CERPEN - Teman Online



Jemari Jesi begitu lincah menari-nari di atas tuts keyboard laptopnya. Ditemani dengan segelas susu panas, serta suara tetesan air hujan dari luar membuat gadis itu semakin anteng chatting dengan teman online-nya. Sejak aktif di media sosial, Jesi memiliki teman maya yang cukup dekat dengannya.

Hingga sekarang, Jesi semakin dekat dengan teman jauhnya itu. Setiap hari mereka selalu berkirim pesan. Namanya Alvin, dilihat dari profilnya, cowok itu mneyukai sepak bola. Timeline-nya penuh dengan berita bola, bahkan foto profilnya pun memakai logo dari sebuah klub bola. Hanya ada satu foto aslinya dari sekian banyak foto yang dia unggah. Itulah yang membuat Jesi tertarik pada lelaki itu.

“Kamu orang mana?” Itu chat pertama Jesi yang dikirim kepada Alvin.

“Kediri. Kamu?”

Jesi tersenyum ketika Alvin membalas chat-nya sangat cepat. “Bandung.”

Sejak saat itu. Mereka jadi sering chat setiap hari, saling mengenal satu sama lain. Tak ayal mereka pun memiliki keinginan untuk bertemu. Karena tanpa Jesi sadari, rasa cintanya pada Alvin perlahan-lahan mulai tumbuh. Walau hanya sebatas ketikan yang terpampang pada layar monitor, tetapi Jesi sudah bisa merasakan kehangatan dari sikap Alvin. Terlihat dari ketikannya yang rapi, bahasanya yang luwes, serta tak ada sedikit pun kata kotor yang pernah terlontar darinya.

“Kamu cantik, Jes.”

Jesi begitu tersipu kala Alvin mengomentari foto profilnya yang baru dia unggah. Semakin hari, keinginannya untuk bertemu dengan Alvin semakin kuat. Namun, dari Bandung ke Kediri bukanlah jarak yang dekat. Harus berapa lama Jesi menempuh perjalanannya ke Kediri? Belum lagi ongkosnya. Orangtuanya tentu tak akan mengizinkan Jesi untuk bertemu dengan teman maya yang sama sekali belum pernah dia temui.

Maka, Jesi pun mengurungkan niatnya untuk saat ini. Bisa berkirim pesan dengan Alvin di media sosial juga sudah cukup baginya. Lagipula, sekarang Jesi sedang streaming pertandingan bola sama seperti Alvin. Jadi kesannya seperti yang sedang nonton bareng, walau tak berasal dari tempat dan layar yang sama.

“Jes, kamu simpen baju Kakak di mana?” tanya Bella, kakaknya Jesi. “Tadi kamu yang setrika, ‘kan?”

“Lho? Bukannya ada di lemari? Tadi udah Jesi simpen di sana kok.”

“Mana? Nggak ada?” Bella kembali mengacak-acak tumpukan bajunya.

Dengan terpaksa Jesi beranjak dari duduknya, lalu membantu Bella yang sedang mencari baju pink kesayangannya. Tak berselang lama, Jesi menemukan baju yang dicari kakaknya, tergantung di lemari pakaian hanya terselip di antara baju lainnya.

“Kebiasaan Kak Bella nih! Makanya kalo nyari barang tuh yang teliti!” Jesi langsung menyerahkan baju itu dengan kasar, lalu kembali ke mejanya melanjutkan nonton bola.

Bella nyengir sambil memeletkan lidahnya. “Sorry nggak keliatan, abis numpuk sih.” Cewek itu menutup lemari pakaian tanpa ada niatan membereskan baju-baju yang telah dia buat berantakan. “Oh, ya, Jes, minggu depan kamu ulang tahun kan? Mau hadiah apa dari Kakak?” Bella coba menggoda adiknya, tetapi Jesi tak begitu menanggapi. Dia hanya mengangguk pelan. “Kamu lagi apa sih? Serius amat.”

“Nonton bola sama Alvin,” sahut Jesi datar tanpa menoleh sedikit pun ke Bella.

Baju yang tengah digenggam Bella terlepas seketika, dibarengi dengan debaran jantungnya yang mulai berpacu cepat. Entah kenapa, kini Bella terlihat begitu marah dengan sorot matanya yang menatap tajam adiknya.

