CERPEN - Kau dan Cerita Hantumu


 
“Fian, apa kamu percaya hantu?” ucapnya tanpa menoleh sedikit pun padaku, gadis itu terus asyik dengan buku misterinya.

Aku tak menyahut, hampir setiap hari dia bertanya hal serupa. Meski aku selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Namun, rupanya dia tak bosan untuk terus bercerita tentang hal yang disukainya, cerita tentang alam gaib.

“Kamu tahu? Mereka selalu berkeliaran di sekitar kita, mungkin mereka juga sedang bersama kita sekarang!” lanjutnya lagi yang kini menatapku tajam. “Tapi ... hantu sebenarnya nggak perlu kita takuti, karena saat kita mati nanti, kita juga akan menjadi seperti mereka.”

Alisku bertemu seketika, bulu romaku mendadak berdiri mendengar perkataannya. Di malam yang hanya disinari lampu remang-remang ini tak seharusnya dia berkata seperti itu. Apalagi suara lolongan anjing yang begitu mencekam, hewan-hewan malam yang mulai mengeluarkan nyanyiannya, serta suara rintik hujan yang mulai berjatuhan, ditambah sekarang malam jumat. Aku semakin merasakan nuansa horror di rumah ini.

“Kamu ngomong apa sih, Ras? Udah ah jangan ngomong gitu!” tanggapku ketus.

Aku memandang kuburan yang berada beberapa meter dari tempat kami berada. Bulu romaku semakin berdiri.

Senyum gadis itu mengembang seolah mengejekku. “Lho? Bukannya kamu nggak percaya hantu? Kok takut?” sindirnya sambil membuka halaman selanjutnya dari buku yang dia baca. “Eh liat, itu di pohon beringin ada yang putih-putih menggantung!”

Jantungku berdegup keras seketika. Apalagi maksud cewek mistis ini? Aku mengikuti tatapan matanya. Mataku membelalak begitu melihat sosok putih melayang di depan pohon beringin rumahnya. Sosok itu sesekali bergerak. Membuatku semakin ketakutan.

Gadis itu terkikik. “Penakut amat sih kamu, itu batang pohon pisang yang aku balut pake kain putih. Tadi sore aku pasang buat nakut-nakutin orang-orang yang suka keluyuran di sekitar sini.” 

“Kamu mestinya jangan lakuin ini, Ras.”

“Lho? Kenapa? Kan asyik liat orang lain ketakutan.”

“Bisa aja orang itu punya penyakit jantung, kan bisa shock!”

“Nggak bakal!” sanggahnya cepat.

“Emang kamu tahu nggak bakal?” kataku sambil menyorotnya tajam. “Ini kalo misal orang yang kamu jailin itu jantungan gimana? Terus dia mendadak terkena serangan jantung. Kamu mau tanggung jawab?”

“Kamu terlalu serius!” Gadis itu menukas sengit. Dia terdiam sejenak melihat hujan yang telah turun begitu deras. “Iya deh nanti nggak bakal lagi.” Dia akhirnya mengalah.

***

Namanya Laras, dia teman sekelasku sejak masih SMA. Satu hal yang tak pernah kulupa tentangnya, gadis itu selalu membawa buku misteri ke mana pun dia pergi. Di kelas, tak ada seorang pun yang mau menjadi teman dekatnya, karena obsesinya yang terlalu berlebih tentang hantu. Saking ditakutinya, bahkan ada yang bilang bahwa Laras adalah kuntilanak yang tak bisa kembali ke alamnya.

Memang penampilan Laras itu menyeramkan. Rambutnya begitu panjang, poni depannya menutupi mata persis kuntilanak di film horror. Dan bila ada kesempatan memakai baju bebas, setelan Laras mulai dari atas sampai bawah serba hitam semua. Sampai tak ada yang berani satu grup dengan dia saat sekolah mengadakan kemping di hutan.

Namun, entah kenapa aku malah tertarik kepadanya. Semua hal yang memperlihatkan kalau dia itu mirip hantu seolah tak menggubrisku. Aku begitu terkesiap saat melihat dia tersenyum untuk pertama kalinya, aku tak sengaja melihat senyumannya itu saat Laras menemukan buku misteri yang baru dia beli, yang sempat hilang. Mulai dari sana, aku terus bersama dengannya hingga kami masuk universitas yang sama.

Aku dikejutkan saat pertama kali main ke rumahnya, kamarnya dipenuhi dengan poster-poster hantu. Baik hantu lokal maupun luar negeri tetap dia tempel. Dan dia kembali membuat bulu kudukku merinding saat dia berkata.

