CERPEN - Surat Cinta Yang Kutinggalkan


 
Seperti kata orang, kalau kita menginginkan sesuatu teramat sangat. Kita harus berusaha sekuat mungkin untuk menggapainya, hingga suatu saat keinginan itu akan terwujud. Atau seenggaknya kita bisa mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Dari sana aku termotivasi untuk membuat surat cinta sebanyak-banyaknya. Lho, kenapa bikin surat cinta? Seperti kata orang tadi, kalau berusaha sekuat mungkin kita bisa meraih apa yang kita inginkan, terlebih jika keinginan kita hanyalah memiliki seorang pacar, itu perkara yang mudah tentunya. Namun, jika kita menginginkan kans lebih besar agar diterima surat cinta itu, alangkah lebih baik jika kita menulis surat cinta sebanyak-banyaknya. Karena tak menutup kemungkinan minimal ada satu cewek yang nyantel.

Ide gila-gilaan ini muncul ketika aku kelas tiga SMA awal semester dua. Saat itu dalam pikiranku hanya tentang kisah asmara masa sekolah, karena hingga kini aku belum pernah merasakan kisah kasih di sekolah. Maka sekarang aku bertekad untuk bisa mendapatkan minimal satu gadis cantik di sekolah ini.

Malam minggu di akhir bulan Januari ini aku telah menyelesaikan lebih dari sepuluh surat cinta. Rencananya, aku akan mengirim surat ini pada bulan Februari nanti, sekarang nanggung sudah akhir bulan. Di mana-mana juga rezeki datangnya saat awal bulan. Kukumpulkan surat cinta yang berserakan di meja belajarku. Kupandangi lekat-lekat sambil berdoa, semoga ada cewek yang menerima cinta tulusku ini.

***

Hari senin, awal pergantian bulan dari Januari ke Februari. Aku berangkat ke sekolah dengan semangat. Karena sekarang aku akan mengirim surat-surat cintaku itu. Mungkin juga aku akan melepas masa jomblo di bulan ini. Sesampainya di kelas, aku langsung disambut Muklis.

“Gimana surat cintanya? Jadi?”

Aku menghempaskan pantat di kursi, lalu kutunjukkan tumpukan surat di dalam tas. Muklis sampai tercengang.

“Buju buneng! Nggak kebanyakan lo?”

“Justru menurut gue kurang! Tapi nggak apa-apa segini juga. Moga aja ada cewek yang nyantel satu.”

“Gini nih tipikal cowok yang nggak yakin sama tampangnya sendiri,” sindirnya ketus. “Tapi kalo yang nerimanya banyak, buat gue satu, ya?”

“Beres! Yang penting lo bantu nyampein suratnya.”

Muklis mengangguk mantap, dia lalu kembali asyik dengan ponselnya. Aku langsung menutup tas takut ada orang lain yang melihat. Pelajaran pun dimulai, tetapi aku tak bisa konsentrasi pada materi yang diberikan guru, aku terlalu sibuk memikirkan misiku yang terbilang cukup berbahaya.

Sepulang sekolah, aku dan Muklis langsung melaksanakan operasi kami, mengirim surat cinta! Seperti yang sudah disepakati, Muklis mengirim ke kelas satu, sedang aku kelas dua dan tiga. Aku melangkah menuju salah satu kelas siswi incaranku, dan langsung menyimpan surat dalam loker mejanya. Setelahnya aku bergegas ke kelas targetku selanjutnya dan melakukan hal serupa.

Setelah selesai. Aku dan Muklis duduk santai di bangku taman sekolah. Anganku melayang-layang kalau ada salah satu cewek yang menerima cintaku. Aku tak lagi sendiri, aku bakal memiliki kekasih! Tak sadar aku malah senyum-senyum sendiri.

“Lo bener-bener gila, Dit! Baru kali ini gue nemu orang kayak lo,” celoteh Muklis membuyarkan lamunanku.

“Santai aja lagi. Toh ngirim surat cinta kan nggak dilarang,” tanggapku enteng.

“Bukan masalah dilarangnya. Ini lo bener-bener nekat, kalo cewek yang lo kirimin itu udah punya pacar gimana?”

“Ya tinggal cuekkin aja, jangan diterima,” sahutku datar.

Muklis hanya menggeleng-geleng melihat sikapku. Tatapan matanya kini tertuju pada surat cinta yang masih kupegang.

“Itu masih ada ... nggak dikirim?” tanyanya heran.

“Yang ini spesial!”

Sama seperti kebanyakan cowok lain. Aku juga memiliki cewek yang benar-benar aku cintai. Namanya Indah, aku selalu memperhatikan dia sejak kelas dua SMA. Waktu itu aku sekelas dengan dia, tetapi saat kelas tiga, kelas kami dipisah. Namun, aku tetap menaruh rasa kepada Indah. Entah kenapa perempuan itu sukses membuat hatiku cenat-cenut.

Dan yang membuatku jatuh cinta pada Indah adalah saat rambut panjangnya tergurai indah tertiup angin. Apalagi senyumannya yang membuat hati ini meleleh. Gigi gingsul yang terselip di antara bibir mungilnya yang menggemaskan. Membuatku benar-benar jatuh hati.