“Jesi!!!” serunya setengah berteriak.

Jesi sedikit kaget, dia langsung menoleh ke arah kakaknya, Bella masih menatapnya garang. Namun, ketika melihat wajah adiknya yang lugu. Bella berusaha mengatur mimik wajahnya, dia lalu mencoba berbicara selembut mungkin.

“Jangan berhubungan lagi dengan Alvin, Jes.” Bella berkata lirih, dia lalu berjalan mendekati Jesi dan mengusap rambutnya lembut. “Kasihan Papa sama Mama kalau melihatmu masih seperti ini.”

“Maksud Kakak apa sih?” Jesi menatap tak paham.

Bella mengembuskan napas perlahan. “Sudahlah, mungkin nanti kamu bakal ngerti.”

Jesi diam, sama sekali tidak mengerti dengan perkataan kakaknya. Tanpa memikirkannya lebih jauh lagi, Jesi kembali melanjutkan kegiatannya.

***

Malam itu, ketika sedang makan malam bersama keluarganya di ruang makan. Jesi terlihat buru-buru menghabiskan makanannya, meski mulutnya sudah penuh terisi oleh nasi, tetapi gadis itu terus memasukkan makanan ke mulutnya sampai membuatnya tersedak. Mama hanya menggeleng pelan, heran dengan tingkah putrinya itu.

Jesi memang ingin segera menyelesaikan acara makannya. Tadi, Alvin menjanjikan sesuatu yang akan disampaikannya pada Jesi setelah makan malam, sampai membuat gadis itu penasaran dengan apa yang akan dikatakan teman online-nya. Meski di piring masih tersisa makanan, Jesi langsung beranjak dari duduknya hendak kembali ke kamar.

“Lho? Kamu sudah makannya, Sayang? Itu masih ada sedikit lagi.” Mama heran begitu melihat Jesi buru-buru kembali ke kamar.

“Jesi ada obrolan penting sama temen, Mah.”

Mama menghela napas demi melihat kelakuan Jesi. Sesaat kemudian, seperti yang teringat sesuatu, beliau tersentak kaget hampir membuatnya tersedak. Papa yang berada di dekat Mama memberikan segelas air putih yang langsung disambut Mama.

“Minggu depan Jesi ulang tahun kan, Pah?” Mama meletakkan gelas seraya menatap suaminya penuh arti.

Seketika, Papa juga tersentak, seperti mengerti dengan apa maksud Mama. “Iya, Mah, Papa hampir lupa. Bel, apa sekarang Jesi masih ...” Papa menggantung kalimatnya seraya menatap Bella lekat. Bella mengangguk paham. “Memang sulit, ya,” lanjutnya lagi dengan tatapan matanya memandang kamar Jesi.

“Sudahlah, Pah. Nanti juga Jesi ngerti, kita harus sabar.” Mama menepuk pundak Papa perlahan lalu memandang Bella. “Mama titip Jesi, ya, Bel. Kamu jaga adikmu itu.”

Bella kembali mengangguk menuruti permintaan kedua orangtuanya.

***

Di kamar, Jesi sedang asyik menunggu Alvin yang ternyata belum online. Sambil menunggu, gadis itu iseng melihat timeline facebook Alvin. Tak berselang lama, dia merasa bosan sendiri, isinya hanya berita bola serta beberapa kiriman dari teman-temannya. Namun, sesaat kemudian Jesi merasa pusing--tatapan matanya mendadak nanar, seperti ada sesuatu yang merasuki kepalanya. Sejenak Jesi memalingkan pandang sekadar menenangkan perasaannya.

Selang beberapa saat, akhirnya muncul pesan dari Alvin. Jesi serta-merta langsung menatap layar monitor, kepeningan yang dirasakannya seolah lenyap begitu saja. Apalagi setelah melihat isinya, perasaan Jesi seolah mekar seketika dibarengi dengan seulas senyum yang terlukis pada bibirnya.

“Jes, minggu depan aku ke Bandung.”

“Serius? Awas kalo boong!” balas Jesi penuh harap.

“Iya, aku mau seminggu di rumah paman.” Terlihat Alvin yang masih mengetik, dengan sabar Jesi menunggu. “Lagipula, minggu depan kamu ulang tahun kan? Kebetulan.”