“Apa kalau aku mati nanti, aku bakal jadi kuntilanak beneran?”

***

  “Apa, Bu? Laras kecelakaan?!” Aku tersentak ketika mendengar kabar dari ibunya Laras.

Aku langsung bergegas menuju rumah sakit. Guyuran air hujan yang begitu terasa menghujam tak kupedulikan, aku hanya ingin cepat-cepat menemui Laras. Sesampainya di sana aku langsung disambut oleh Bu Laila, ibunya Laras. Dia begitu sedih mendapati anaknya yang terkulai lemah di tempat pembaringan.

“Kenapa Laras bisa sampai begini, Bu?” tanyaku dengan suara yang agak parau.

“Dia jatuh dari pohon beringin, Nak.” Bu Laila menjawab lemah sembari tangannya memegang mulutnya menahan isak tangis.

Apa? Jatuh dari pohon beringin? Jangan-jangan Laras?

“Tadi malam setelah Nak Fian pulang, Laras mau ngambil pocongannya yang masih tergantung di pohon. Padahal Ibu sudah bilang besok saja.” Bu Laila menjelaskan sambil berusaha menahan tangisnya. “Tapi dia bilang harus diambil sekarang, takut ada yang terkena serangan jantung.”

Aku benar-benar menyesal telah berkata seperti itu kepada Laras. Apa perkataanku itu benar-benar meresap ke dalam hatinya? Tapi kenapa harus malam itu dia mengambilnya? Andai kemarin aku tak berkata demikian.

Bu Laila masih berkata padaku dengan air yang menggenang di matanya. “Tadi dokter bilang kalau Laras ...” Bu Laila tak kuasa melanjutkan perkataannya, air mata semakin mengalir deras dari kelopak matanya yang mulai memerah.

Aku mencoba untuk menenangkannya, aku terus meyakinkan beliau kalau Laras akan baik-baik saja. Aku pun meminta Bu Laila untuk terus memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa. Setelah dia sedikit tenang, akhirnya Bu Laila menjelaskan padaku tentang perkataan yang belum diselesaikannya.

“Kata dokter, kaki Laras harus diamputasi.”

Kini aku semakin merasa bersalah. Aku yang sedari tadi menahan air mataku, kini sudah tak tahan lagi. Air mataku mengalir menelusuri pipi, perkataan Bu Laila bagaikan petir yang menyambar hatiku dengan keras. Aku mengepal keras kedua tangan melampiaskan kekesalan. Laras harus diamputasi? Tak mungkin!

***

“Laras ... Laras ....” Aku memanggilnya sembari menggenggam tangannya erat.

Malamnya Laras sudah siuman, wajahnya agak pucat, rambutnya yang memang tak teratur itu terlihat semakin berantakan. Namun, aku senang ketika mendapati Laras yang sudah sadar. 

“I-ibu mana ... Fian?” ujarnya lemah.

Aku menunjuk perempuan tua yang tengah tertidur lelap di kursi kamar tempat Laras dirawat. Terlihat wajah lelah Bu Laila yang dari kemarin malam terus terjaga demi menunggu Laras. Di luar, hujan kembali turun dengan derasnya, hingga semakin pas dijadikan momentum untuk tidur. Laras tersenyum melihat ibunya, dia merasa bersyukur memiliki ibu yang sangat perhatian.

“Maaf, Ras ... karena aku ... kamu ...” Aku tertahan, tak mampu melanjutkan perkataanku.

Laras menatapku sambil tersenyum. “Ini bukan salah kamu kok, Fian.” Laras melihat ke jendela yang gordennya sedikit tersingkap. “Aku cuman nggak mau ada orang yang terkena serangan jantung karena aku.”

Aku sedikit tertawa mendengarnya. “Itu konyol! Mana ada yang nyadar pocongan itu tergantung di pohon, Ras.”

“Tapi bisa aja kan? Kita sebagai manusia mana bisa tahu,” ucapnya sambil memicingkan mata. “Tapi aku kok kayak nggak ngerasain kakiku, ya, Ian?”

Aku memalingkan wajah, tak tahu harus berkata apa dalam situasi sekarang. Apalagi setelah mendengar perkataan Bu Laila tadi, aku tak ingin Laras bersedih karena tahu yang sebenarnya.

