1.SEKELEBAT RINDU
“Aku
rindu ...,” ucapmu lirih.
Mama menatapmu
pilu, sekeras apa pun dia mencoba membujuk agar mulai membuka lembaran baru,
tapi kau akan tetap berdiam diri. Menyesali semua yang telah terjadi--hingga
sekali lagi--tak ada cara untuk bisa menghapus ingatanmu yang terus membelenggu.
“Aku
rela melakukan apa pun agar dia kembali.”
Kau
tetap keras kepala mengharap sesuatu yang tak mungkin terjadi, sampai membut
Mama hilang kesabarannya.
“Cukup!
Mama nggak mau dengar kamu ngomong gitu lagi!”
Mama
langsung masuk sambil menutup pintu dengan keras, sampai suaranya begitu
mengagetkan jiwamu yang tengah dilanda perasaan gelisah.
Kemarahan
Mama memang cukup beralasan. Melihat pria seperti dirimu yang hanya bisa menangisi
masa lalu dan menyesali apa yang telah terjadi, tentu membuatnya kesal atas
sikap yang kau tunjukkan.
Kau
mengusap kepala perlahan, lalu menyulut sebatang rokok yang menurutmu bisa
sedikit menenangkan perasaan. Kau mengepulkan asap rokok tebal diiringi dengan
desahan napas berat.
“Ras,
aku rindu ....” Kembali kau mengucapkan kalimat itu seraya menatap kosong langit
senja yang mulai berubah warna.
***
Saat
malam tiba, kau selalu berada di tepi sungai, tempat kau biasa mengobati rasa
rindu kepada dirinya. Walau kau sering melihat sosok aneh yang berada di luar
nalar, tapi kau tak peduli. Bagaimana pun, kau memang sudah tak memiliki akal
sehat.
Dalam kegelapan
malam yang hanya disinari cahaya rembulan, serta suasana mencekam yang menyelimuti
tempat itu. Namun, kerinduanmu yang begitu dalam, mengalahkan semua perasaan
takutmu yang mulai terasa.
“Ras,
aku rindu ....”
Hanya
kalimat itu yang sering terucap dari mulutmu, tanpa kau sadari bahwa sosok yang
kau rindukan itu tengah memperhatikanmu. Walau dalam wujud yang mungkin tak
ingin kau lihat. Karena sudah tak lagi sama seperti saat kau mengenalnya dulu.
Suara
lolongan anjing yang begitu keras, semilir angin malam yang menggerak-gerakan
pepohonan di sekitar sungai. Merupakan pertanda sosok itu berada di sampingmu
dengan memancarkan aura kehadiran yang membuat bulu romamu berdiri. Namun,
tetap saja kau menganggap sugesti belaka. Karena kau sangat yakin, tidak ada
hal semacam itu di dunia ini.
Splash!
Percikan
air yang mengantarkan udara dingin menerpa lehermu hingga membuatmu bergidik
ngeri. Dirasa karena ada sesuatu yang lain yang kau rasakan.
Semerbak
kemenyan tiba-tiba mengganggu indra penciumanmu, membuat keyakinanmu runtuh.
Malam semakin larut, bau kemenyan itu semakin menyengat dibarengi dengan
lolongan anjing yang kian keras terdengar.
Rindu....
Rindu....
Jantungmu
berpacu cepat kala mendengar bisikan-bisikan misterius, sontak kau pertajam
semua indramu, tapi tetap tak bisa menemukan asal suara itu.
“Kenapa
kau merindukanku?”
Kau
begitu tercekat ketika mendengar suara seorang wanita di belakangmu, suara yang
sudah melekat pada telingamu.
Namun,
saat kau melihat sosoknya, semua akal sehat seakan sirna. Ketika kau melihat
sosok makhluk dengan wajah berlumuran darah, dan berjuta keanehan lainnya yang
tak bisa dijelaskan secara logika.
Lututmu
mendadak lemas, hingga membuat kau terduduk lemah di tanah dengan merasakan
kengerian yang luar biasa. Makhluk itu menyeringai, memperlihatkan taringnya
yang membuat ngeri.
Entah
bagaimana caranya, tiba-tiba sosok itu berada di sampingmu, hingga membuat kau
semakin ngeri.
“Aku
selalu ada di sisimu setiap saat ... tapi, jika kau masih merindukanku,
haruskah aku membawamu ikut ke tempat seharusnya aku berada?”