Jesi menutupi senyumannya dengan kedua tangan, dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Gadis itu tidak menyangka Alvin akan menjanjikan hal seperti ini, tentu ini adalah hadiah paling istimewa di hari ulang tahunnya.

“Bentar, terus sekolah kamu gimana?”

“Sekali-kali ngebolos nggak apa-apa kan?”

Jesi senang bukan main dengan apa yang dikatakan Alvin. Minggu depan dia akan bertemu dengan teman online-nya yang begitu dia cintai di Bandung, kota kelahirannya. Gadis itu benar-benar bahagia sekali. Jesi sampai tak mampu menyembunyikan rasa senangnya. Layaknya seekor kelinci, dia meloncat-loncat kegirangan. Begitu Bella masuk ke kamar, gadis itu langsung memburu ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Bella jelas kaget dipeluk sebegitu rupa oleh Jesi.

“Kamu kenapa sih? Centilnya kumat, ya?”

Jesi tersenyum sambil memamerkan gigi putihnya yang berderet rapi. “Minggu depan Alvin mau ke Bandung!”

Dengan cepat Bella mengeratkan pelukannya. Tangannya mendekap kepala adiknya itu dengan lembut seraya mengecup pelan ujung kepalanya. Bella menatap Jesi kasihan, hatinya begitu tersayat kala mendengar gadis itu bercerita tentang Alvin. Ada satu hal yang masih belum Jesi sadari. Namun, Bella hanya bisa terus mengawasi adiknya itu tanpa mampu berbuat apa-apa.

“Nanti Kak Bella temenin Jesi, ya?”

Bella mengangguk pelan sembari membatin, iya aku akan temani kamu, Jes. Sampai kamu bisa menyembuhkan luka dalam hatimu.

***

Akhirnya saat hari yang ditentukan tiba. Pagi-pagi sekali Jesi sudah duduk sendiri di sebuah taman. Tadinya dia akan menunggu di terminal bus, tetapi Alvin menolaknya. Dengan alasan bahwa Alvin pernah ke taman itu sewaktu dia kecil, jadi dia ingin pertemuan pertamanya dengan Jesi di taman penuh kenangan itu. Jesi pun menurut.

Sebenarnya, Alvin sudah bilang kalau kemungkinan dia sampai Bandung sore menjelang malam, tetapi Jesi tetap bersikeras untuk menunggu dari pagi. Agar deg-degannya lebih lama. Bella yang akan menemani jadi batal, lantaran ada acara mendadak bersama teman-temannya. Mau tidak mau akhirnya Jesi pergi sendiri untuk bertemu Alvin. Bella sebenarnya segan membiarkan adiknya pergi sendirian, takut terjadi apa-apa. Namun, karena acara dengan temannya begitu mendesak. Bella akhirnya tega membiarkan Jesi pergi seorang diri.

Sambil menunggu, Jesi berjalan mengitari daerah sekitar taman dengan memakai earphone, mendengarkan lagu favoritnya. Sesekali dia membuka akun facebook-nya sekadar menanyakan kepada Alvin sudah sampai mana. Namun, cowok itu tak kunjung membalas. Padahal, biasanya tidak sampai semenit Alvin mengirim balik pesannya Jesi, tetapi sekarang sudah tiga jam lebih Alvin tak kunjung menyahut. Mungkin dia masih dalam perjalanan dan tak sempat membuka ponsel, Jesi mencoba berpikir positif.

“Alvin mana sih? Ini udah mau malem.” Jesi bergumam pelan.

Hari memang sudah sangat sore, tetapi Alvin belum juga datang. Chat Jesi pun tak dibalas, hanya ada beberapa kiriman dari temannya yang memberi ucapan selamat ulang tahun. Jesi mendongakkan kepalanya menatap langit yang kini berubah menjadi hitam pekat, kemudian disusul hujan deras yang kembali mengguyur pertiwi. Jesi menarik resleting jaketnya serta memakai kupluk, seraya kedua tangannya mendekap satu sama lain menahan dingin yang membuat tubuh menggigil.