“Apa aku akan kehilangan kakiku?” tembak Laras membuyarkan lamunanku. Aku tak kuasa memberitahunya. Namun, sepertinya Laras sudah tahu hanya dengan melihat air mukaku. “Tanpa kamu kasih tahu, aku juga sudah ngerti kok, Fian ... aku sendiri yang bisa ngerasain apa yang terjadi dengan anggota tubuhku ....”

Aku diam, bingung harus mengatakan apa.

“Tapi kalo gini aku gagal jadi kuntilanak dong,” kata Laras lagi sambil memasang wajah cemberut, aku kontan melongo mendengar perkataannya. “Mungkin cocoknya jadi suster ngesot kali, ya? Eh, aku kan mahasiswi bukan suster, terus mahasiswi ngesot gitu? Judul film baru nih!” Laras berkata lagi dengan tertawa begitu ceria.

Aku benar-benar tak mengerti dengan gadis yang bernama Laras ini, kenapa dia masih sempat bergurau di saat dia tahu bakal kehilangan kakinya? Perlahan aku mengusap kepalanya lembut, kenyataannya cewek mistis ini tak seseram yang dibicarakan orang. Justru semakin aku mengenalnya, aku merasa ketulusan yang begitu besar dalam hatinya.

“Fian, kamu bawa ponsel?” tanya Laras tiba-tiba saat aku mengusap kepalanya. Aku mengangguk. “Aku ingin difoto bareng kamu.” Laras memiohon seraya memasang wajah memelas, aku mengeluarkan ponsel tanpa mengerti sedikit pun maksud Laras.

“Kenapa kamu tiba-tiba pengen difoto?”

“Nggak. Aku cuman nyadar, kalo selama ini aku belum pernah foto berdua sama kamu.”

Aku hanya tersenyum simpul, di saat seperti ini yang ada di kepalanya hanyalah hal-hal yang tak masuk akal. Tak sedikit kah dia merasa takut akan kakinya? Takut tidak bisa berjalan lagi? Takut tak bisa mengunjungi tempat-tempat yang dia sukai? Gadis itu malah menginginkan hal sepele.

Aku mendekatkan wajah dengan Laras, wajahku memerah seketika begitu menyadari wajah Laras yang amat dekat denganku. Setelah selesai, aku menunjukkan hasil jepretan kamera ponsel kepada Laras. Dia tersenyum melihatnya, kemudian dia terus memainkan ponselku, aku pun setia berada di sampingnya sambil sesekali menghiburnya.

***

“Pemuda itu masuk tanpa curiga ke rumah wanita yang dia temui di tengah hutan ...” 

Pagi masih buta, tetes gemercik air hujan masih terdengar di luar, tetapi Laras sudah memintaku untuk membacakan cerita hantu di buku misteri yang kemarin aku beli. Aku terpaksa menurut walau aku tak suka dengan cerita seperti ini.

“Kamu kenapa minta aku bacain cerita ini?”

“Kan seru.”

“Tapi kamu kan tahu aku nggak suka?”

“Oh jadi kamu nggak mau bacain buat aku? Aku ngambek nih!” ancamnya sembari menatapku sewot. Aku tersenyum geli melihat tingkahnya yang mendadak manja.

“Iya, iya, aku lanjut bacain.”

Aku pun melanjutkan membaca cerita misteri yang begitu Laras sukai, cerita yang sudah mendarah daging dengannya. Namun, tetap saja aku merinding saat membacanya hingga membuat Laras tersenyum mengejek.

“Kamu suka aku kan, Fian?” Tubuhku bergetar hebat seketika mendengar perkataan Laras barusan. “Aku tahu kok,” sambung Laras lagi, dia lalu mengambil buku misteri dari genggamanku. “Di buku ini juga banyak cerita tentang cinta. Aku juga pernah baca cerita tentang cowok yang selalu nemenin gadis seperti aku, persis kayak kamu ....” 

Aku menunduk, tak berani menatap wajah Laras sekarang. Apalagi dengan debaran jantungku yang terus berkecamuk, membuatku tak kuasa menatap wajah gadis yang kusuka ini.

Laras menatapku dengan heran. “Tapi kenapa kamu bisa suka sama aku, Fian?” selidiknya ingin tahu. “Aku kan jelek, idungku pesek, mirip hantu lagi, nyeremin!” Gadis itu terus mencecarku. “Kan banyak cewek yang lebih cantik, yang seksi juga banyak.”

Aku tersenyum garing, entah harus bersikap bagaimana dengan situasi sekarang. Baru kali ini aku ditanya begitu oleh seorang gadis.

