CERPEN - Cowok Itu Egois


 
Banyak cowok yang bilang, kalo cewek itu bikin pusing. Mereka suka seenaknya menganggap cewek itu keras kepala, gampang ngambek, pengen menang sendiri. Hellow! Apa nggak kebalik? Kalau saja para cowok itu nyadar dengan kesalahannya, tentu cewek juga nggak bakal bikin cowok kesel. Mereka suka nggak sadar kalau sikap merekalah yang membuat kita--para cewek suka marah-marah. Seperti kalau sedang main game, mereka dengan entengnya lebih milih game daripada ceweknya sendiri, dan mereka bangga dengan itu? Dasar egois!

Ya, cowok memang egois. Mungkin hanya personil Ada Band, cowok-cowok yang mengerti dengan cewek, seperti dalam lagunya ‘Karena Wanita Ingin Dimengerti’, tetapi tetap saja itu hanya sebuah lagu, kenyataannya cowok itu egois!

Seperti Vika, cowok yang sekarang menyandang gelar sebagai kekasihku. Dia memang manis, bahkan bisa dibilang dia itu cowok yang mampu membuat hati para gadis cenat-cenut saat melihatnya. Namun, seperti kebanyakan cowok lain, dia itu egois! Yang ada dipikirannya hanya bola, bola, dan bola. Aku seperti berada dalam urutan terakhir dalam hal yang dipikirkannya.

“Kamu harusnya ngerti dong kalo malam minggu tuh jadwalku nonton bola!” tanggapnya sedikit ketus saat aku minta diajak jalan malam minggu nanti. “Lagian kita tiap hari ketemu di sekolah, apa nggak cukup?”

Iya tiap hari ketemu, tapi di sekolah! Aku nggak pernah jalan bareng dia pas malam minggu kayak pasangan lain. Padahal kan malam minggu itu malamnya anak muda. Aku memanyunkan bibir berusaha merajuknya.

“Tapi aku pengen bareng kamu malam minggu ini.”

“Nita,” katanya lembut. “Aku kan udah bilang, aku mau nonton bola ....” Aku tetap cemberut sambil menyandarkan kepala di kursi koridor, sementara Vika malah asyik berkutat dengan laptopnya. “Atau gini aja, kamu mau nggak nemenin aku nonton bola?” 

Hah? Nemenin nonton bola? Amit-amit! Ngapain coba nonton sebelas orang yang giring bola hanya untuk cetak goal? Nggak asyik! Bikin ngantuk! Mending aku nonton drama Korea. Udah seru, bikin nangis lagi.

Aku tak merespons ajakan Vika, hanya sesekali meliriknya jutek, dan menghentak-hentakkan kaki dengan keras. Aku pengen dia ngerti kalau aku ngebet ingin jalan sama dia malam minggu ini. Tapi sial, cowok itu tak menanggapi, dia terus asyik dengan laptopnya.

“Vik, ntar malem jadi nggak?” Wahyu, teman sekelasku tiba-tiba datang, dan dengan cueknya duduk di sebelah Vika.

“Jadi dong! Masa iya gue bakal ngelewatin big match? Derby Milan, maaaannn!” tanggap Vika semangat.

Wahyu tersenyum. “Oke, ntar gue sama anak-anak dateng ke rumah lo jam delapan, ya?”

Vika mengangguk, menyetujui perkataan Wahyu. Aku hanya diam sambil memainkan ponsel, rasanya sekarang aku menjadi kambing conge, yang cuman bisa mendengarkan obrolan mereka.

“Ngomong-ngomong ada ceweknya nggak?”

Vika melirikku sambil tersenyum ngejek. “Dianya lagi ngambek, gara-gara ntar malem gue lebih milih nonton bola ketimbang jalan sama dia,” katanya yang kemudian tertawa kencang sekali.