Kupandangi surat cinta untuk Indah itu. Surat ini beda dari yang lain. Surat ini warnanya pink, warna kesukaan Indah. Dan kutempeli stiker kucing, karena setelah kuselidiki lebih lanjut. Indah suka memelihara kucing, maka demi memuluskan jalanku, aku tempeli stiker kucing yang sangat lucu, semoga saja gadis itu suka. Namun, seperti ada sesuatu yang menghalangiku untuk memberikan surat itu pada Indah. Sampai akhirnya aku simpan sendiri surat itu.

***

Seminggu telah berlalu semenjak pengiriman masal surat cintaku, tetapi sampai saat ini belum ada respons dari cewek-cewek yang kukirimi surat. Aku jadi bingung. Kenapa? Masa iya sudah seminggu nggak ada satu pun yang ngecek loker mejanya? Ah, mungkin iya. Aku mencoba berpikir positif.

Sampai akhirnya, waktu itu jam terakhir pelajaran olahraga. Aku sedang asyik main bola dengan teman-teman sekelas. Aku menggiring bola dengan lihai, layaknya Cristiano Ronaldo melewati lawan-lawannya. Aku melesatkan tendangan keras menerjang gawang lawan, dan goal! Seperti layaknya pemain bola, aku merayakan goal dengan seleberasi. Aku berlari riang ke pinggir lapangan.

Namun, betapa terkejutnya ketika aku mendapati Fenny, adik kelas yang juga target dari surat cintaku, dengan tegapnya berdiri di pinggir lapangan dan menatapku garang. Aku jelas melongo.

Plakkk!

Tiba-tiba tamparan keras melayang menghujam pipiku. Lengkap dengan surat cinta yang kukirim padanya. Wajah gadis itu tak berubah sedikit pun, malah tambah garang! Teman-teman pada terkejut melihat kejadian ini. Seisi lapangan dibuat terdiam. Hingga keheningan melanda untuk beberapa saat. Aku jelas makin ketar-ketir.

“Mau lo apa, hah?! Gara-gara surat cinta lo yang norak ini, cowok gue jadi ngamuk! Ngapain sih pake surat-surat cinta segala?! Puas lo!” Fenny mencaciku di depan anak-anak.

Sesudah dia mengatakan itu, Fenny pun pergi setelah menamparku untuk yang kedua kalinya. Surat cinta yang beberapa saat tadi menempel di pipiku, kini terlepas dan melayang terbawa angin. Seperti hatiku kini, hancur berkeping-keping dan terhempas terbawa bayang-bayang keraguan.

Setelah kejadian itu, sifatku berubah 180 derajat. Kalau biasanya aku selalu ceria, kini aku jadi pemurung. Aku benar-benar galau, galau segalau-galaunya. Aku tak menyangka bakal seperti ini. Kini harapanku untuk memiliki seorang kekasih sirna sudah. Kejadian Fenny itu, mungkin sudah menyebar luas, tentu cewek-cewek yang kukirimi surat cinta pada nyadar, kalau bukan dia saja yang menerima surat cinta. Pupus sudah harapanku.

Namun, semangatku kembali berkobar ketika melihat surat cinta untuk Indah yang masih tersimpan manis di dalam tas. Secepat kilat kuambil surat itu, kini kabut yang menyelubungi hatiku perlahan sirna. Aku benar-benar yakin untuk memberikan surat ini kepada Indah. Semangat, Adit!

Saat itu juga aku langsung bergegas ke kelas Indah, kebetulan di sana sedang tidak ada orang. Aku langsung menyimpan surat itu di dalam loker mejanya. Semoga aja kali ini berhasil, batinku.

Tanpa diduga. Keesokan harinya Indah langsung menemuiku. Aku yang saat itu sedang asyik duduk sendirian di taman sekolah, dikejutkan dengan kedatangan Indah yang tiba-tiba. Gadis itu langsung duduk di sebelahku.

“Kamu yang nulis surat ini, Dit?” tanyanya lembut.

Aku mengangguk pelan. “I-iya ... j-jadi gimana, Ndah?”

Aku benar-benar gugup. Baru kali ini aku berhadapan dengan situasi seperti ini. Seluruh tubuhku seperti mata rasa. Keringat dingin pun mulai mengucur dari pori-pori kulitku.

“Mmmm.” Indah berlagak mikir. “Bagus, ini bener-bener kamu yang buat? Aku suka.”

Senyumku mengembang seketika. Dia suka katanya? Kalau tahu gini sih sudah dari dulu aku tulis surat cinta untuk Indah. Mungkin sekarang kami sudah menjadi sepasang kekasih. Tapi tak apalah, sekarang juga belum telat.

“Iya, Ndah. Itu aku yang buat. Jadi gimana? Kamu mau nggak ... jadi ...” Aku tergagap, sial! Tinggal ngomong aja apa susahnya? Kan aku juga sudah ngirim surat, sekarang tinggal penegasan.

Aku minta tolong sesuatu boleh?” Indah memotong.

Aku mengangguk.

“Surat cinta kamu bagus, Dit ...” Dipuji begitu oleh Indah, benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga. “Jadi aku mau minta tolong sama kamu. Mau nggak buatin aku surat cinta untuk Muklis?”

“Hah?”

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Surat Cinta Yang Kutinggalkan"

Post a Comment