“Iya,
aku mau.”
Jawaban
dari gadis itu benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga. Bagaimana tidak?
Sekarang aku tak lagi menjadi satu-satunya jomblo di kelas. Semua cowok di
kelas sudah memiliki pasangannya masing-masing, tinggal aku seorang yang masih
melajang. Namun, dengan diterimanya pernyataan cintaku ini. Selain melepas
status jomblo, tetapi juga menghilangkan ledekan teman-teman yang selalu bilang
kalau aku nggak laku.
Dan
yang membuatku bahagia lagi. Cewek yang kudapat ini salah satu dari tiga
primadona sekolah. Ada tiga cewek yang dianggap paling cantik di sekolah ini.
Mereka adalah Cita, Nita, dan Vita. Entah kenapa semua cowok di sekolah
menganggap kalau mereka bertiga ini memang berbeda dari cewek lain. Dan uniknya
lagi, nama mereka yang hampir mirip, mereka jadi seperti bidadari turun dari kayangan
yang memang sudah ditakdirkan untuk menjadi tiga wanita tercantik di sekolahku
ini.
Cewek
yang menerimaku itu Cita. Menurutku dia yang paling cantik di antara mereka
bertiga. Yang membuatku jatuh cinta padanya adalah gigi kelincinya yang begitu
menggemaskan. Saat dia tersenyum, gigi kelinci yang terselip di antara dua
bibir mungilnya membuat hatiku cenat-cenut. Apalagi rambutnya yang pendek
sebahu, semakin membuat gadis itu terlihat lucu.
“Jadi
kita pacaran?” ulangku lagi.
Gadis
itu mengangguk pasti sambil tersenyum memamerkan gigi kelincinya. Aku semakin
terbuai dibuatnya. Cita lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Wajahku sontak
memerah seketika. Darahku terasa mengalir lebih deras dari biasanya. Walau
sekarang Cita memang sudah menjadi kekasihku, aku tak serta-merta bisa langsung
bersikap bak gentleman sejati. Karena
pada dasarnya aku memang pemalu, untung saja sekarang aku memiliki keberanian
untuk mengungkapkan perasaanku pada Cita.
Perlahan-lahan
aku mulai berani mengusap rambutnya dengan lembut. Aroma alami dari tubuhnya
membuat hidungku kembang-kempis keenakan. Terbayang hari-hari yang bakal
kujalani akan jadi lebih indah dengan adanya Cita. Ke sekolah bareng,
jalan-jalan pas malam minggu, nonton film berdua. Aku jadi senyum-senyum
sendiri membayangkan semua itu.
***
“Jadi
lo udah jadian sama, Cita?” Anto begitu terkejut ketika mendengar perkataanku.
Namanya
juga cowok, pasti suka pamer kalau dapat cewek, apalagi salah satu dari Big 3
sekolah.
“Pake
pelet apaan lo, bisa dapetin primadona sekolah?” komentar Handi kesal campur
iri.
Aku tersenyum
bangga mendengar ocehan teman-teman. Sambil sesekali ikut bersuara di sela-sela
siulan sumbang mereka. Jarang mereka memujiku seperti ini. Saat masih jomblo,
akulah yang sering menjadi bahan celaan. Namun, dengan primadona sekolah yang
kini menjadi milikku, sudah jelas siapa yang jadi juaranya.
Saat
itu, tiba-tiba Cita muncul di depan kelas. Sekarang memang sudah pulang, aku
pun langsung menghampirinya setelah beberapa saat aku sempat mengolok
teman-temanku. Cita langsung menggamit tanganku mesra. Jantungku kembali
berdegup cepat, tetapi berhasil kukuasai. Aku sempat melirik ke teman-teman dan
mendapati mereka yang tengah menatapku buas.
Aku
dan Cita tak langsung pulang. Kami duduk di taman sekolah menikmati senja
sembari merasakan kisah kasih di sekolah. Cita menyandarkan kepalanya di bahuku
sambil cerita permasalahannya hari ini. Mulai dari guru di kelasnya yang nyebelin,
tamu bulanannya yang terasa nyeri, adiknya yang sering buat dia kesel, dan hal
seabreg lainnya. Aku terpana mendengarnya. Banyak benar, ya, permasalahan yang
dihadapin cewek.