Wahyu ikutan ketawa. “Gila lo, kasian dong cewek lo tuh! Tapi emang lebih penting bola sih.” Dia lalu bangkit dari duduknya. “Gue duluan, ya. Mau nyari alesan sama cewek gue.”

Telingaku seperti terbakar mendengarnya. Lebih penting bola katanya? Sialan! Kalo para cewek udah minta putus tahu rasa kalian! Heran. Kok ada, ya, cowok yang lebih mentingin hal lain daripada ceweknya?

“Kamu jangan ngambek, dong. Aku juga kan punya hobi sendiri.” Vika mulai buka suara ketika melihatku yang memasang wajah bete.

Aku melipat tangan di dada. “Tapi kamu jadinya nyuekkin aku, Vik,” kataku lirih, lalu kupandang dia dengan tatapan tajam. “Terus kamu ngajak aku nonton bola sama temen-temenmu itu? Tega liat ceweknya kalo dijailin?” Aku mulai mencecarnya. “Lagian kalo emang gitu, aku pengennya nonton berdua sama kamu.”

Mendengar perkataanku yang membrondong, Vika terdiam sejenak. “Mereka mana berani.” Vika memandang tajam mataku, tatapan kami kini beradu. Kalau sudah begini aku jadi malu, aku pun langsung menundukkan pandangan, Vika ketawa. “Kalo ada yang berani macem-macem sama kamu, aku yang pertama kali marah, Nit. Meski aku kelihatannya cuek, tapi aku bener-bener sayang sama kamu, Nita.”

Perkataan Vika sukses membuatku tersipu, apalagi melihat senyumannya, hatiku meleleh. Kamu jahat, Vik! Kenapa kamu selalu membuatku kesal dan senang di saat bersamaan?

“Tapi kalo nonton bola kan lebih seru bareng-bareng.”

Sialan! Baru juga dia membuatku senang, sekarang sudah bikin aku kesel lagi. Nih cowok maunya apa sih? Apa dia nggak ngerti suasana hati seorang cewek tuh sensitif? Aku meliriknya jutek, dia hanya mengangkat alis, tak mengerti dengan tatapanku.

Namun, sesaat kemudian dia malah meletakkan tangannya di atas kepalaku sambil tersenyum dengan mata terpejam.

“Tenang aja, Nit. Aku pasti ada waktu untuk kamu, kamu boleh panggil aku kapan saja. Aku pasti selalu ada untuk kamu.”

Kembali aku terenyuh oleh perkataannya. Ini yang aku tak suka pada diriku. Aku mudah sekali terbawa omongannya. Hatiku bergetar hebat saat ini, Vika memang lain dari cowok-cowok kebanyakan. Dia bisa membuatku nyaman, walau sifat egoisnya sebagai cowok masih melekat pada dirinya. Aku menatapnya sambil tersenyum penuh ketulusan.

“Tapi itu juga kalo nggak ada bola,” sambungnya lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Dasar!” Aku kembali cemberut.

***

Malamnya, aku hanya diam di kamar bareng Riri, sahabatku. Kami nampaknya korban dari keegoisan cowok. Ya--hanya demi bola, para cowok itu rela menelantarkan ceweknya di malam minggu. Riri pun sama sepertiku, dia dicuekkin sama pacarnya karena bola. Emang bola tuh siapa? Apa dia lebih cantik dari cewek? Bisa-bisanya merebut perhatian pacar orang.

“Nit! Coba liat, cowok lo berulah lagi!” Riri mengguncang-guncang tubuhku yang sedang menggelepar di ranjang.

“Apa?”

Riri langsung memperlihatkan layar ponselnya padaku. Begitu melihat apa yang terpampang disana, aku melotot, mataku hampir keluar melihatnya. Vika meng-upload foto baru di facebook-nya dengan caption:

Malam minggu nggak ada pacar? Biasa!
Malam minggu tanpa bola? Itu bencana!
Cewek itu ngebosenin... Bola itu nyenengin....
#DerbyDellaMadonnina
#ForzaInter

Lengkap dengan menandai orang-orang yang sedang bersamanya macam Wahyu, Adhan, Nendi, dan para cowok egois lainnya. Aku membanting bantal yang tengah kupeluk seketika. Bisa-bisanya dia senang-senang disaat aku suntuk berat di kamar. 