***
2. TENTANG KITA
Waktu terasa
Semakin berlalu
Tinggalkan cerita
Tentang kita
Selepas isya, aku dan Dicky asyik duduk di depan kost-an
sembari mendengarkan lagu dari masa lalu yang begitu menyayat hati. Ditemani
dengan segelas kopi panas, kami bercerita tentang masa yang telah kami lalui,
seraya melihat taman langit yang penuh gemerlap bintang.
“Al, lagu ini makin ke sini kok makin sedih, ya?”
Lagu “Semua Tentang Kita” dari Peterpan memang menyimpan
segala cerita yang pernah terjadi di masa lalu. Seakan lagu itu bisa menghipnotis
angan untuk terbang ke masa lampau, tempat di mana aku dan dia masih bersama.
Berada dalam satu ruangan menatap coretan papan tulis yang tak enak dipandang.
Menghayati momen terindah yang kini berlalu.
Aku dan Dicky memang sering bercerita tentang masa lalu,
membagi semua kisah yang telah kami lalui. Apalagi kami tengah “Praktek Kerja
Lapangan” di Cimahi, tentu semakin indah menikmati malam sembari bercerita
tentang masa lalu.
“Waktu emang nggak kerasa, ya, Ky? Tahu-tahu bentar lagi
kita lulus.” Aku menyeruput kopi secara perlahan. “Apa nanti juga bakal nggak
kerasa juga?”
“Pasti, Al. Liat aja sekarang, dari kecil sampe sekarang
nggak nyangka kan waktu berjalan begitu cepat?”
Aku tersenyum tipis mendengar perkataannya, seolah ada
sesuatu lain yang membuat sesak di dada. Menyadari semua tak lagi sama--semua
kisah itu telah menjadi cerita--hanya kenangan yang mampu membuat semua itu
terasa hidup kembali.
Sama seperti cerita masa laluku yang telah usai. Suatu
saat, aku dan Dicky akan kembali menceritakan perjalanan hidup kami. Tentang
lika-liku kehidupan seusai lulus sekolah nanti, dan mungkin kisah di kost-an
selama tiga bulan ini juga akan kami ceritakan nanti.
Kini, saat usia kami tepat 20 tahun. Aku dan Dicky
tengah berjuang meraih mimpi masing-masing. Walau jalan yang kami lalui
berbeda, tapi suatu hari nanti kami pasti akan bertemu kembali dan menceritakan
semua tentang kita ....
***
3. ADA
CERITA
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka
Saat kita tertawa
Belakangan
ini lagu dari masa lalu itu kerap terngiang di kepalaku. Alunan indah dari
melodi dalam nadanya sukses membuatku menghayati suasana.
Entah
kenapa, sekelumit bayangan akan sahabat yang telah bersama selama tiga tahun
sering menghampiri, dan berdampak sesak yang begitu membuncah di dada.
Terbayang bila tidak akan bersama lagi, meninggalkan masa putih abu yang indah.
Coretan
di papan tulis yang malas dipandang. Guru killer
yang resenya minta ampun. Menaruh rasa pada lawan jenis. Semua itu telah
menjadi serpihan kenangan yang hanya bisa dinikmati dalam ingatan. Namun, semua
cerita itu akan tetap menjadi salah satu hal terindah.
“Nanti
ketemu lagi, ya ....”
Satu
kalimat yang perlu diuji kebenarannya. Memang itu hanya perkataan kecil dari
seorang sahabat, tetapi begitu menimbulkan efek yang luar biasa. Sebuah harapan
akan bisa bersama kembali, mengulang semua cerita manis di masa lalu.
Sebagai
seorang pelajar, tentu pernah merasa jenuh akan pelajaran. Namun, anehnya
setelah lulus malah merindukan semua hal di sekolah. Yah, lembaran baru akan
terus terbuka memaksa menjalani kehidupan yang sebenarnya.
Namun,
jika aku bisa berharap seperti teman yang lain. Aku ingin berkata.
“Pasti,
kita akan bersama kembali ....”
Dan
kini, aku hanya bisa mengenang semua itu. Diiringi sebuah lagu yang bisa
menghidupkan suasana.
Ceritakan, semua tentang kita ....

Belum ada tanggapan untuk "Kumpulan Cerita Mini - 2"
Post a Comment