiri ... jarang lho gue liat lo senyum begitu lepasnya.”

Jantung Amel berdegup kencang seketika, merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan Yoga. Gadis itu sekuat mungkin berusaha menutupi mimik mukanya, apalagi sekarang Yoga tengah menatapnya.

“Apaan sih, Yog,” ucap Amel mencoba memalingkan wajahnya. “Biasa aja kali.”

“Tapi, Mel, gue yakin lo nyembunyiin sesuatu.” Yoga tetap bersikeras dengan pikirannya. “Jujur, selama ini gue kepikiran itu terus.”

Amel tak menjawab. Ditanya sebegitu rupa oleh Yoga tentu membuat Amel terkesiap. Bagaimana harus menjawabnya? Jujur? Bisa-bisa Amel malu nantinya, dia takut Yoga akan menertawakannya.

“Gue sih nyangkanya kalo elo ... elo ...” Yoga tertahan, seperti ada sesuatu yang menyekat tenggorakannya. Pria itu memasang wajah super serius.

Sementara Amel tetap berjibaku dengan perasaannya sendiri yang tengah kalut. Seuntai rasa cinta yang kian memuncak dalam hatinya begitu membuatnya resah. Amel memandang langit yang tampak cerah, mencoba memahami apa yang akan terjadi pada akhirnya.

“Udah deh ... lupain aja,” putus Yoga akhirnya.

Suasana hening seketika. Keduanya terdiam, asyik dengan lamunannya masing-masing. Amel masih tak menyangka Yoga begitu memperhatikannya. Amel menahan sebisa mungkin untuk tak berpikir terlalu jauh, dia tahu kalau tak mungkin keinginannya akan terjadi.

Amel sesekali melirik Yoga dengan hati-hati. Dilihatnya pemuda itu yang juga bersikap sama dengannya. Diam. Tak bereaksi sedikit pun.

“Mel.” Yoga akhirnya berbicara. “Udah sore ... mau ke sana?”

“Iya,” jawab Amel singkat seraya bangkit dari duduknya tanpa melihat Yoga.

Mereka berdua pun pergi ke tempat biasa mereka kunjungi saat musim liburan, suatu tempat yang tenang jauh dari keramaian. Tempat yang mengingatkan mereka pada masa kecil yang telah mereka lalui. Tempat dimana mereka dapat mengenang kembali serpihan puzzle dari kehidupan masa lalu.

***

Akhirnya mereka tiba di tempat yang dimaksud. Sebuah tempat yang sejuk dan tenang, dengan air sungai yang mengalir jernih, tak tercemar sampah. Dulu, saat masih kecil, mereka selalu bermain di sungai ini bersama teman-teman yang lain. Namun, sekarang hanya tinggal mereka berdua, karena teman-temannya sudah jarang lagi main ke sungai kenangan ini.

“Mel, buruan sini!” teriak Yoga yang sudah berada di tengah sungai dan duduk di sebuah batu besar. “Dari dulu lo sama aja, ya, lemot!”

Amel menarik celananya lebih tinggi agar tidak terkena air, lalu berjalan berjinjit dengan hati-hati.

“Yaelah, Mel. Basah juga nggak apa-apa kali.”

Amel mendengus. “Nggak bisa!” tegasnya. “Besok gue masih butuh celana ini soalnya.”

“Emang mau ke mana besok?” tanya Yoga heran.

“Ah ... nggak ...” Amel mempercepat langkahnya, hingga akhirnya dia sampai di batu besar itu.

Mereka kini berdua kini duduk di sebuah batu besar di tengah sungai, menikmati langit senja yang begitu menyejukan mata. Gemercik air sungai yang terdengar, semakin membuat mereka merasa aroma nostalgia yang tiba-tiba meresap dalam ingatan.

“Waktu cepet banget berlalu, ya, Mel?” kata Yoga disela-sela lamunan mereka.

Amel menoleh heran. Tak biasanya Yoga berbicara dengan hal yang sedikit mellow seperti itu. Biasanya, dia selalu ngomong blak-blakan tak tahu malu, cowok itu seperti tak menyadari batasannya dengan seorang wanita. Namun, sekarang Yoga terlihat begitu menampilkan mimik wajah yang serius.

“Hah?” Amel mengerutkan dahi. “Lo kenapa, Yog? Tumben.”

“Gue serius, Mel.” Yoga menatap Amel dengan serius. “Tahun depan kita udah kelas tiga, terus lulus. Kita udah mau menapaki kehidupan yang sebenarnya, Mel, tapi gue ...” Yoga mengatup mulutnya seraya memalingkan pandang ke depan. “Gue pengen bareng elo terus, Mel.”

Amel hanya dia mendengar perkataan Yoga. Sejujurnya, Amel juga berpikir demikian, dia ingin terus bersama Yoga. Namun, suratan takdir seseorang siapa yang tahu, Amel kembali menatap langit senja, mencoba memahami apa yang akan terjadi ke depannya.

“Gue sadar, Mel. Gue udah terlalu lama merhatiin elo dan nikmatin perasaan ini sendiri.” Yoga masih berbicara serius sampai membuat Amel kembali menoleh ke arahnya. “Gue nggak mau jadi cowok egois yang nikmatin perasaannya sendiri ... gue pengen berbagi sama elo, Mel.”

“M-maksud lo, Yog?”

“G-gue suka sama elo, Mel ... gue udah lama nyimpen perasaan ini sendiri!” ungkap Yoga mantap. “Gue udah bosen jadi pengecut yang mencintai dalam diam, gue pengen lo tahu kalo gue bener-bener sayang sama elo ... Amel.”