Meski
begitu, aku tetap suka mendengarnya. Karena saat Cita bercerita, dia selalu
melengkapi ceritanya itu dengan berbagai ekspresi. Apalagi saat melihat gigi
kelincinya, aku semakin terbuai dengan kemanisannya. Cita memang benar-benar
manis.
Sampai
akhirnya gadis itu mengeluarkan jeruk dari dalam tasn. Satu hal yang selalu
melekat dengannya, dia selalu membawa buah-buahan. Baik itu jeruk, melon,
semangka, dan buah lainnya. Pokoknya dia selalu membawa satu jenis buah setiap
harinya. Dan hari ini dia kedapatan membawa jeruk, dia langsung mengupas kulit
jeruk itu.
Aku
membuka lebar mulut ketika Cita hendak menyuapiku memakan jeruk. Seumur-umur,
baru kali ini aku disuapi wanita lain selain Ibu waktu aku masih kecil. Hal ini
tentu membuatku bahagia, momen ini seperti hal termanis dalam hidupku selama
ini. Cita menyodorkan tangannya memasukkan jeruk ke mulutku. Namun, begitu jeruk
itu menggelincir di lidah, keningku mengerut seketika. Rasanya benar-benar
masam! Berbeda sekali dengan bayanganku. Sepintas kukira itu jeruk manis, tetapi
rasanya sangat masam! Aku tak suka dengan rasa itu.
Namun,
sekuat tenaga kujaga mimik wajahku agar tidak terlihat seperti orang yang
sedang mensepah-sepah. Aku takut Cita akan kecewa dan malah ngambek. Setelahnya
dia kembali menyuapi dengan jeruk, aku hanya bisa pasrah menerimanya dengan
menahan rasa masam yang teramat sangat. Hal ini memang terlihat manis, bahkan
momen paling manis yang kurasakan di sekolah. Namun, rasanya itu yang membuat
kemanisannya hilang.
Tak
terasa aku sudah seminggu menjalin hubungan dengan Cita. Dan selama itu aku
harus dijejeli dengan seleranya yang masam. Aku benar-benar heran sekaligus
aneh dengan dia. Kenapa gadis semanis Cita malah memiliki selera yang begitu
tinggi dengan rasa masam? Terlebih, dari mana dia dapat melon yang rasanya masam?
Setahuku melon rasanya manis semua. Namun, gadis itu berhasil mendapatkan melon
yang rasanya masam, benar-benar langka.
Aku
sudah tak tahan. Jika lebih lama dari ini menerima buah yang rasanya masam
semua, mulutku tak kuat lagi. Terbesit keinginan untuk memutuskan hubungan
dengan Cita, tetapi masa baru satu minggu sudah putus, teman-teman pasti bakal
habis-habisan meledek. Tak apalah! Yang penting mulut ini tak lagi merasakan
rasa masam.
“Jangan
deh, nanti lo nyesel. Lagian selemah itukah pendirianmu sampai hanya hal kecil
itu membuatmu nyerah?” celoteh Yoga begitu mendengar penuturanku.
“Bayangin
aja, setiap hari gue dijejelin buah-buahan yang asem! Lo kira gue bisa tahan?”
“Ya lo
bilang aja kalo lo nggak suka sama buah yang rasanya asem!”
Aku
menghela napas sejenak. “Dia pasti ngambek, Yog. Elo sih belum pernah pacaran
sama primadona, jadinya nggak ngerti!”
Yoga
mendengus sebal. “Heh! Meski cewek gue biasa-biasa aja nggak nge-top kayak
cewek lo. Tapi dia tetep seorang primadona di hati gue.” Yoga menepuk-nepuk
dadanya.
Aku
mencibir. Sesaat kemudian aku mengeluarkan buku tulis hendak menulis surat
perpisahan kepada Cita. Aku tak berani memutuskannya secara langsung, takutnya
saat melihat reaksi gadis itu nanti. Apalagi kalau melihat gigi kelincinya yang
menggemaskan, bisa-bisa aku mengurungkan keinginan untuk mengakhiri hubungan
kami.