Jesi memegangi kepalanya yang mendadak pening. Dilihatnya keadaan sekitar yang tengah diguyur hujan deras, tiupan angin yang tidak terlalu kencang, serta bau semerbak aspal basah yang termuat ke segala arah, mengingatkan Jesi akan sesuatu. Seketika seperti ada kilatan cahaya menyeruak ke dalam kepalanya yang membuat Jesi semakin pusing.

Di tengah kepeningan yang dirasakannya, Jesi seolah teringat akan masa lalu. Kala itu, Jesi duduk di taman ini seorang diri dengan guyuran air hujan yang cukup deras. Hingga akhirnya, di seberang jalan terlihat seorang pria melambaikan tangan padanya. Jesi sontak langsung berjalan ke arahnya dan berdiri di pinggir trotoar.

Pria itu melangkah tegap menuju Jesi. Namun, tanpa dinyana, tanpa diduga, sebuah truk melintas dengan cepat. Dengan balutan kabut dalam hujan yang begitu tebal, membuat sang sopir tak bisa dengan jelas melihat apa yang ada di depannya, hingga tak menyadari dia menabrak pria yang hendak menyeberang tadi.

Jesi begitu terkesiap melihat kejadian itu. Tubuhnya sangat bergetar hebat menyaksikan tragedi yang baru saja dilihatnya. Dia langsung berlari menghampiri pria itu yang kini terkapar di jalanan tanpa memedulikan hal serupa bisa saja terjadi kepadanya. Jesi memperhatikan tubuh pria itu dengan seksama, tubuhnya sudah tak bernyawa dengan bersimbah darah yang begitu banyak.

Ketika melihat wajahnya, tangis Jesi langsung pecah. Dialah Alvin, pria yang selama ini Jesi tunggu! Jesi melihat tangan Alvin, dia sangat terkejut saat menyadari tangan itu sedang menggenggam sekuntum bunga. Dengan tulisan yang tertera pada kartunya.

Untuk Jesi, perempuan yang sangat ingin aku temui.
~Alvin

“Alvin!!!”

Jesi terhenyak. Dia terbangun dari masa lalunya dengan situasi yang sama seperti saat itu, di bawah tirai hujan yang begitu pekat. Perlahan, potongan puzzle saat kejadian itu terngiang kembali dalam kepalanya. Tangisnya membuncah seketika. Tangisannya begitu keras terdengar. Namun, berhasil tertutupi dengan suara hujan yang lebih keras. Gadis itu bangkit dari duduknya, berjalan tertatih menuju pinggir trotoar. Melihat kembali jalanan saat tubuh Alvin yang sudah tak bernyawa.

Air matanya mengalir semakin deras. Ketika itu Jesi menyadari, bahwa dia tidak ditakdirkan untuk bersama dengan Alvin. Selama ini dia hanya menjadi teman dunia mayanya. Lalu, pada saat mereka bertemu, maut datang menjemput--kembali memisahkan mereka dengan jarak yang semakin sulit ditempuh. Jesi berteriak keras membelah guyuran hujan.

Dari kejauhan, Bella berlari tergopoh-gopoh menghampiri dan langsung memeluk erat adiknya. Bella sudah mengerti dengan situasi yang tengah Jesi rasakan kini. Jesi semakin tak kuasa menahan tangisnya, dia menumpahkan berjuta sendu yang bergelayut pada dirinya di pelukan kakaknya. 

“Jadikan ini yang terakhir, Jes! Jangan temui Alvin lagi!” Bella mendekap erat kepala adiknya. “Alvin sudah tenang di sana. Sekarang giliran kamu yang harus mengikhlaskan!”

“Sudah berapa kali Jesi seperti ini, Kak?”

“Sudah tiga kali sejak kejadian itu.”

Jesi mengeratkan pelukannya sembari membatin dalam hati, mencoba untuk merelakan kepergian Alvin. Biarlah Alvin hanya menjadi teman online-nya, teman yang hanya bisa dia rasakan kebaikannya dalam dunia palsu. Namun, kehangatan dari sikapnya yang begitu terasa nyata. Jesi berharap, semoga dia bisa menjadi teman Alvin di surga nanti, saat kehidupan abadi yang tak akan terpisahkan oleh maut, juga ruang dan waktu.

“Selamat ulang tahun, Jesi ....”

Postingan terkait:

3 Tanggapan untuk "CERPEN - Teman Online"