“Kita harus balas dendam!” cetus Riri di tengah-tengah amarahku.

“Caranya?”

Kami pun kemudian berfoto sambil memasang wajah seceria mungkin. Setelahnya aku langsung meng-upload foto kami di facebook dengan caption:

Cowok itu egois, mau menang sendiri...
Nggak bisa ngertiin perasaan cewek!
Tapi selama ada sahabat, kita pasti bisa bahagia tanpa cowok!
#LoveYouSahabat
#CowokItuEgois

Aku tersenyum puas setelah meng-upload foto itu. Aku tak sabar menunggu reaksi Vika setelah melihatnya. Aku dan Riri pun sama-sama menanti tanggapan para cowok-cowok egois yang kini sedang asyik dengan urusannya sendiri. Namun, setelah lama menanti, mereka tak kunjung merespons juga. Apa masih asyik nonton bola? Pikirku. Beberapa saat kemudian, Vika mengomentari foto itu:

“Kalo ada temen, ya, syukur.”

Berengsek! Kok bisa-bisanya dia komen begitu? Apa dia nggak takut aku marah? Mulai berani, ya, nih anak. Aku terus ngedumel dengan kelakuan Vika yang menurutku semakin keterlaluan.

“Gagal, Ri. Ada cara lain nggak buat kita balas dendam?”

Riri berlagak mikir, dia mengemut-emut jempolnya. “Gimana kalo kita cuekkin mereka?” cetusnya sambil memasang wajah serius. “Kita nggak perlu ngeladenin cowok kita. Saat mereka ngomong, kita cuman iya-iyain aja gimana? Terus kita juga nggak perlu minta ini-itu sama mereka. Pokoknya kita cuekkin!”

Aku mengangguk setuju dengan usul Riri. Memang benar katanya, aku harus cuek! Aku nggak boleh selalu terlihat kalo aku yang ngarep sama Vika. Padahal kan dia yang nembak aku duluan. Awalnya sih sikapnya manis banget, tetapi makin ke sini, malah keterlaluan. Kami pun ber-toast ria membayangkan kesuksesan rencana kami.

***

Hari senin, aku dan Riri mulai menjalankan rencana kami. Saat aku dijemput Vika pagi-pagi dengan motornya, aku hanya diam tak cerewet seperti biasanya. Di perjalanan ke sekolah pun tak banyak percakapan yang terjadi, kami hanya bicara sewajarnya. Di kelas juga sama, tak sekali pun aku menoleh pada Vika yang duduk di belakang bangkuku. Hingga akhirnya waktu istirahat tiba, aku dan Vika pergi ke kantin dan duduk berhadapan. Namun, seperti rencana, aku harus nyuekkin dia.

Tapi Vika seperti tak merasa aneh dengan sikapku. Dia malah asyik menyantap mi ayamnya tanpa bicara sepatah kata pun, kemudian muncul teman-temannya dan langsung asyik akrab ngobrol dengannya. Aku merengut. Kok malah aku yang dibuat bete?

Sampai akhirnya Vika mengantarku pulang, aku masih tak berbicara dengan Vika. Namun, yang membuatku heran, kenapa dia seperti tak menyadari perubahan sikapku? Apa dia sengaja? Atau dia memang bener-bener nggak peka saking cueknya?

“Tumben diem, biasanya kamu cerewet. Lagi kesambet, ya?” ujarnya membuyarkan lamunanku.