“Ya aku suka aja sama kamu, Ras,” ungkapku lirih sambil tersenyum dengan mata terpejam. “Makanya kamu cepet-cepet sembuh, ya, biar kita main sama-sama lagi ....”

“Tapi sekarang aku udah nggak bisa jalan.”

“Nggak apa-apa, Ras. Aku tetep suka kamu kok.”

“Aku nggak bisa seperti cewek-cewek yang lain, Fian.”

“Justru karena itu aku suka sama kamu, Ras.” Entah apa yang merasukiku sampai berani berkata seperti itu kepada Laras.

Gadis itu terdiam, tatapan matanya menerawang jauh ke setiap penjuru, entah apa yang sedang dipikirkannya. Sesekali dia melihat infusan di sebelahnya, lalu kemudian menatapku dengan tatapan matanya yang sayu.

“Di sekolah, nggak ada yang mau temenan sama aku karena katanya aku mirip kuntilanak, mereka selalu ngejek aku setiap saat, mereka pikir aku punya hal-hal gaib. Aku kesepian saat itu, sampai akhirnya aku ketemu kamu ... aku seneng waktu pertama kali kamu bilang pengen jadi temen aku. Mulai saat itu kamu selalu nemenin aku, kamu selalu tahu apa yang aku inginkan, kamu benar-benar membuat aku hidup, Fian .... Sekarang dengan keadaanku yang seperti ini pun kamu tetep mau nemenin aku bahkan kamu bilang kalo kamu suka sama aku ....”

Aku tertegun begitu mendengar pengakuan Laras, aku tak menyangka gadis yang selama ini aku kenal begitu sangar bisa mengucapkan hal yang sentimen seperti ini. Gadis itu tiba-tiba meneteskan air mata, aku kaget lalu buru-buru menyeka air matanya dengan lembut. Aku benar-benar yakin dengan kata hati, kalau aku menyukai, bukan! Aku memang mencintai Laras.

“Maaf, Fian ... rupanya aku cengeng. Kamu tahu? Aku bahagiaaa banget saat bersama kamu, aku merasa nyaman, aku nggak merasa takut sama apa pun, termasuk hantu yang nyeremin itu aku nggak takut! Tapi saat ngebayangin aku nggak bisa jalan lagi ...” Laras mulai mengeluarkan isak tangisnya, untuk beberapa saat dia menangis pilu, aku hanya bisa terpaku di sisinya tanpa bisa berbuat apa-apa. “Saat ngebayangin itu aku nggak tahu harus gimana, Fian! Aku nggak ingin menyesal karena khawatir orang lain kena serangan jantung.” Gadis itu sedikit tertawa dalam tangisnya. “Tapi ... aku nggak bisa jalan bareng sama kamu lagi. Kalo misal nanti kita jadian, kita nggak bisa jalan-jalan seperti pasangan lain. Kita nggak bisa ...” 

Laras kini semakin terbawa dengan tangisnya, sesekali dia mengusap matanya dengan kedua tangan, tetapi tetap saja air matanya terus mengalir deras.

“Aku selalu bicara tentang kematian, tentang aku kalau mati akan jadi kuntilanak beneran. Karena aku pengen nakut-nakutin orang yang suka ngejek aku saat aku sudah jadi hantu nanti!” seru Laras lagi, aku hanya diam terus mendengarkan Laras berbicara. “Tapi sekarang aku nggak mau! Aku nggak mau mati, Fian! Aku pengen terus bareng kamu, aku nyesel suka ngomong pengen jadi hantu! Aku nyesel, Fian. Tapi mungkin Tuhan mengabulkan setiap perkataanku sekarang ...”

“Nggak, Ras! Kamu nggak bakal mati! Kamu bakal sembuh!” Aku langsung menggenggam tangan Laras setelah dia berkata tentang kematian, aku benar-benar tak ingin hal itu terjadi. “Walau kamu nggak bisa jalan, aku bisa bawa kamu pakai kursi roda, kita masih bisa kayak pasangan yang lain ... kita bisa liat sunset bareng, kita bisa lihat kembang api di malam tahun baru, kita bisa liburan saat musim libur nanti, kita bisa lakuin semua itu, Ras ... sekarang yang penting kamu cepat sembuh, ya?”

Laras menganggukan kepalanya berkali-kali sembari bergumam, “Iya! Iya! Iya!” 

Aku terus menggenggam tangan Laras dengan erat, tetapi entah kenapa tangannya terasa begitu dingin. Wajah Laras tiba-tiba mendadak pucat, mulutnya merintih seperti merasakan nyeri yang teramat sangat.