Sepulang
sekolah, aku mindik-mindik berjalan ke kelas Cita. Setelah melihat kelas itu
sudah tak ada penghuninya, aku masuk ke kelas itu dan langsung menyimpan surat
perpisahan untuk Cita. Aku mengelus pelan bangku itu sembari membatin, terima
kasih telah menerima dan menjadi cinta pertamaku, Cit.
***
Namun,
malang bagiku. Keesokan harinya, Bezo tampil di muka kelas sambil memberikan
kabar yang membuat anak-anak gembira termasuk aku. Bezo yang anaknya terkenal
tajir sekelurahan dengan rambut merahnya yang tergurai berantakan memberikan
pengumuman kepada anak-anak.
“Jadi
seperti yang elo-elo ketahui, dua minggu lagi Taylor Swift bakal tampil di Jakarta,
dan berbahagialah karena gue bakal kasih tiket nonton ke elo-elo secara
gratis!” Suaranya begitu membahana menyelimuti kelas. Anak-anak pun langsung
bersorak riuh dan mengelu-elukan nama Bezo. “Tapi dengan syarat ...” Bezo masih
asyik dengan pengumumannya. “Yang dapet tiket hanya mereka yang punya pasangan
alias pacar alias kekasih!”
Sialan!
Kok gitu amat? Diskriminasi ini namanya! Aku berusaha protes kepada Bezo.
Bagaimana pun juga aku ingin nonton konser Taylor Swift, kapan lagi gitu dia
datang ke Indonesia. Namun, Bezo tetap kuat dengan pendiriannya.
“Pokoknya
gue cuman ngasih tiket sama yang udah punya pacar!” tandasnya.
Aku jelas
kelimpungan sendiri. Kalau terus seperti ini bisa jadi hanya aku yang nggak
nonton konsernya Mbak Taylor. Karena di kelas sudah punya pacar semua. Jika
saja aku tahu seperti ini, aku tak akan mengakhiri hubunganku dengan Cita.
Terbesit keinginan untuk kembali merajut hubungan dengan Cita, tetapi
bagaimana? Dia sudah tentu kecewa kepadaku. Atau jika memang aku kembali
pacaran dengannya, apa aku akan tahan dengan selera masamnya?
Tapi
tak apalah, demi Mbak Taylor, aku siap menghadapi rasa semasam apa pun. Lagipula
baru kemarin aku mengirim surat perpisahan itu, barangkali Cita belum melihat
surat itu. Pulang sekolah aku bergegas menuju kelas Cita dan memeriksa loker
mejanya, tetapi sayang surat itu sudah hilang. Mungkin dia sudah membacanya.
Tubuhku lunglai seketika, konser Taylor Swift semakin jauh kugapai.
Begitu
aku berjalan di koridor, aku tak sengaja menoleh ke taman sekolah. Aku
mendapati Cita yang sedang duduk sendirian disana. Dengan jantung
berdebar-debar aku coba berani mendekatinya dan langsung duduk di sebelahnya.
“Hai,
mantan pacar,” sindirnya lembut.
Aku
tersenyum kaku. “Cit, maaf aku nggak maksud.”
“Nggak
maksud gimana? Kamu kan udah ngirim surat, jadi kita udah nggak ada hubungan
apa-apa lagi.”
“Cit,
sebenarnya,” ujarku pelan. “Yang nulis surat itu Yoga, bukan aku. Dia sengaja
pengen buat kamu putus sama aku.”
“Hah?
Drama macam apa lagi ini?!” Cita menoleh sebal ke arahku. “Kalo emang bener ini
tulisan Yoga. Mana buktinya?” Cita memperlihatkan surat tepat di hadapanku.
Aku
mengambil buku tulis dari dalam tas, dan langsung mencocokan tulisan dari buku
dan surat. Dan ternyata tulisannya benar-benar berbeda. Cita menatap tak
percaya.
“Gimana?
Kamu udah percaya?” kejarku. Cita diam tak berkata apa-apa. “Mau ketemu Yoga?
Biar kamu lebih percaya.”
Cita
mengangguk. Kami pun bergegas menghampiri Yoga yang sedang asyik main futsal di
lapangan.