Aku hanya melongo mendengar perkataannya, sialan! Jadi dia memang sudah tahu dengan perubahan sikapku, tetapi tetap saja cuek. Kapan sih kamu bisa jadi seperti yang aku inginkan, Vik?

Malamnya Riri main kembali ke kamarku. Aku langsung menceritakan tentang rencananya yang gatot, gagal total! Setali tiga uang denganku, tampaknya Riri juga mengalami hal serupa. Cowok itu maunya apa sih? Aku perhatian tetap cuek, giliran aku yang nyuekkin, dia malah adem-ayem aja.

Tiba-tiba terpikir ide gila olehku, aku berniat membuat Vika cemburu! Kebetulan ada teman di kelas yang memiliki perasaan suka padaku. Aku coba nyuekkin Vika dan mendekati cowok yang naksir sama aku itu.

“Lo gila ya, Nit?! Itu keterlaluan! Kesannya lo kayak mainin Vika sama si Heri itu.” Riri tampak tak setuju dengan ideku.

“Nggak apa-apa lagi, gue kan cuman deketin Heri aja, nggak ada maksud mau macarin! Tapi deketin, nggak apa-apa kan cewek deket sama cowok?” tanggapku enteng.

“Terserah! Tapi gue nggak ikut-ikutan, ya.”

Riri terus berusaha mencegahku melakukan apa yang kurencanakan, tetapi aku hanya menganggap sepi semua perkataan Riri. Keputusanku sudah bulat, aku ingin Vika sadar kalau dia telah menyia-nyiakkan aku.

***

Keesokan harinya, aku mulai menjalankan misi. Saat istirahat aku mendekati Heri yang masih terdiam di bangkunya, kebetulan Heri ini jago menggambar, jadi aku coba-coba untuk meminta dia menggambar diriku. Karena dia menaruh rasa kepadaku, permintaanku ini pasti langsung disetujuinya dong? Dan benar saja, ketika aku memintanya, Heri langsung mengangguk setuju.

“Tapi aku butuh kamu, Nit.”

“Hah?” Aku kaget mendengar perkataannya. “M-maksud kamu?”

“Aku butuh kamu sebagai objeknya, biar enak ngegambarnya gitu,” jelas Heri.

“Oh, iya-iya.” Aku menghela napas lega. Kulirik Vika yang juga masih berada di bangkunya. Terlihat tatapan matanya yang cemburu. Senyumku langsung mengembang, rencana berhasil!

Sepulang sekolah, aku sudah bersama dengan Heri di taman sekolah. Kami duduk berhadap-hadapan. Heri asyik menggambar di buku gambarnya sambil sesekali menatapku, apa mungkin juga dia modus supaya bisa liatin aku terus? Ah masa bodo, toh ini juga rencanaku dalam usaha menarik perhatian Vika.

Kulihat Vika dan beberapa temannya sedang berjalan santai di koridor. Saat itu Vika tak sengaja menoleh ke arah kami berdua. Tatapannya begitu terkejut, mulutnya sampai menganga lebar. Namun, kemudian dia malah menunduk, dan berjalan menyusul teman-temannya.

Hatiku berbunga-bunga melihatnya, jiwaku bersorak penuh kemenangan. Aku yakin Vika pasti cemburu! Mungkin kedepannya dia bakal lebih perhatian sama aku, setelah melihat kedekatanku dengan Heri. Hmm, jadi untuk menarik perhatian cowok itu gampang, setelah kejadian ini aku paham kalo cowok itu bakal menyesal setelah dia tahu menyia-nyiakan apa yang dia miliki.

Hari-hari berikutnya, aku jadi lebih dekat dengan Heri. Hampir setiap saat kami selalu barengan, saat istirahat pun kami tetap asyik di kelas sambil Heri membuat lukisan diriku. Aku dengan Vika hanya barengan saat berangkat dan pulang sekolah, dan tak banyak percakapan yang terjadi. Malah aku juga pernah pulang diantar oleh Heri, dan saat aku melihat wajah Vika ketika itu, dia seperti benar-benar marah kepada Heri.