Amel benar-benar terkesiap, dia begitu terpana ketika mendapati Yoga menembaknya. Amel memegangi topi fedoranya erat, agar tak diterpa tiupan angin yang cukup kencang. Dengan debaran hati yang tiba-tiba kembali mengguncang dadanya semakin melengkapi suasana.

Amel menunduk, tak berani bersitatap dengan Yoga. Tentu saja Amel benar-benar shock. Orang yang dicintainya secara langsung mengungkapkan perasaannya, Amel tentu senang sekaligus kaget.

Mungkin gue yang egois, Yog, sorry. Batin Amel berbicara, dia tahu dia tengah dihadapakan dengan keputusan sulit. Amel masih tak tahu mana yang harus dia pilih.

“Gue serius, Mel ... gue pengen ...” Yoga menggantung kalimatnya. “g-gue pengen jadi pacar lo!” ujar Yoga nekat, pemuda itu tampak bersungguh-sungguh dengan perkataannya.

Ini sungguh tak terlintas di benak Amel, dia tak menyangka Yoga bakal menembaknya secara terang-terangan begini. Amel tentu senang, karena dia memiliki perasaan yang sama dengan Yoga. Namun, Amel menyembunyikan sesuatu yang lain dalam dirinya, yang mungkin akan melukai Yoga. Amel jadi bingung.

Sorry, Mel, gue cuman mau jujur sama lo.” Kembali Yoga berbicara, dia merasa tak enak kepada Amel. Apalagi ketika Amel tak bereaksi, kepercayaan diri Yoga tentu semakin menurun. “Sorry, kalo gue terlalu lancang.”

“Nggak, Yog. Justru gue yang harus minta maaf,” sahut Amel akhirnya.

“Kenapa?”

Amel kembali tak menjawab, dia hanya menatap aliran sungai yang begitu jernih, sembari merasakan dinginnya air sungai yang menerpa kakinya. Namun, kedinginan itu rupanya tak mampu untuk menutupi perasaannya yang semakin bergejolak.

“Nggak apa-apa, Mel, lo nggak perlu jawab sekarang.” Yoga mengadahkan pandangannya melihat langit. Sembari menghembuskan napasnya secara perlahan. “Gue cuman mau nenangin perasaan gue ... setelah gue ngungkapin perasaan ini, gue jadi tenang, Mel.” Yoga kembali memandang Amel sambil tersenyum menggoda. “Atau lo malu jawabnya, ya?”

Amel hanya tersenyum garing. Gadis itu kemudian kembali sibuk dengan pikirannya. Amel memang tak memiliki alasan untuk menolak Yoga, tapi ada sesuatu yang begitu menghalanginya, yang mungkin akan melukai perasaan Yoga. Amel tak ingin itu terjadi, juga dia tak ingin membuat Yoga kecewa karena menolaknya.

Amel menghela napas sembari memandang jauh ke dalam langit, berharap sang senja untuk tak segera sirna, berikan waktu lebih lama lagi untuknya agar berada di tempat kenangan ini bersama Yoga.

Tapi Amel sadar, senja pasti akan berlalu, dan malam akan hadir menemaninya dalam kesunyian. Namun, sebisa mungkin Amel menikmati momen saat ini ketika dia bersama Yoga, teman masa kecilnya yang begitu dia cintai.

“Mel ... gue kesana dulu, ya, kebelet nih.”

Yoga bergegas pergi menuju ke tempat lain menunaikan hajatnya. Disisi lain, dia juga agak canggung setelah mengungkapkan perasaannya tadi. Bagaimanapun Yoga adalah seorang manusia, walaupun dia selalu bersikap ceria, tentu dia juga bisa merasa sangat pedih dengan sikap yang ditunjukkan Amel.

Kini Amel duduk sendiri menikmati sore hari yang indah di tempat kenangan. Amel menatap lekat-lekat topi fedora merah mudanya, topi yang mengingatkannya pada sosok Ibu. Amel sedikit tersenyum ketika mengingat momen dimana Yoga memberikan topi itu padanya, disaat topinya pernah hilang.

Dengan napas yang agak berat, Amel membuka tasnya lalu mengambil surat yang telah dia siapkan sebelum berangkat tadi. Amel telah membulatkan keputusannya, dia harus pindah ikut Ayahnya serta meninggalkan Yoga dan tempat kenangan ini. Langit senja yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

Amel kembali menatap topi fedoranya penuh arti seraya bergumam pelan. “Gue juga cinta sama elo, Yog ... tapi maaf, gue harus pergi ke tempat yang baru.”

Amel memasukkan surat itu ke dalam tasnya Yoga, dia tak mampu untuk mengatakannya secara langsung. Berpisah dengan teman yang sudah dia kenal dari kecil tentu menjadi kesedihan yang teramat sangat baginya.

Amel juga memasukkan topi fedora kesayangannya ke dalam tas Yoga. Setidaknya, Yoga memiliki sesuatu yang begitu sayangi, juga bukti kalau Amel juga memiliki perasaan yang sama terhadap Yoga. Meskipun jarak tentu akan memisahkan mereka, tapi mereka berdua akan tetap menatap langit yang sama dimanapun mereka berada.

Langit senja di sore hari seperti inilah yang akan membuat Amel terus teringat akan sosok Yoga. Dan akan menjadikannya cerita terindah jauh dalam lubuk hatinya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Senja di Tempat Kenangan"

Post a Comment