Aku panik melihat Laras yang tiba-tiba meronta-ronta, aku bergegas memanggil dokter. Namun, tangan Laras tiba-tiba menahanku, aku bingung melihatnya. Gadis itu lalu bangkit dan memelukku dengan erat, aku hanya bisa terpaku tak mengerti maksudnya.

Dengan napas terengah-engah Laras berbisik pelan di telingaku.

“Aku ... juga cinta sama kamu, Fian .... Terima kasih ... sudah mau jadi temanku ... terima kasih sudah membuat hari-hariku berwarna .... Selamat tinggal, Fian ... aku sayaaaaaang banget sama kamu ... jangan lupain aku, ya ....”

***

        Seminggu telah berlalu sejak kematian Laras. Kesedihan masih setia menyelimutiku, di bawah pohon beringin kampus tempat biasa Laras duduk sambil membaca buku misterinya, kini aku duduk sendiri. Semenjak Laras tiada, aku lebih banyak menyendiri, aku tak lagi sering membuka laptop atau ponsel, aku tak lagi ikut main futsal dengan kawan-kawanku. Sudah seminggu aku hanya meratapi kepergian Laras.

Gadis yang biasanya selalu bersamaku, kini telah tiada, gumpalan tanah telah menjadi tempat persinggahannya yang baru. Kini hanya pohon beringin dan buku misteri yang tersisa darinya, dua hal yang telah menjadi ciri khasnya. Aku teringat ketika di rumah sakit aku pernah berfoto berdua dengan Laras. Secepat kilat kubuka ponsel yang telah seminggu tak kusentuh.

Air mataku menetes menerpa layar begitu melihat foto yang terpampang di sana. Kulihat senyum gadis itu yang begitu tulus, apa sekarang pun kaumasih tersenyum, Ras? Dia pernah berkata kalau foto akan selalu menjadi pengingat seseorang saat dia telah mati, tetapi untuk apa? Untuk apa aku mengingat semuanya hanya kesedihan yang membuncah! Saat menyadari semua itu takkan terjadi lagi.

Aku tak sengaja melihat catatan di bawah file foto itu. Di sana tertulis; Dari Laras Untuk Fian. Aku penasaran dan langsung membuka catatan itu, air mataku kembali menetes saat membaca isinya :

“Hai, Fian ... kalo kamu udah baca catatan ini, mungkin aku udah jadi hantu beneran, kok aku bisa tahu, ya? Feeling aja deh, he he he. Meski kamu nggak bisa bareng aku lagi, kamu nggak usah sedih. Aku kan pernah bilang, kalo aku mati, aku bakal jadi hantu! Tapi ... hantu yang pernah jatuh cinta sama Fian, kamu nggak perlu takut, oke? Ihhh lebay deh aku .... Oh iya, sebelum aku pergi, aku mau kasih tahu kamu sesuatu yang penting! Kamu jangan pernah lupain aku ya, Fian ... Aku pengen kamu kenang selamanya, aku nggak mau kalo kamu sampe lupa sama aku, makanya aku minta foto berdua sama kamu sekarang, biar kalau aku mati nanti, kamu masih bisa lihat aku yang masih hidup dan tersenyum bareng kamu .... Udah gitu aja, ya ... daahhh, Fian ... sampai nanti, sampai kau mati, kita ketemu lagi di alam sana ya ....
TTD
Laras, si cewek mistis tapi imut.”

Aku menyeka air mata setelah beberapa saat melamun. Aku mendongakkan kepala melihat pohon beringin yang berdaun lebat. Benar kata Laras, aku tak perlu bersedih karena kepergiannya. Karena seperti katanya, dia adalah hantu. Aku memang merinding ketika berhadapan dengan hal-hal mistis. Namun, untuk hantu yang satu ini, bagaimanapun bentuknya, aku tetap suka!

Walaupun sekarang memang tak ada lagi gadis yang bernama Laras, tetapi kenangan saat aku masih bersamanya tak akan hilang. Aku bahagia bisa mengenal dia, dan bisa jatuh cinta kepadanya adalah anugerah lain yang datang kepadaku. Terima kasih atas saat-saat yang indah antara kau dan aku selama ini, Ras ....

Buku misteri yang tersimpan di sebelahku tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Aku spontan menoleh ke buku itu. Apa itu kamu, Ras?

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Kau dan Cerita Hantumu"

Post a Comment