Namun, kenapa dia tak bereaksi padaku? Kenapa dia tak menyinggung sedikit pun dengan sikapku yang begitu keterlaluan? Dia malah bersikap seperti biasanya. Hal ini tentu membuatku semakin penasaran kepadanya. Karena bagaimana pun juga, tak ada tanda-tanda kalau dia ingin putus, atau marah padaku. Dia seperti biasa, selalu membuatku nyaman walau egois.

Hingga setelah seminggu lebih kedekatanku dengan Heri. Vika tiba-tiba menahanku di pintu gerbang sekolah. Saat aku hendak kembali dibonceng Heri. Aku hanya termangu mendapati Vika yang tengah menatapku tajam. Vika lalu menyuruh Heri untuk pergi. Heri sebenarnya protes, tetapi ketika melihat Vika yang memandangnya garang, Heri akhirnya pergi juga.

“Oke, Nit. Aku nyerah. Aku nggak bisa diginiin terus!”

“Maksud kamu?” Aku pura-pura nggak ngerti dengan perkataannya.

“Kamu sengaja kan deketin Heri?” katanya sambil memandang tajam mataku. “Kenapa, Nit? Apa kamu udah nggak suka lagi sama aku?”

“Itu ...” Aku menundukkan pandangan seraya menggerak-gerakan kakiku, “Aku cuman mau kamu perhatian sama aku, Vik. Mungkin kalo aku deket sama cowok lain, mungkin baru kamu--”

Belum selesai aku bicara, Vika langsung memegangi kedua bahuku.

“Ya ampun, Nita. Kurang perhatian gimana coba? Saat kamu kesel, aku selalu dengerin keluhan kamu. Saat kamu dijailin anak-anak cowok, aku yang pertama kali marah dan langsung hajar mereka! Kurang apa lagi?! Aku bener-bener sayang sama kamu, Nit.”

Aku menyeka air mataku yang tiba-tiba mengalir. “Tapi kamu lebih mentingin bola.”

Vika menghela napas sejenak lalu menatapku dengan tajam. “Nita. Kamu sama bola itu beda! Kamu itu orang yang aku sayang, nonton bola cuman hobi, nggak lebih!” katanya yang kemudian menyeka air mataku. “Aku tahu kalo kamu juga sayang sama aku. Karena itu aku yakin kalo kamu pasti nggak bakal ngambek kalo aku lebih mentingin bola, tapi ternyata aku salah. Aku nggak sadar kalo aku itu egois, aku jadi buat kamu kesel, dan buat kamu jadi benci sama aku.” Kali ini dia menatapku dengan tatapan super serius. “Aku janji, Nit. Kalo kamu memang bener-bener butuh aku, aku rela tinggalin bola demi kamu!”

“A-aku cuman pengen jalan sama kamu pas malam minggu, Vik. Kayak pasangan yang lain.” Aku mengusap-ngusap mataku sambil merajuknya.

Vika meletakkan tangannya di atas kepalaku sambil tersenyum dengan mata terpejam. “Nanti malem kita nonton gimana? Mau?”

“Bener?” Aku menatap Vika tak percaya. Vika mengangguk pasti. Aku seneng banget, langsung kepeluk dia sambil sesenggrukan melepas tangis bahagia.

Namun tiba-tiba Wahyu datang dan langsung ngomong ke Vika, “Ntar malem big match lagi bro! Derby Italia! Inter vs Juventus! Jangan dilewatin.”

Vika tersenyum getir mendengar perkataan Wahyu. Dia terlihat dilema, tetapi akhirnya kembali menatapku dengan gamang, “Ng–nontonnya malam minggu depan aja ya, Nit? Sekarang ada big match lagi.”

Aku menghela napas kesal. Cowok memang egois!

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Cowok Itu Egois"

Post a Comment