“Iya,
Cit, itu gue yang nulis. Sorry, gue
cuman iri sama si sialan ini yang bisa dapetin cewek secantik elo. Sekali lagi sorry, ya, Cit,” aku Yoga tertunduk.
Cita
benar-benar tersipu, dia lalu menatapku dengan matanya yang berlinang. “Jadi
bener bukan kamu?”
“Aku
sayang sama kamu, Cit. Mana mungkin aku ninggalin kamu,” bisikku pelan di
telinga Cita.
Cita
langsung memelukku dengan erat. Aku tersenyum. Lalu memandang Yoga dan
mengacungkan jempol. Cita tidak tahu kalau memang aku yang menulis surat itu,
dan tulisan di buku itulah tulisan Yoga yang sebenarnya. Ini adalah rencanaku
agar kembali mendapatkan Cita dengan bantuan Yoga.
Yoga
mengedipkan sebelah matanya sembari memberi isyarat, jangan lupa honornya di-transfer
besok.
Aku
hanya mengangguk sambil cengengesan. Misi berhasil! Akhirnya aku bisa kembali
memiliki pacar dan tentu mendapat tiket untuk nonton konser Taylor Swift! Namun
seperti yang sudah kuduga. Setelah aku jadian lagi dengan Cita. Gadis itu tetap
menjejeliku dengan buah-buahan yang rasanya masam minta ampun! Aku benar-benar
tak kuat dengan rasa masam. Tapi apa daya, aku harus menjalani.
Demi
konser Mbak Taylor!
***
Saat
waktu yang ditentukan tiba. Aku dan teman-teman yang lain menghampiri Bezo yang
duduk paling belakang untuk menagih janjinya.
“Ada
apaan nih? Rame bener?!” Bezo begitu kaget ketika mendapati dirinya sudah
dikepung anak-anak layaknya buronan yang sudah mati kutu tertangkap aparat.
“Ayo,
mana janjinya? Konsernya besok, Zo!” kata Indri.
“Cewek
gue seneng banget waktu gue ajak mau nonton!” timpal Joni.
“Gue
juga udah balikan sama Cita!” tambahku mencecar Bezo.
Senyum
Bezo mengembang seketika. “Maksud kalian ini?” Bezo mengambil dua tiket dan
mengibas-ibaskannya. Anak-anak langsung histeris dan berebut mengambil tiket
itu, Bezo langsung menyimpannya. “Enak aja! Beli sendiri dong! Ini khusus buat
gue sama bebeb.”
“Hah?
Tapi lo kan udah janji mau kasih kita tiket.” Yoga heran melihat tingkah Bezo.
Bezo
bangkit dari duduknya dan mengeluarkan kalender mini dari saku, “Nih kalian
liat sekarang tanggal berapa.”
Anak-anak
termangu seketika, dan langsung menepok jidat begitu menyadari ketololannya
sendiri. Mereka begitu jengkel kepada dirinya sendiri karena tertipu
mentah-mentah oleh Bezo. Sekarang tanggal satu april!
“APRIL
MOP!!!” teriak Bezo girang setengah koit karena berhasil menipu anak-anak
sekelas. Dia lalu ngibrit keluar kelas dengan tertawa terkekeh-kekeh. “Udah
kalian nonton konsernya di teve aja, biar lebih afdol, ha ha ha.” Suara Bezo
terdengar samar dari luar.
Anak-anak
benar-benar jengkel kepada Bezo. Harapan mereka yang sudah diajak terbang
tinggi menuju langit, dihempaskan begitu saja oleh perkataan Bezo yang begitu
nyelekit. Mereka lalu berlari keluar kelas mengejar Bezo hendak meluapkan
kekesalannya.
Aku
sendiri masih mematung di tempatku. Bezo sialan! Sudah capek-capek menghadapi
Cita yang seleranya bikin lidah berkerut itu. Kini harapanku untuk bisa nonton
konser Mbak Taylor secara langsung sirna sudah.
Aku
melihat Cita di pintu kelas, tetapi tak apalah, setidaknya dengan kejadian ini
aku bisa kembali mendapatkan Cita. Namun, aku kembali terkejut ketika mendapati
Cita yang membawa jeruk ditangannya.

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN - Hal Manis Yang Tak Manis"
Post a Comment